GHIBAH, PERUSAK SENDI MASYARAKAT


Oleh : Zahmavia Shomaroh Rizqy

Nabi Isa a.s. pernah bertanya kepada para pengikutnya, “Andai kalian melihat salah seorang salah saudaramu terbuka auratnya ketika tidak sadar saat tidur, apakah yang akan kalian lakukan? Kalian tutupi auratnya atau akan kalian buka sekalian biar telanjang bulat?”

“Sebagai orang yang waras, tentu akan kami tutupi agar auratnya tidak terlihat lagi, masa akan kami buka agar telanjang bulat?” jawab pengikut Nabi Isa a.s.

“Begitulah seharusnya orang yang beradab,” kata Nabi Isa. “Tetapi, mengapa apabila aib saudaramu terbuka, malah sering kali justru kalian beberkan? Bahkan, ditambah dengan membongkar aib-aibnya yang lain? Apakah hal itu tidak berarti sama dengan menelanjangi saudaramu sendiri di muka umum? Bila seseorang telah dibentangkan seluruh aibnya di muka umum, biasanya akan menjadi nekat dalam berbuat maksiat, serta akan malu untuk kembali kepada masyarakat yang sopan. Karena itu, janganlah suka membongkar aib orang lain, apalagi membeberkannya hingga meluas kemana – mana. Orang yang memiliki aib seharusnya diberi peringatan secara bijaksana agar mau bertaubat.” (Maghfirah Nurul, 2015 : 161)

“Al-Ghibah atau menggunjing dalam bahasa arab ialah menyebutkan kata-kata keji atau meniru-niru suara atau perbuatan orang lain dibelakangnya dengan maksud untuk menghinanya. Ghibah menurut istilah adalah membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya baik jasmani, agama, kekayaan, akhlak maupun bentuk lahiriyah lainnya.” (Kahar Masyhur, 1985 : 217)

Maka, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 11)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49 : 12)

Astaghfirullah, berdasarkan ayat tersebut betapa menjijikannya perumpamaan bagi orang yang melakukan ghibah. Ia diibaratkan memakan daging dari bangkai / jenazah orang yang menjadi obyek ghibah. Hal ini dikarenakan orang yang menjadi obyek ghibah tidak tau menahu kalau dirinya sudah dighibahi.

Kembali pada cerita sebelumnya, seseorang yang sudah dipojokkan, dibongkar aibnya di masyarakat, dipermalukan dihadapan teman, saudara dan tetangga, dan terus menerus digunjing dan dicemooh, apa yang akan terjadi? Seperti yang dikatakan Nabi Isa a.s., “bila seseorang telah dibentangkan seluruh aibnya di muka umum, biasanya akan menjadi nekat dalam maksiat serta akan malu untuk kembali kepada masyarakat yang sopan.” Yang terjadi adalah orang tersebut akan semakin menjadi-jadi polahnya. Ia merasa tak punya muka lagi. Akhirnya nekat untuk terus melakukan kemaksiatan yang sama. Toh semua orang sudah tahu keburukannya, keburukan yang menjadi trademark-nya. Jika ia berbuat baik, siapa lagi yang akan percaya? Bukankah keburukan sudah menjadi trademark-nya?

Dari sinilah kita akan mengetahui, bahwa bahaya ghibah sangatlah nyata bagi kita semua terutama jika sudah bermasyarakat. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan sifat dan sikap yang mengarahkan pada ghibah, tanpa mereka sadari, mereka merupakan salah satu penyakit kronis yang menyebabkan terpecah belahnya masyarakat, sahabat bahkan kerabat hingga pada titik akhirnya terciptanya rasa ketidakpercayaan antar sesama.

Dalam konteks ghibah, perlu diketahui bahwa seorang penggibah pastilah terdapat lawan berbicara atau kawan untuk saling memperkuat atas prasangkanya, sebab itu tidaklah mudah bagi kita untuk memilah dan memilih mana teman yang mampu mengajak kita kepada kebaikan atau malah menjerumuskan kita dalam lembah kehancuran. Sesuai dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim :

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberim minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

Perintah untuk mencari teman yang baik dan menjauhi teman yang jelek merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim muslimah, karna kebaikan seseorang dapat dilihat dari teman yang selalu bersamanya. Mencari teman yang baik bukan berarti kita tidak ingin berteman atau tidak peduli terhadap teman yang jelek, akan tetapi lebih baiknya menjaga pergaulan agar tak terpengaruh pada hal-hal yang mengundang kepada kemungkaran-Nya, satu diantaranya yaitu al-ghibah.

Maraknya perbuatan ghibah juga didukung oleh program televisi yang banyak membicarakan aib dari tokoh masyarakat seperti halnya selebritis, ulama, penjabat dan tokoh lainnya yang terkenal. Namun tidak hanya itu, banyaknya media massa yang ada saat ini seperti internet, koran serta majalah yang juga mendukung penyebarluasan perbuatan ghibah.

Tentang bahaya ghibah, dapat kita lihat dari dua sisi. Pertama, ghibah yang berkaitan dengan hak seorang hamba. Maka pertobatannya adalah dengan meminta maaf kepada orang yang di ghibah. Jika dirasa akan menambah masalah, maka cukup sekali saja ia meminta maaf dan tidak mengulangi lagi. Jika tidak, maka kelak di akhirat kebaikan yang dimiliki akan habis diambil oleh orang yang dighibah tersebut. Kedua, ghibah merupakan maksiat yang ringan dikerjakan dan terasa asik. Akibatnya dianggap sepele, padahal dosanya sangat besar disisi Allah. Oleh karenanya, ingatlah ancaman Allah dan sadarlah aib kita jauh lebih banyak.

Jika pun kita telusuri, ghibah adalah dosa besar lagi keji yang akan menghancurkan diri kita sendiri, dan diibaratkan pula dalam al-Qur’an seperti “memakan daging saudaranya sendiri”. Memakan bangkai saja sudah menjijikan, apalagi memakan bangkai manusia yang merupakan saudara kita sendiri. Sungguh orang yang digunjing (ghibah) dalam hal tertentu adalah orang yang beruntung karena mendapat pahala tanpa disangka-sangka dan dikurangi dosanya tanpa sadar.

Maka, berlindunglah kita kepada Allah Azza Wa Jalla dari sifat ghibah, mengolok-olok, dan mencaci maki antar sesama. Jika kita terus melakukannya, maka akan tercipta masyarakat yang sakit. Masyarakat yang sakit disini dalam artian yaitu masyarakat yang kehadirannya sudah tidak dapat diterima atau sudah tidak dapat dipercayai lagi baik ucapan maupun perbuatannya akibat ulah yang diperbuat oleh seorang pengghibah.

Adapun cara mudah atau trik agar diri terhindar dari bahayanya ghibah, yaitu dengan :

  1. Stop, jangan terpancing pada pembicaraan yang mengarah pada sifat atau perilaku orang lain. Dengan begitu anda mulai terhindar dari ghibah secara perlahan
  2. Latih diri berfikir positif, jangan terbiasa dengan pikiran negative terhadap orang lain, karena terlalu sering berfikiran negative juga sangat tidak diperbolehkan alias dosa
  3. Pakai dua kacamata / sudut pandang yang berbeda, satu digunakan untuk melihat kebaikan orang lain, sementara lainnya digunakan untuk melihat kekurangan diri sendiri
  4. Intropeksi diri, hal inilah yang sangat perlu dilakukan setiap saat. Karna dengan selalu berintropeksi diri, maka segala aktivitas yang kita lakukan dapat kita control dari hal-hal yang bersifat negative
  5. Perbaiki pergaulan, usahakan hindari diri dari teman yang sering berghibah
  6. Seringlah menghadiri majelis taklim, dengan begitu waktu anda sangatlah bermafaat dari pada digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain
  7. Ingat dosa dan bahaya ghibah, dengan begitu kita akan selalu berwaspada pada setiap ucapan yang akan kita lontarkan

Lisan adalah anugerah. Nikmat lisan merupakan nikmat yang sangat luar  biasa. Apabila anugerah ini tidak dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya maka akan menjadi bumerang bagi pemiliknya. Jadi, marilah kita menjaga lisan kita sebaik-baiknya. Pergunakan untuk kebaikan nasehat, dakwah dan hindarkanlah dari keburukan ghibah maupun fitnah.

Waallahu a’laam bishowab

 

Daftar Rujukan

Departemen Agama RI, Al-Hidayah Al-Qur’an Tafsir per Kata, PT. Kalim : Banten, 2011.

Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak, Kalam Mulia : Jakarta, 1985.

Maghfirah Nurul, 99 Fenomena Menakjubkan dalam al-Qur’an, Mizania : Bandung, 2015.

Tentang Penulis

Zahmavia Shomaroh Rizqy, lahir di desa Moronyamplung, kecamatan Kembangbahu – Lamongan, 22 Juni 1996. Anak ke dua dari empat bersaudara. Panggilan akrabnya Via atau Shomaroh. Ia berasal dari keluarga sederhana yang masih dibilang cukup dalam hal kebutuhan pendidikan dan kesehariannya. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya hanyalah seorang pedagang. Namun jiwa entrepreneur ayahnya sudah tumbuh ketika beliau masih menginjak usia ke 13 tahun.

 Pendidikan formal pertamanya bermula di TK ABA Muhammadiyah yang bertempat disebelah  rumahnya, pasca 2 tahun ia berlanjut di MI Muhammadiyah 2 Moronyamplung hingga lulus pada tahun 2008. Setelah itu ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di sekolah negeri yang jaraknya tak jauh dari daerah tempat ia tinggal, yaitu SMP Negeri 1 Mantup. Enam tahun setelahnya tepat pada tahun 2014 ia telah menyelesaikan studinya di MA Muhammadiyah 9 Lamongan sambil menyantri di sebuah Pondok Pesantren Al-Mizan milik lembaga Muhammadiyah sendiri, kemudian ia meneruskan kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan mengambil program studi S1 Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam.

Selama kuliah, ia tak hanya menuntut ilmu lewat bangku perkuliahan saja, akan tetapi ia mencoba mencari pengalaman secara out door melalui sebuah organisasi. Salah satu organisasi yang ia ikuti yaitu ortom dari kampusnya sendiri yang berbasis Muhammadiyah, sebut saja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau lebih dikenal dengan singkatan IMM. Kurang lebih 2 tahun diembannya, kini ia mendapat jabatan resmi sebagai Bendahara Umum di Pimpinan Komisariat IMM Al-Qossam (Fakultas Agama Islam). Sebelumnya ia juga pernah menjabat menjadi sekretaris di bidang perkaderan dikala masih mengikuti organisasi Ikatan Pelajar  Muhammadiyah (IPM).

Komentar

komentar

Dibaca : 20,828 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
11 − 4 =