BANK INDONESIA, SIKAP “TENGAH” DAN IKHTIAR PENCARIAN IDENTITAS BARU


Total kunjungan 89 , Kunjungan hari ini 2 

Oleh : Mohammad Ikhwanuddin, S.H.I., M.H.I (Pendidik dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya)

Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memang memiliki jembatan sikap yang mendua. Satu sisi mengakomodasi bank konvensional yang lebih dahulu ada dan berkembang, namun di sisi lain, Bank Indonesia harus memeras otak agar pertumbuhan bank syariah –dengan segenap programnya- tidak menjadi layu sebelum berkembang.

Sikap “tengah” itulah yang kini hendak diterapkan oleh Bank Indonesia lewat serangkaian acara semisal ISEF (Indonesia Shariah Economic Festival) keempat pada 08-11 November 2017 di Grand City Surabaya nanti. Penulis sempat mengikuti salah satu serangkaian acara persiapan ISEF 2017 di Hotel Bidakara Fancy Tunjungan, Jl Tegalsari No.77-85 Tegalsari Surabaya, 25 Oktober 2017.

Ada sebuah pesan mendalam yang penulis refleksikan. Tentang sikap “tengah” yang perlu kita kembangkan dan terapkan dalam kehidupan, juga tentang (ekonomi) Islam yang tengah berjuang mencari identitas baru di era millenial.

Jalan Moderat di Sikap “Tengah”

Era modern saat ini sejatinya telah menafikan batas demografi, sekat teritorial, dan lapis ideologi. Modernitas kini ditandai –salah satunya- dengan perkembangan teknologi (informasi) yang kian cepat. Dunia pun menyatu, terpadu dan saling terkait. Dunia laksana Desa Global (Global Village), sebuah konsep yang pernah dikenalkan oleh Marshall McLuhan dalam karyanya Understanding Media : Extension of a Man sekitar Tahun 60-an.

Desa Global kemudian menjadi semacam pasar yang menyatu dan beradu, bersinergi dan saling bertaji dalam kompetisi. Semua hal, di berbagai lini, menjadi ajang perlombaan untuk menjadi yang terbaik, tercepat di bidang tertentu. Termasuk dalam bidang perekonomian.

BACA JUGA  Meneladani Sifat Pemaaf Rasul dan para Sahabatnya

Ekonomi, sebagaimana bidang yang lain, menjadi arena persaingan untuk menjadi yang terbaik. “ Persaingan” (dalam tanda kutip) antara bank konvensional dan bank syariah untuk memperebutkan modal dan konsumen menjadi hal lumrah yang tidak bisa terelakkan. Di situasi itulah, Bank Indonesia menempati posisi sentralnya, dengan satu tujuan utama yakni mencapai dan menjaga stabilitas nilai rupiah.

Stabilitas adalah kata kunci. Stabilitas merupakan keseimbangan dan kesetimbangan. Stabilitas mengimajikan posisi “tengah” dalam garis linieritas. Tak terlalu ke kanan, juga tak ke kiri. Tidak terlalu mudah terkerek naik, pun tak akan goyah terjun bebas ke bawah. Stabilitas, meski dinilai tetap, merupakan dinamisasi sebuah perubahan yang terkendali.

Posisi “tengah” ini merefleksikan sesuatu hal yang tengah terjadi di Republik Indonesia. Ekonomi, Politik, bahkan Agama (termasuk ideologi) menjadi “pertarungan” nyata perebutan untuk menggeser sikap “tengah”. Setiap masa akan selalu ada tarikan-tarikan untuk tidak menjadi “tengah” dan di sana pula muncul keunikan untuk menjadi “tengah”, yang akan menarasikan kondisi stabil, dinamis, serta menyuguhkan ruang harmoni di latar keberagaman.

Pada bidang pemikiran Islam, misalnya, sikap “tengah” akan memunculkan moderatisme. Sebuah sikap untuk terus menampilkan agama (Islam) secara adil dan berimbang. Sikap “tengah” tak akan menjebak pemeluk agama dalam doktrin radikalisme (artinya, geser ke kanan), pun tak akan terpesona dengan arus liberalisme (geser ke kiri).

Karakter umat tengah (ummat wasatan) pernah Allah firmankan dalam Surat Al-Baqarah ayat 143 :

“dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang tengah (umat yang adil dan pilihan).

BACA JUGA  Dosen FAI UMSurabaya Dukung Sosialisasi Uang Rupiah Tahun Emisi 2016

Kedua kutub dalam pilihan sikap “tengah” bukan dalam rangka membiakkan kemunafikan karena tak bersikap (ia laksana gerakan Non-Blok, yang sempat digagas oleh –salah satunya- Soekarno), namun sikap “tengah” justru menjadi stabilisator, katalisator dan dinamisator perubahan dari segala tarikannnya. Menjadi stabilisator memang tidak mudah, namun di situlah kita menjunjung tingga makna moderatisme dalam sikap “tengah”.

Shariah dan Pencarian Identitas Baru ; Catatan dari Pesantren

Dalam mewujudkan sikap “tengah” tersebut, Bank Indonesian turut pula mengajak diskusi 17 pesantren di Jawa Timur, sebagai peserta serangkaian ISEF 2017. Bertempat di Hotel Bidakara, diskusi yang dipandu oleh penulis kawakan Noor Syamsuddin Chatib berjalan lancar. Wakil dari pesantren dipandu untuk mendapatkan Tagline dalam mewartakan karakter dan keunikan pesantren.

Setiap pesantren memaparkan keunggulan pesantren masing-masing yang kemudian oleh Bang Syam, panggilan akrab Noor Syamsuddin Chatib, diracik dalam ramuan Tagline yang bernas. Memukau sekaligus mewakili. Saya kemudian terpesona dengan diksi Bang Syam yang mampu menampilkan –seakan menjadi- sebuah identitas baru.

Saya masih mengingat, bagaimana Bang Syams memunculkan Tagline Melayani itu Mulia, Bersih itu Berkah” untuk Pesantren Sukorejo, “Belajar Tanpa Henti, Berjamaah Menguatkan” untuk Pesantren Lirboyo, “Menggapai Cahaya dengan Cahaya” untuk Pesantren An-Nur 1, “Menggapai Potensi, Menebar Solusi”, untuk Pesantren Sidogiri dan beberapa tagline lainnya.

Ada semacam identitas baru yang dijadikan batu pijakan dalam narasi yang –akan- disampaikan oleh Bang Syam. Identitas baru, bagi kaum Santri, sebenarnya bukan hal yang diperjuangkan. Tapi sentuhan “identitas baru” terkadang dibutuhkan dalam rangka memberi “cover” yang baik untuk santri dan pesantren.

BACA JUGA  Tangkis berita Hoax dengan C&R

Saya teringat satu hal. Jauh sebelum para sejarawan menguak kembali eksistensi Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari, serpihan peristiwa heroik 10 November di Surabaya –yang kemudian menjadi memorial Hari Pahlawan-  tidak akan difahami dengan baik. Bahwa ada motivasi dan inspirasi kuat yang memandu masyarakat bergerak dan berjuang di Surabaya. Bertahun-tahun lamanya eksistensi “Fatwa Resolusi Jihad” tak terjamak dan dibiarkan laksana puzzle memori yang terpisah.

Kini, setelah para sejarawan membuka kembali keterkaitan “fatwa” dan peristiwa heorik di Surabaya tersebut, ada semacam “identitas baru” bahwa, sebagaimana bang Syam berkata, Republik ini (sebenarnya) dibangun dari pesantren.

Oleh karena itulah, memperbincangkan tentang Shariah dan Islam-Indonesia, peran pesantren tidak bisa dianggap sebelah mata. Pesantren menjadi Kawah Candradimuka santri dalam tempaan ilmu dan karakter. Dalam pesantren, ada mutiara yang perlu terus digali dan dilestarikan, ada basis karakter kemanusiaan dan keislaman di Pesantren, yang khas dan indigenous, yang perlu dikembangkan menjadi “identitas baru”.

Namun, tentu saja, di era milleniual seperti ini, “wajah” pesantren perlu dipermak, ditampilkan dengan paras yang lebih elegan. Keberpihakan, dan sikap “tengah” akan selalu dicari, dibutuhkan, dan –semoga- terus dijalankan dalam era milenial saat ini.

Berpijak pada hal itu, serangkaian acara ISEF (Indonesia Shariah Economic Festival) 2017 mendapati momentumnya. Ekonomi kreatif dan kemandirian yang tumbuh dan dikembangkan di pesantren, perlu mendapatkan tempat dalam arena perekonomian global. Pesantren perlu ditampilkan dan disuguhkan sebagai identitas baru karakter ekonomi (shariah) bangsa, selain keunggulan pendidikan alternatif tentu saja.

Sebuah identitas, yang memadukan karakter kuat Islam di pesantren dalam wajah global yang humanis, bersinergi dengan teknologi serta tetap menjunjung tinggi spritualitas. Kata terakhir, spritualitas, agaknya sesuatu yang mudah hilang saat seseorang berjibaku dengan “ekonomi”.

(Artikel ini pernah dimuat di Koran Bisnis Surabaya, Kolom “Sudut”, Edisi 336 tahun ke 06, 06-12 November 2017)

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment