BERISIK


Oleh : Hisyam Sidqi, Mahasiswa Fakultas Agama Islam UMSurabaya

Akhir-akhir ini, media sosial dipergunakan sebagai ajang koar-koar yang menyemarakkan berbagai hal yang kontroversial. Facebook, IG, Twitter dan Whatsapp menjadi media yang paling laris dalam berkoar-koar. Banyak orang menampilkan argumentasi terampuh mereka untuk berdebat.

Hari-hari ini kita disibukkan dengan berbagai perbedaan. Pada dasarnya, perbedaan itu sudah lama terjadi. Akan tetapi, kini media sosial sudah menjamur dan sangat mudah untuk diakses oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja, banyak orang turut memperpanas perbedaan tersebut. Seolah jabat tangan tidak bisa terlaksana lantaran perbedaan.

Jika status-status dan twit-twit itu dipersuarakan, maka akan jadi suasana yang berisik. Ya, masyarakat kita sekarang adalah masyarakat yang berisik. Ada hal sedikit yang berbeda saja kemudian diperbincangkan secara berlebihan. Efeknya memang ada baiknya, yakni semua argumentasi bisa dibaca dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, penyikapan terhadap perbedaan pendapat tersebut justru memperkeruh Ukhuwah Persaudaraan.

Perbedaan pendapat tersebut memang terus berlanjut dalam masalah-masalah yang lain. Persoalan keagamaan menjadi hal yang paling sering diperdebatkan akhir-akhir ini. Tidak hanya terkait soal keagamaan, kebijakan pemerintah pun banyak menjadi perdebatan.

Sebagian mendukung dan sebagian lainnya menolak. Hal itu kemudian diperdebatkan dengan serius dan saling menjelekkan orang yang tidak sepemahaman. Padahal, apapun hasil perdebatan di media sosial tidak mengubah kebijakan pemerintah. Tidak menjanjikan sebuah bukti yang nyata.

Semua pada berisik di media sosial, entah apa yang mereka dapatkan setelah berisik. Mereka menyiapkan argumentasi terbaik mereka, ada yang beristighfar, ada yang mengaku sok suci, ada yang sok pintar, ada juga yang prihatin, Semua ekspresi mereka ungkapan di media sosial.

Namun demikian, kewajaran perbedaan pendapat itu harus bisa ditoleransi adanya. Perbedaan pendapat yang memunculkan perdebatan itu memang berbahaya. Jika tidak disikapi dengan toleransi, maka tindak-tindak kekerasan bukan tidak mungkin akan lahir darinya.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya. Kini sedang Studi Doktoral (S3) Dirasah Islamiyah ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment