Berfikir Kritis dengan Eksepsi


Total kunjungan 95 , Kunjungan hari ini 1 

Salah satu penanda geliat keilmuan pada sivitas akademika adalah kemampuan dalam berfikir kritis. Kritis dalam artian, mampu menggunakan nalar objektif dalam memilah dan memilih informasi. Kemampuan ini tentu saja berperan penting dalam proses transfer of knowledge yang sedang dijalani.

Sebagaimana belajar, berfikir kritis pun diperlukan sebuah asahan yang rutin. Berlatih, dan menerapkannya. Ada sebuah kenangan yang tidak bisa saya lupakan dalam melatih berfikir kritis, yakni dengan eksepsi.

Secara tekstual, eksepsi merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, exception, berarti pengecualian. Saya terinspirasi eksepsi dari materi Qaidah Fiqh. Pada suatu semester, saya pernah belajar dan mengajar materi Qaidah Fiqh. Ada sebuah repetisi pola yang sering kali luput dalam pengamatan saya.

BACA JUGA  Guru dan Politik Praktisan di Ruang Kelas

Bahwa, pola materi Qaidah Fiqh adalah penegasan mengenai beberapa kaidah umum, yang mendasar dan pokok (biasa disebut qaidah kulliyah/asasisah). Kaidah umum tersebut kemudin diturunkan menjadi beberapa kaidah cabang (furuiyah). Dalam literatur yang lebih luas, baik merujuk pada kaidah umum maupun cabang, seringkali menampilkan preseden (contoh) eksepsi.

Eksepsi (dalam Bahasa Arab disebut Istisna) seringkali dipaparkan dalam jumlah yang banyak guna memberikan informasi mengenai adanya (beberapa) kasus yang memiliki kecenderungan berbeda, bertentangan, atau bertolak belakang dengan kaidah.

Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar al-Suyuti (w.911 M) dalam magnum opus-nya mengenai Qaidah Fiqh al-Ashbah wa al-Nadhair fi al-Furu’ banyak memaparkan beberapa eksepsi dalam ulasannya mengenai kaidah umum dan cabang dalam fikih.

BACA JUGA  BANK INDONESIA, SIKAP “TENGAH” DAN IKHTIAR PENCARIAN IDENTITAS BARU

Penyebutan dan penentuan eksepsi tentu saja tidak serampangan. Ada kajian yang mendalam, riset kasuistik yang parsial-komprehensif, serta legitimasi dan istidlal yang menyeluruh. Secara ringkas, menurut pengamatan saya, pelepasan sebuah preseden dari kaidah merupakan hasil dari berfikir kritis.

 

Dalam realita kehidupan, seringkali kita melewatkan latihan berfikir kritis ini. Mari mencobanya dengan misal berikut. “Bepergian ke Masjid” secara kaidah umum adalah perbuatan yang baik. Namun, jika ditelaah dengan berfikir kritis, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa “semua orang yang pergi ke Masjid adalah orang baik”.

 

Tentu kesimpulan umum tadi akan memunculkan eksepsi-eksepsi (mustasnayat) yang justru berkebalikan dengan kaidah umum. Orang yang pergi ke masjid dengan tujuan semisal ingin mengganti sandal, mencuri tas-hape-laptop, serta menebar kebencian dan fitnah antar sesama di masjid, tentu tidak bisa dimasukkan pada kaidah umum, “pergi ke Masjid bernilai kebaikan”.

BACA JUGA  Siapa Tahu Tafsirnya?

Dalam tataran yang lebih luas, berfikir kritis juga kan menukik dalam tataran diskursus am-takhsis (umum-khusus) atau dalam bahasa legal formal, pembahasan mengenai hukum dalam sisi hierarki dan kontradiksinya akan selalu bersinggungan dengan lex generalis dan lex spesialis.

 

Mari melatih berfikir kritis dengan eksepsi, dengan berupaya mencari ruang pengecualian yang bisa terambil atau diekspos dari sebuah kaidah-hukum yang umum.  Selamat mencoba.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)