5 Ciri Manusia Berkelas Internasional (International Class Person)


Total kunjungan 122 , Kunjungan hari ini 1 

Membaca ulasan Charis Hidayat, salah satu kandidat doktor Manajemen Pendidikan Islam tentang Word Class University yang berisi komentarnya terhadap proses Internasionalisasi lembaga pendidikan, mengingatkan saya kepada sebuah kutipan yang menyebutkan bahwa sebuah lembaga berskala internasional haruslah didirikan di atas pundak manusia yang berskala internasional pula. Mustahil sebuah bangunan yang berskala global dapat berdiri dengan ditopang sumber daya manusia yang berskala lokal an sich.
Pertanyaannya, bagaimana mengetahui seseorang apakah ia merupakan manusia dengan skala internasional ataukah berskala lokal? Setidaknya lima hal ini yang biasa saya gunakan sebagai kacamata untuk mengukur skala seseorang, apakah ia berskala lokal ataukah berskala internasional.


1. Menguasai Teknologi Informasi
Penguasaan Teknologi Informasi mutlak diperlukan bagi seseorang yang memosisikan dirinya sebagai manusia berskala internasional. Dalam era global, dunia bukan lagi diibaratkan sebagaimana kumpulan rumah dengan pagar besi menjulang tinggi, namun dunia teah menjelma menjadi sebuah desa besar (big village) yang tak bersekat (borderless). Adapun jalan untuk dapat mengetahui seluk beluk desa tersebut adalah melalui teknologi informasi. Tanpa pengetahuan tersebut, seseorang akan terjerembab pada ujung sempit dari sebuah peradaban. Bagaimana mungkin seseorang yang gagap teknologi dapat menjadi manusia berskala internasional?

BACA JUGA  Oligarki dalam Masyarakat Demokrasi


2. Aktif ber-Sosial Media
Salah satu implementasi dari penguasaan Teknologi Informasi bagi manusia berskala internasional adalah kemampuannya untuk mengaktualisasikan diri dalam sosial media. Sebagaimana kita tahu, sosial media telah menjadi sebuah dunia tersendiri selain dunia nyata. Tentu ini bukan berarti menegasikan keaktifan dalam dunia nyata. Seorang manusia berskala internasional wajib mengaktualisasikan dirinya dalam dua dunia tersebut, dunia nyata dan dunia maya. Di dunia nyata ia benar-benar ada bagi orang di sekelilingnya, dan di dunia maya ia benar-benar ada untuk orang yang memiliki hubungan dengan akunnya. Keaktifan ber-sosial media tidak hanya diukur dengan kepemilikan akun sosmed yang berjajar rapi di secarik kartu nama, tetapi juga dibuktikan dengan konten yang ada di sosial medianya. Seorang agamawan akan mengisi sosial medianya dengan dakwah yang mencerdaskan ummat. Seorang pebisnis akan membanjiri akunnya dengan layanan yang ia berikan.



3. Memiliki dan menggunakan referensi berskala internasional
Dalam sebuah kutipan, disebutkan bahwa manusia dapat dilihat dari apa yang ia baca. Kaitannya dengan hal ini, manusia berskala internasional tentu akan banyak membaca dari referensi yang berskala internasional pula. Ini sangat berkaitan erat dengan dua poin sebelumnya, dimana melalui kemampuan Teknologi Informasi dan keaktifan ber-sosial media, seorang berkelas internasional akan banyak belajar teori-teori baru seputar hal yang menjadi bidangnya, tentu dengan skala internasional. Dalam jejaring komunitasnya ia akan berdiskusi tentang berbagai hal yang memiliki cakupan global.

BACA JUGA  Fokuslah pada Proses



4. Memiliki jejaring berskala internasional
Masih berhubungan dengan beberapa poin sebelumnya, keaktifan diskusi berskala global dengan referensi internasional akan menjadikan orang tersebut memiliki jejaring yang berskala internasional pula. Ia akan terbiasa berkomunikasi dengan kawannya yang berada di luar negeri, untuk membahas isu-isu terkini seputar bidangnya. Jika ia seorang pebisnis, ia akan memiliki konsumen tetap sebagai mitra bisnis ekspor-impornya. Jejaring ini perlu untuk memantapkan posisi seseorang sebagai manusia berskala internasional. Tanpa ada jejaring ini, rasanya tak ada bedanya dengan orang lain yang berada dalam skala lokal.



5. Pernah berkunjung ke luar negeri
Meski tidak dapat dijadikan tolok ukur yang paten, setidaknya catatan kunjungan yang dimiliki seseorang menunjukkan dimana kelasnya. Seseorang yang pernah berkunjung ke luar negeri tentu memiliki pengalaman yang berbeda dengan orang yang belum pernah melakukannya. Tentu kunjungan ini bukan bermakna fisik semata.Betapa banyak orang yang pernah berkunjung ke luar negeri namun ia tidak belajar apapun terkait kunjungannya, serta tidak membawa perubahan dalam cara berfikirnya, sehingga kunjungan yang ia lakukan meskipun dilaksanakan berulang kali tetap saja tidak dapat menaikkan kelasnya. Walhasil ia masih saja menjadi manusia berskala lokal.

BACA JUGA  Perubahan dan Tong Sampah Peradaban



Lima hal tersebut di atas tentu bukanlah merupakan rumus kimia yang tidak dapat berubah sedikitpun. Seseorang yang berskala internasional bisa saja memiliki salah satu atau beberapa hal dari kelima poin tersebut. Atau bisa juga seseorang dianggap sebagai manusia berskala internasional dengan parameter lain selain kelima hal di atas. Para pembaca sekalian tentu lebih tahu parameter apa saja yang dapat digunakan untuk mengukur dimana posisi seseorang. Apakah ia berskala lokal, ataukah ia telah “naik kelas” menjadi manusia berkelas Internasional.

 

 

Salam

Komentar

komentar

Leave a comment