Indahnya Toleransi Antar Umat Beragama


Total kunjungan 2,641 , Kunjungan hari ini 29 

“Sikap toleransi sangat dianjurkan bagi umat yang beragama, andai kata umat beragama tidak memiliki sikap tersebut, maka akan timbul diskriminasi antara kaum mayoritas terhadap kaum minoritas”

Oleh : Sri Wahyuni 

            Toleransi antar umat beragama sangatlah dibutuhkan di negeri ini. Mengingat Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, suku, ras dan agama. Sebelum membahas toleransi beragama, kita harus tahu dan paham arti dari kata toleransi. Toleransi adalah sikap  tenggang rasa, menghargai, membolehkan, membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal-hal yang tidak sependapat dengan kita tanpa melakukan diskriminasi ataupun intimidasi.

Toleransi dalam bahasa arab dikenal dengan istilah tasamuh artinya sama-sama berlaku baik, lemah-lembut, dan saling memaafkan. Toleransi dalam pandangan islam adalah sikap saling menghargai dan menghormati keyakinan dan agama orang lain, bukan menyamakan atau mencampuradukkan agama lain dengan keyakinan islam itu sendiri. Akan tetapi, sikap toleransi yakni membiarkan orang lain menjalankan ibadahnya menurut keyakinannya masing-masing. Konsep toleransi dalam beragama dalam islam yang paling penting adalah tidak bersikap sinkretisme artinya mencari kesamaan antara agama islam dengan agama lain sehingga timbul kesetaraan. Sikap inilah yang dilarang oleh Allah karena dapat menimbulkan syirik (menyekutukan Allah). Sebab dalam Al Qur’an Surat Ali Imran :19  sudah dijelaskan yang artinya “agama yang di ridha’i disisi Allah hanyalah islam”, firman Allah SWT yang lain dalam surat Al Kafirun 1-6 :

Artinya :

  1. Katakanlah (Muhammad),”Wahai orang-orang kafir!
  2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
  3. Dan aku bukan penyembah apa yang kamu sembah
  4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
  5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah
  6. Untukmu agamamu dan untukku agamamu

 

Asbabun Nuzulnya

Latar belakang diturunkannya surat al kafirun ini adalah karena ajakan orang – orang kafir kepada Rasulullah SAW untuk menyembah tuhan (berhala) yang mereka sembah. Mereka ingin mengajak Rasul dan para sahabat untuk menyembah Tuhan orang – orang musyrik mekkah dalam satu tahun, baru kemudian orang – orang musyrik akan menyembah Allah di tahun berikutnya. Dari peristiwa itu, kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjawab ajakan kaum kafir makkah tersebut.

BACA JUGA  Beasiswa Riset (Skripsi, Tesis, Disertasi) BAZNAS 2020

Kandungan Surat Al Kafirun

  1. Kebenaran hanya milik Allah
  2. Allah memberikan kebebasan memilih pada umat manusia, antara mau beriman ataupun ingkar. Karena Allah sudah benar-benar menjanjikan bahwasanya jika umat yang beriman akan mendapat balasan surga, dan apabila ingkar balasannya neraka

Perilaku yang tercermin dalam Surat Al Kafirun

  • Memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaram agama islam yang dianutnya
  • Tidak memcampuradukkan perkara aqidah dan ibadah
  • Bertauhid kepada Allah dan menjauhi perbuatam syirik
  • Beribadah dengan ikhlas dan benar sesuai tuntunan Rosulullah
  • Menghormati pemeluk agama lain dan tidak memaksakan agama kepada orang lain
  • Memberi kebebasan orang lain untuk memeluk suatu agama
  • Tidak mengganggu orang lain yang berbeda keyakinan ketika mereka beribadah
  • Saling menghormati antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yag lain. (PPT, Sri Wahyuni, Tafsir Tarbawi)

Konsep toleransi dalam beragama dalam islam yang kedua adalah tidak memaksakan agama islam kepada pemeluk agama lain. Contoh : memaksa seorang umat kristiani untuk memeluk atau menganut ajaran islam. Ini contoh kasus yang salah, sebab islam mengajarkan tidak ada paksaan dalam memeluk agama islam. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 256 yang artinya :

Artinya :

Tidak ada paksaan dalam masuk ke dalam islam, karena telah jelas antara petunjuk dari kesesatan. Maka barang siapa yang ingkar kepada toghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak pernah putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kandungan surat Al Baqarah 256 :

BACA JUGA  Pintar & Tangkas Saja Tidak Cukup !

Janganlah memaksa seorangpun untuk masuk islam. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua ajaran dan bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan seseorang untuk masuk ke dalamnya. Orang yang mendapat hidayah, terbuka, lapang dadanya, dan terang mata hatinya pasti akan masuk islam dengan bukti yang kuat. Dan barang siapa yang buta mata hatinya, tertutup penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk islam dengan paksa. (Tafsir Ibnu Katsir)

Konsep toleransi dalam beragama dalam islam yang ketiga adalah toleransi dalam hubungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang islam dianjurkan untuk berbuat adil  dan hidup rukun kepada non muslim selagi non muslim tidak secara terang-terangan menyatakan permusuhan kepada kaum muslim, artinya islam menganjurkan agar berbuat baik kepada kaum kuffar selama mereka sama-sama berbuat baik dan tidak memusuhi umat islam selama tidak melanggar ajaran dan ketentuan agama islam.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa toleransi antar umat beragama yaitu larangan mendiskriminasi agama orang lain dalam kehidupan umat beragama. Selain alasan diatas, kita harus punya kesadaran bahwa tujuan kita beragama sendiri ialah bukan untuk menindas orang lain atau kaum tertentu. Yang menjadi lawan ataupun musuh tiap agama bukanlah umat beragama lain melainkan setan.

Sikap toleransi sangat dianjurkan bagi umat yang beragama, andai kata umat beragama tidak memiliki sikap tersebut, maka akan timbul diskriminasi kaum mayoritas terhadap kaum minoritas. Kaum yang dianggap kecil akan di tindas baik secara fisik maupun non fisik.  Jika itu sampai terjadi terus menerus, maka banyak hal buruk yang akan terjadi seperti pertikaian antar pemeluk agama bahkan bisa memicu antar Negara. Kejadian seperti ini didasari beberapa hal :

  1. Perdebatan agama

Realitanya, kita hidup berdampingan dengan umat beragama lain di lingkungan kita. Biasanya, dibenak kita muncul suatu pemikiran dan bertanya –tanya apa yang mereka lakukan dalam beribadah. Kemudian akan timbul perdebatan kecil  yang kemudian terus berkembang dan tidak akan akan pernah selesai karena dasar yang di pegang berbeda.

  1. Salah Tafsir
BACA JUGA  Kemunduran Dalam Beretika

Banyak sekali perdebatan yang di mulai dari salah tafsir, sebab hal seperti ini lebih berbahaya. Oleh karena itu diperlukan tokoh agama yang baik dan benar untuk meluruskannya.

  1. Mudah Terprovokasi

Terkadang sekelompok orang yang mempunyai kepentingan, akan memanfaatkan keberagaman umat beragama untuk mencapai apa yang mereka inginkan sehingga timbullah pertikaian. (“Toleransi Umat Beragama”, Pendidikan Hidup Anak Muda, http://tommysatriyadi.blogspot.com) (diakses 24 Maret 2017)

  1. Para pemeluk agama tidak mampu menehan diri, sehingga kurang menghormati bahkan memandang rendah agama lain
  2. Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak lain, maupun antara umat beragama dengan pemerintah, dan
  3. Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat.

            Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hendaklah kita hidup bertoleransi terhadap agama lain seperti :

  1. Saling menghargai
  2. Saling menolong
  3. Menghormati orang lain pada saat melakukan ibadah
  4. Menghormati acara umat lain
  5. Tidak mengganggunya, tidak membuat kegaduhan dan berisik.
  6. Bisa menerima pendapat orang lain
  7. Menjaga Sopan Santun/etika
  8. Berteman dengan semua penganut agama (tidak memilih-milih teman)

Dengan begitu, sikap toleransi antar umat beragama akan terjalin. Sehingga tidak akan terjadi perpecahan dan dapat mempererat hubungan sesama manusia.

Daftar Rujukan

Al Qur’anul Karim

Ajat Sudrajat. Din Al Islam. Yogyakarta:UNY Press, 2008.

PPT Tafsir Tarbawi , Sri Wahyuni

http://tommysatriyadi.blogspot.com) (diakses 24 Maret 2017).

Biodata Penulis

Sri Wahyuni, lahir di Surabaya, 29 Februari 1988. Pendidikan Formal MI. Tarbiyatus Shibyan (1995), MTs. Sunan Ampel (2000), MA. Sunan Ampel (2003). Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (2014) semester 6 prodi Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) dan menjadi tenaga pendidik di RA. An Nur kecamatan Semampir Surabaya.

 

Komentar

komentar

Leave a comment