Fixed VS Growth Mindset


Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

Seperti biasanya, disela-sela kunjungan sekolah yang begitu indah dengan berbagai ilmu dan pengalamannya. Lalu, kemudian saya sempatkan untuk beberapa waktu melihat-lihat bagaimana kondisi sekolah tersebut, khususnya siswa-siswi yang ada pada saat itu. Di seluruh halaman sekolah tetap dalam suasana heterogen. Siswa diam, ngobrol-ngobrol, berlari-lari, mainan bola, membaca, menulis, bertatap muka dengan lain jenis, bercanda, dan seterusnya. Pemandangan yang membahagiakan bagi saya saat itu. Kebersamaan kuat dan menyejukkan antara murid dengan guru, murid dengan murid, sampai tukang pentol dengan guru dan murid. Sangat bermacam-macam, indah.

Tidak berjalan lama, tiba-tiba kebahagiaan itu menurun beberapa persen setelah saya melihat ada sesuatu yang terjadi pada peserta didik. Iya, ketika saya bertanya dengan salah-satu temannya, ia merupakan siswa yang sangat pintar di kelas. Ia kepala kelas dalam hal mengerjakan soal pelajaran. Nilainya bagus-bagus katanya. Semua temannya selalu bekiblat padanya. Publik figur mata pelajaranlah dia pokoknya. Jadi, saat itu ada guru yang menghampiri dirinya, menanyakan pekerjaan rumah padanya. Kata si guru, “Apakah soal yang saya berikan pada adinda (sebut saja gitu) kemaren sudah dikerjakan? “. Ia menjawab, “Belum pak”. Si guru, kenapa? Saut murid itu, “Karena soal yang bapak berikan itu sudah pernah saya taklukan, dan saya mendapat nilai baik, jadi ngapain dipelajari lagi, Pak”. Si guru, “diam saja”.

Sedangkan, ada temannya lagi yang ditanya sama guru yang sama. Tanya, “bagaimana PR mu?”. Jawab murid, “Sudah saya kerjakan pak”. Si guru, “betul begitu, dan kenapa”? Si murid, “betul pak, karena itu kewajiban dan saya harus terus belajar, Pak”. Si guru, “teruslah belajar”. Padahal, murid ini di kelasnya sangat terkenal lemah dalam mengerjakan soal. Ia begitu diremehkan sama teman-temannya. Nilainya jelek-jelek. Dan setiap saat ia mengerjakan soal, pasti selalu sendiri. Tidak ada teman yang mau bersamanya. Tapi bagi saya itu tidak penting. Yang terpenting ialah ia optimis untuk belajar. Karena menjadi orang genius itu terletak pada strategi belajarnya sampai dimana.

Siswa yang tidak mau mengerjakan tugas dari pendidiknya karena siswa itu merasa sudah pernah mengerjakannya. Ia merasa sudah mutlak bisa, tidak mau mempelajarinya lagi, dan merasa paling pintar, yang pertama. Kedua, siswa yang selalu tidak pernah menyerah dalam belajar menjadi lebih baik dan bijak. Ia menganggap bahwa belajar itu harus berkelanjutan, meskipun ia sudah pernah mempelajarinya.

Lalu, bagaimana yang harus kita lakukan?

Saya menemukan jawabannya, Carol Dweck (2006) seorang profesor yang aktif dalam bidang psikologi Stanford University, California Amerika. Ia pernah melakukan penelitian, membedakan dua tipe manusia. Mereka (siswa) yang merasa kecerdasannya sudah sempurna, disebut Fixed Mindset. Mereka cenderung tak memperbaharui diri, sulit menerima tantangan dan mengambil risiko, dan tak pernah mengulang-ulang pelajaran yang sudah pernah dipelajari. Kedua, mereka yang cinta berselancar di atas gelombang tantangan, tangkas mengambil keputusan, dan terus belajar dengan intensif, disebut a Growth Mindset.

Dua tipe manusia menurut Carol Dweck ini sangat kompleks maknanya. Karakter manusia yang ditinjau berdasarkan mindsetnya. Ia cara berfikir selesai sampai disitu saja (Fixed) atau tumbuh dengan terus belajar (Growth). Sebagaimana contoh siswa diatas, ia termasuk Fixed Mindset atau Grotwh Mindset? Baiklah, jawabannya ialah siswa pertama Fixed Mindset. Kenapa? Karena ia tidak mau mengasah otaknya lagi dengan mengulang-ulang pelajarannya. Ia berhenti sampai disitu saja, padahal dalam setiap pelajaran pasti ada teori yang tidak sama dengan penjelasan pendidiknya. Lebih tepatnya, melihat dari berbagai sisi. Ia cara berpikirnya selesai, meskipun nilainya baik. Sedangkan yang kedua, ia termasuk Growth Mindset, karena ia rajin belajar, cara berpikirnya selalu tumbuh dan berkembang. Ia tidak stagnand, ia ingin menjelajah kemana-mana. Ia akan menghancur penghalang yang akan merusak cara berpikirnya.
Sebagai calon pendidik khususnya, tentu harus memperhatikan Fixed Mindset and Growth Mindset. Sebab, ini sangat penting untuk digunakan sebagai penguat jalannya pembelajaran. Bukan hanya siswa saja yang mengalami Fixed and Growth, tapi guru juga. Misal, guru dengan Fixed Mindset, mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir siswanya. Sedangkan Growth Mindset mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha untuk mencapai kecerdesan (success). Guru dengan Fixed Mindset memiliki semua jawaban. Guru dengan Growth Mindset menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

Oleh sebab itulah, seorang guru dengan murid harus selalu bekerja sama dalam hal apapun. Pertumbuhan dan perkembangan seorang guru dan murid perlu adanya pengawalan satu sama lain. Guru yang menemukan siswa dengan cara berfikir Fixed Mindset tidaklah cukup hanya di beri bimbingan atau motivasi satu jam atau dua jam. Melainkan teruslah bangun kepercayaan pada mereka yang merasa dirinya pintar, atau bahkan berilah wahana riel lapangan yang melibatkan sikap dan intelektual mereka. Dan apabila guru menemukan siswa yang cara berpikirnya tumbuh (Growth Mindset), maka bimbingan juga harus selalu intensif. Karena tidak cukup pula jika guru hanya memberikan motivasi ‘kamu pintar’ dan ‘teruslah belajar’. Harus selalu dikawal.

Di sisi lain, murid juga demikian. Apabila menemukan guru dengan cara berfikir Fixed Mindset and Growth Mindset, maka sama, harus ada keberanian untuk mengajaknya sharing dan memberikannya semacam motivasi berkelanjutan. Tidak perlu kecil hati, pada hakikatnya guru dan murid ia mutiara pendidikan yang saling menyinarkan cahayanya. Tidak bisa dipisahkan. Dan selalu melengkapi. Apabila ini berjalan seimbang, saya berkeyakinan, bahwa pendidikan di Indonesia akan menemukan karakternya. Dan output yang dihasilkan juga akan sempurna.

Wallahua’alam.

Komentar

komentar

Dibaca : 2,059 pengunjung.