Fokuslah pada Proses


Total kunjungan 84 , Kunjungan hari ini 1 

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

“Fokuslah pada apa yang ada di depan kita sekarang, tetapi dengan kesadaran bahwa yang kita kerjakan ini sedang menuju pada suatu tujuan”. (Hasanudin Abdurakhman, doktor di bidang fisika terapan Tohoku University, Jepang)

Dalam sejarah kehidupan manusia yang melakukan perubahan besar (sukses) secara normal, tidak ditemukan manusia yang males-malesan, banyak tidur tidak pada waktunya, loyoh, dan pesimis. Yang ditemukan hanya orang-orang yang mau melepaskan selimut dan bangun dari tempat tidurnya. Kemudian, melakukan sesuatu.

Melakukan hal produktif serta menjanjikan. Langkah demi langkah ia lakukan dengan tidak mengabaikan kekuatan rasionalnya. Satu langkah dengan beribu pertimbangan matang, bukan seribu langkah dengan satu pertimbangan mentahan. Menikmati setiap rintik-rintik air dan seduhan angin dengan selalu bersyukur. Ya, itulah yang saya sebut sebagai fokus pada proses mencapai tujuan mulia.

Kita tentu pernah membaca cerita perjuangan manusia pertama yang menginjakkan kakinya di kutub Utara dan Selatan. Ia adalah Roald Amundsen seorang penjelajah dari Norwegia bersama timnya.

BACA JUGA  BANK INDONESIA, SIKAP “TENGAH” DAN IKHTIAR PENCARIAN IDENTITAS BARU

Dalam buku Dr. Yana Suryaman berjudul Great Leader, dikisahkan. Kutub Selatan ialah tempat terakhir di Antartika yang berhasil dijamah manusia. Musim panas di Antartika bersuhu -20 hingga -70 derajat celcius.

Waktu itu, pada tahun 1911 dua negara berusaha untuk menjadi yang pertama menancapkan bendera di kutub Selatan. Negara Inggris dipimpin oleh Robert F. Scott seorang angkatan laut. Sementar itu, tim Norwegia dipimpin oleh Roald Amundsen, seorang penjelah Antartika. Amundsen memiliki niat dan tekat kuat untuk menjadi yang pertama milihat tempat yang belum terjamah di muka bumi tersebut.

Ketika kedua negara itu sampai di Antartika, mereka segera membuat perkemahan dan mengatur perbekalan yang akan meraka bawa di musim panas selanjutnya.

Situasi di perkemahan Inggris, Scott memberlakukan formalitas yang ketat. Di mana Scott duduk di meja pemimpin, dan yang lain sebagai anggota. Gubuk dibagi 2 dengan sekat yang terbuat dari tumpukan kotak-kotak perbekalan. Pada satu sisi, dipakai para bangsawan dan pekerja kera putih. Di sisi lain, digunakan para pelaut dan pekerja. Para bangsawan bermain bola dan mendapat pelatihan sejumlah hal.

BACA JUGA  Ungkapan Cinta

Lain halnya dengan perkemahan Amundsen. Di tim Norwegia, setiap orang hidup bersama dengan suasana informal. Terasa sekali semangat urgensi dan fokus yang sama (pada proses perjalanan). Norwegia berencana untuk menggunakan 100 anjing untuk perbekalan, sehingga mereka terus menerus berlatih ski dan menggunakan bola salju.

Tim Norwegia berjalan lima hingga enam jam setiap hari. Ia selalu memotivasi timnya agar selalu fokus pada perjalanan dan membangkitkan semangat mereka yang nyaris putus asa. Ia duduk bersama anak buah untuk mencari jalan keluar di setiap rintangan. Berbeda dengan tim Inggris, mereka terus berjalan sepanjang hari. Mereka tidak pernah berhenti kecuali ada masalah yang serius.

Amundsen, selalu mengatakan “kita”. Ini bukanlah ekspedisinya sendiri, tetapi ekspedisi “kita”. Kita semua adalah rekan sekerja dan semuanya memiliki tujuan yang sama. Ia selalu menanamkan semangat satu sama lain.

Singkat cerita, Amundsen tidak saja membawa tim Norwegia sampai terlebih dahulu di kutub Utara dan Selatan, tetapi ia juga memimpin mereka untuk kembali ke perkemahan dengan selamat. Luar biasa.

BACA JUGA  Ayo, Perluas Penggorengan Ikan Kita

Kisah tersebut, memberikan hikmah mengagumkan pada kita, bahwa untuk mencapai tujuan tidak hanya sekedar yakin dengan tujuan utamanya. Melainkan harus diseimbangai dengan fokus pada perjalanan yang ditempuh kesana. Ilustrasinya begini, kalau kita mau pergi ke suatu tempat misalkan “Jombang” dengan waktu normal 1 setengah jam memakai kendaraan bermotor. Niat kita harus sampai Jombang pada jam yang dikehendaki, tidak peduli apa yang terjadi di perjalanan. Maka, apa yang terjadi? Kita bisa saja mendapat kejanggalan di perjalanan, entah masuk ke jalan yang berlubang atau tergelincir di jalan yang licin kerena tidak waspada dan berhati-hati. Fokus kita bukan pada proses, melainkan tujuan. Itu sebabnya.

Oleh karena itu, tujuan yang akan kita capai sebagaimana Roald Amundsen menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki bersama timnya di Kutub Utara dan Selatan, apabila fokus perjalanan selalu diperhatikan. Menumbuhkan semangat dan mental gempur dalam setiap masalah. Cara berpikirnya solutif. Jadi saran saya, tujuan menjadi niat utama, dan fokus menjadi pilihan berkendara di jalan.

Wallahua’alam

Komentar

komentar

Leave a comment