Belajar dari Sepak Bola


Oleh : Bobi Puji Purwanto

Kompetisi sepak bola, beberapa waktu lalu menyuguhkan suasana yang begitu panas dan menegangkan. Seluruh mata masyarakat nasional maupun internasional terpusatkan pada momentum itu. Seolah-olah, sepak bola adalah olah raga fisik serta batin yang memiliki impresi tersendiri. Tak hanya membuat bangga pada saat custum andalannya menang, tetapi juga diklaim mampu menumbuhkan rasa optimisme tinggi setiap pencandu bola.

Estimasi, pekan lalu itu 2017, kompetisi Laliga Spanyol, Bundes Liga Jerman, Liga Primer Inggris, Serie A Italia, dan seterusnya, berlomba-lomba dalam melahirkan juara liga. Hasilnya, antara lain, bayer munchen menjadi juara bundes liga, real madrid juara laliga, juventus seria A, dan chelsea liga primer Inggris. Kemudian, masih banyak lagi club-club sepak bola lainnya yang menjadi juara di liga masing-masing negara. Baik liga lokal maupun ternama. Sangat seru!!!

Ditambah lagi, ketika melihat sengit dan panasnya liga terbaik Eropa yang digelar di Cardif Wales minggu 4 juni 2017 lalu. Liga Champions Eropa tepatnya. Liga tersebut mempertemukan Juventus dan Real Madrid sebagai 2 club terbaik yang mampu mencapai final. Sebelum itu, kedua club tersebut telah berjuang menempuh perjalanan panjang yang tidak mudah. Dengan mengalahkan club-club yang berniat menghadang laju mereka ke final. Lagi-lagi panas dan menegangkan.

Kawan, memang begitulah kompetisi sepak bola. Di mana tujuannya (capaian) adalah menang dan kalah. Juara atau tidak juara. Dapat piala atau tak dapat piala. Kalau ingin menang, maka mereka harus mampu menyingkirkan lawan-lawannya, sehingga tidak ada lagi pesaing yang menghalangi kemenangannya. Kuncinya, dalam permainan sepak bola, menjadi menang adalah dengan menyingkirkan lawan yang menghalangi. Dan, itu sangat wajar !!! Jika sudah menang, penggemar juga ikut senang. Hehehe.

Kemudian, kira-kira bagaimana ya kalau dalam kita menjalani kehidupan ???

Sederhana, saya akan berbagi dengan bersharing kepada kawan-kawan sekalian, begini. Sesungguhnya, bagaimana sih kita menjalani hidup ini? Lalu, pencapaiannya kemana? Jadi, saya berbicara soal proses dan tujuan. Hehehe, bolehlah ya. Bismillah..!!!

Sepanjang saya di lapangan, saya sedikit banyak dapat merasakan itu. Jadi, proses menjalani hidup itu sebaiknya bukan dengan mengalahkan satu sama lain. Atau jika memakai bahasa yang lebih ekstrem lagi itu menyingkirkan. Kita ini kan manusia. Dalam kita suci dinyatakan, bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Artinya, kita di bumi ini memiliki potensi memimpin. Salah satu substansi pemimpin adalah dengan merawat dan selalu memberi kenyamanan kepada sesama.

Contoh sederhana merawat. Sebagai manusia khalifah yang merawat, sepanjang saya belajar, ialah dengan tidak menebang pohon sembarangan, membuang sampah sembarangan, menggali kekayaan bumi dengan sangat berlebihan dan tak tau aturan, kencing dan buang air besar sembarangan, dan seterusnya yang orientasinya kepada menimbulkan kesengsaraan semua isi yang ada di bumi. Dan, sebaiknya kita harus merawatnya dengan baik segala apa yang ada di bumi. Itu merawat.

Lalu, manusia khalifah yang memberi kenyamanan. Biarpun sederhana, tetapi memiliki akal sehat. Tak usahlah kita selalu memfitnah sesama, menyombangkan diri demi satu hal tertentu, adu domba, mencela, berbohong, dan sejenisnya. Mari kita berlomba-lomba dalam hal memberi kenyamanan satu dengan lain, saling memberi kesempatan untuk belajar, dan terus-menerus berusaha dalam mendistribusikan kepositifan kepada semuanya. So, menjalani hidup dengan merawat dan memberi kenyamanan. Mungkin, khalifah ya begitu. Dan, masih banyak lagi yang lain.

Dengan proses hidup yang merawat dan memberi, sebenarnya itu sudah menang lho. Manusia tersebut sudah menjadi seorang yang berkarakter winner. Rhenald Kasali pernah bilang dalam bukunya ‘Self Driver’, bahwa “winner adalah orang yang cepat kaki dan ringan tangan. Ia tidak hanya bekerja dengan telunjuk dan pikirannya saja, melainkan juga dengan contoh, otot yang bergerak, dan siap membantu. Bila ada hal baru yang harus dikerjakan, atau ada kesulitan yang dialami orang lain, maka ia siap membatu. Dan, ia tidak perhitungan”.

Oleh sebab itu, memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya adalah kunci untuk mencapai tujuan hidup yang indah dan mulia. Indah dihadapan sesama makhluk hidup serta mulia dihadapan sang maha kuasa. Puncaknya ialah, kedekatan diri secara batin maupun fisik dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan oleh sang maha kuasa. Mari berproses dengan ikhlas dan sabar !!!

SalamAction

Komentar

komentar

Dibaca : 21,399 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
22 − 7 =