Kasus Ratna dan Sebuah Pembelajaran bagi Keluarga dan Masyarakat


Pipit Liana (Pemerhati Konseling Keluarga, Mahasiswa UMSurabaya)

Oleh Pipit Liana, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UMSurabaya

Kasus yang beredar di kalangan masyarakat saat ini dan paling banyak dibicarakan adalah terkait kasus yang dialami oleh Ratna Sarumpaet. Banyak media massa yang telah memberitakan bahwa dirinya telah mengalami pengeroyokan oleh sejumlah orang yang tak dikenalnya di Bandara Husein Sastranegara Bandung Jawa Barat pada 21 September 2018.

Atas pengakuannya tersebut, kasus Ratna banyak menyedot perhatian oleh kalangan masyarakat, baik dari kalangan pemerintahan atau maupun masyarakat umum. Hal ini dikarenakan karena Ratna adalah salah seorang aktivis sosial yang kebetulan menjadi salah satu ketua juru kampanye salah satu pasangan calon presiden 2019.

Pihak kepolisian bertindak cepat atas kasus yang dialami Ratna. Namun, pihak kepolisian tidak menemukan informasi terkait hal tersebut bahkan tidak menemukan saksi terkait hal yang dialaminya. Kondisi tersebut justru membuat Ratna mengaku bahwa dirinya telah berbohong di hadapan publik.

Atas perbuatannya tersebut Rakna dikenakan Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45A (2) dan atau Pasal 35 juncto Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kemudian dijerat Pasal 14 dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan diancam hukuman 10 tahun penjara.

Menurut saya, apa yang dialami Ratna berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi keluarga terutama pada anaknya di kalangan masyarakat.Bukan hanya dampak negatif bagi diri Ratna, sebagai ibu dan nenek dari anak-cucunya, cemoohan dan bulliying yang ditujukan ke Ratna memiliki imbas pada keluarga.

Kejadian seperti ini harus banyak diambil pelajaran dan hikmahnya. Sebagai sosok sentral di keluarga, Ratna tetaplah seorang ibu bagi anak-anaknya, dan nenek bagi cucu-cucunya. Ratna tetap memiliki hak untuk tetap dihormati.

Bagi masyarakat yang merasa kecewa pada kelakuan Ratna, adakalanya menahan diri untuk tidak larut dan terus-terusan mencerca Ratna, apalagi kepada keluarganya. Permintaan maaf memang telah dihaturkan Ratna, kendati itu tak menghentikan efek domino penyebaran hoax dan akibat hukumnya.

Keluarga yang terlanjur terkena imbas kasus Ratna, baik dari sisi hukum maupun psikologis, perlu menahan diri untuk tidak membalas atau merespons rudungannya. Tetap berbesar hati dan tetap menghormati orang lain, adalah cara terbaik untuk merespons keadaan.

Tetap bersabar dalam menghadapi ini semuanya. Kareana manusia itu sejatinya tak ada yang sempurna. Tiap ada kesalahan yang dilakukan, ada kesempatan untuk mendapatkan maaf dan ampunan. So, salah satu cara terbaik adalah tetap mendekat pada Allah agar senantiasa mendapat pertolongan untuk menyelesaiakan masalah keluarga, dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Begitulah esensi “Taubat” dalam Islam.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya. Kini sedang Studi Doktoral (S3) Dirasah Islamiyah ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment