Isu Sara Membahayakan PILGUB JATIM


 

Sholihul Huda| Pengamat politik Univ. Muhammadiyah Surabaya/ Ketua Forum Komunikasi Dosen Jatim)

Pilgub Jatim mulai panas. Kontestasi antar kedua kandidat dan tim suksesnya mulai gencer dilakukan untuk mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat Jatim.
Menurut saya hal itu wajar dan memang harus dilakukan para kandidat, agar masyarakat Jatim tau program masing- masing kandidat. Dan agar para kandidat dekat dan paham dengan persoalan yang dihadapi rakyatnya. Sehingga masyarakat dapat menentukan pilihan dengan hati nurani dan rasionalitasya, bukan karena SARA (Politik Identitas) atau ” memilih kucing dalam karung” tapi “Politik Programatik”.

Menurut saya SARA ( Suku, Agama, Ras, Golongan) sebagai identitas politik adalah modal sosial yg dimiliki semua orang tanpa bsa meminta dan menolak, karena itu pemberian Ilahiya, sehingga tidak perlu dan layak untuk dipertentangkan atau dijadikan bahan buly politik untuk mendaptkn simpati kekuasaan.

Saya melihat, politik SARA ini sepertiya masih akan digunakan dlm pilgub Jatim. Hal itu tampak pada ramainya meme berbau SARA kepada kandidat Cagub di media sosial ( medsos). Saya berharap kepada semu tim sukses tidak memperluas dan memnfaatkn isu SARA sebagai alat mencapai kekuasaan. Kasihan rakyat Jawa Timur yg sangat toleran ini akan rusak dan mengobatiy sangat lama. Politik SARA akan sangat merusak kualitas demokrasi pilgub Jatim.

Kita berharap kepada semua elemen masyarakat, terutama para pemuka agama ( NU Muhammadiyah, MUI, LDII, FPI,dll) jawa timur untuk terus mengawal dan membentengi dan turut serta menjaga perhelatan pilgub jatim agar tidak di rusak oleh isu SARA, sehingga kita benar-benar dapat pemimpin jatim yg berkualitas dan merakyat.

/Sholihul Huda/

Komentar

komentar

Leave a comment