Kartini ; The Women with Ideas


Total kunjungan 61 , Kunjungan hari ini 1 

oleh :
Mohammad Ikhwanuddin dan Kharolina Rahmawati (orang tua dari gadis kecil nan jelita Melsa Anjani Mohammad)

Kartini adalah salah satu tokoh perempuan Indonesia yang hidup dan berjuang di zamannya, dengan cara yang bisa dilakukan Kartini. Cerita mengenai Kartini, dengan medium apa pun, adalah usaha “merawat ingatan” mengenai keteladanan seseorang dengan kontribusi yang diupayakan saat itu.

Saya mengkap kesan itu sejak scene pembuka Film Kartini karya Sutradara Hanung Bramantyo ini. Saya berterima kasih kepada organisasi The Initiative Networking yang telah mengajak Nobar (Nonton Bareng) film “Kartini” pada Kamis, 27 April 2017, Pukul. 19.15 WIB di XXI Galaxy Mall, Surabaya.

Setiap kisah keteladanan memiliki probabilitas diangkat dalam layar lebar. Bukan saja sebagai “media hiburan”, namun juga sebagai “merawat ingatan” bersama dan membaca serta merefleksikan kontribusi yang diperjuangkan.
(film) Kartini sudah memberikan itu.

BACA JUGA  Hujan, Petrichor dan Fiqihnya

Saya mulai menyadari bahwa kontekstualisasi peran perempuan pada khususnya, juga lelaki tentu saja, harus bertumpu pada kepedulian terhadap sesama. Di sinilah Tari, salah satu pengurus The Iniatiative Networking menegaskan.

Bahwa kepedulian-lah yang membuat Kartini membaca lingkungan. Membaca Masyarakat sebagai realita hidup yang terus berkembang. Oleh karenanya, kontekstualisasi peran perempuan akan berbeda di tiap zamannya.

Oleh karena itulah, kekuatan perempuan, sebagaimana dialog pengantar dari Bu Risma (Walikota Surabaya dengan segudang prestasi), adalah semangat perubahan. Maka kristalisasi harapan perubahan yang berkembang dari “Ide”, begitu pula dengan cita dan visi, akan selalu mendapatkan tempat lintas waktu dan masa.

Ide Kartini mengenai emansipasi, literasi dan bagian dari pergerakan nasional era kolonialisme, menurut CEO The Initiative Networking Erlangga pun tak akan lekang oleh waktu.

Hal lain yang bisa ditangkap dalam (film) sosok Kartini adalah keterbukaan berdialog dan selalu menjaga curiosity( rasa ingin tahu). Sikap keterbukaan berdialog akan memandu seseorang mampu menjalin komunikasi dengan orang lain, dan sifat ingin tahu akan memetakan jalan untuk merengkuh pengetahuan dan wawasan yang lebih besar dan luas.

BACA JUGA  Jomblo dan Arti Sebuah Peran

Kartini mengajarkan itu lewat dialog dengan orang Landi (Belanda) tentang perbedaan budaya, melalui dialog dengan Kiai Sholeh Darat ( tercatat dalam sejarah sebagai salah satu guru KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari) tentang makna Al-Quran, dan melalui dialog tentang sekat-sekat tradisi yang diugem (digenggam, dipercayai) saat itu.

Di sini saya mulai meyakini, bahwa urgensitas peran seorang manusia dalam hidup terkait dengan 3 hal. Yakni terkait dengan ide yang memuat keimanan dan semangat, dengan humanisme yang mengandung nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, serta curiosity (keingintahuan) yang membentuk pengetahuan dan wawasan.

Mengenai point yang ketiga, sebuah peribahasa lama menjadi penting. Curiosity killed the cat, yang diartikan bahwa rasa ingin tahu seringkali membahayakan terlebih sikap ini timbul dari seseorang yang ingin tahu pada sesuatu yang bukan (atau, tidak dianggap) “urusan”nya. Kartini, pernah dalam kondisi “bahaya”, minimal tidak menyenangkan, akibat rasa ingin tahunya melahirkan penolakan-penolakan.

BACA JUGA  Beragam Agenda Sambut “Word Space Week” 2018

Begitulah kontribusi yang dilakukan Kartini, perempuan dengan ide-ide. Begitulah “merawat ingatan” bersama yang diwujudkan melalui film ” Kartini”.

Akan tetapi, Kartini sebagai sebuah film, semestinya juga memberikan nilai ” fun” (kesenangan) sebagai media hiburan yang asyik, dengan kisah menarik yang tak monoton, alur yang memukau, untold stories yang bertebaran, hingga ending tak terduga yang memiliki “klimaks” menawan.

Pada poin terakhir ini, dari skala 1 sampai 10, saya memberi Film Kartini *nilai 6*. Entahlah, kurang bagus. Tapi tentu saya bukan (berprofesi sebagai) kritikus jempolan. Kalau menurutmu, bagaimana nilai Film Kartini?

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment