Keluarga Teroris, Bukti Kongkrit Pentingnya Pendidikan Kekeluargaan.


 

Sejak Minggu (13/5) pagi, kota Surabaya dirundung duka, tiga gereja menjadi sasaran pengeboman. Menyusul ditemukannya bahan peledak di berbagai lokasi berbeda. Hingga Senin (14/5) siang, suasana mencekam masih berlangsung seiring pengeboman di kantor Polrestabes Surabaya dan penangkapan beberapa terduga teroris di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Salah satu hal yang tidak biasa terjadi dalam peristiwa ini adalah, pelaku pengeboman bunuh diri di tiga gereja pada minggu pagi saat jemaat gereja bersiap melakukan ibadah merupakan sekeluarga. Para pelaku terdiri dari ayah yang meledakkan diri di gereja Jl Arjuna, ibu dan dua utri kecilnya meledakkan diri di gereja jl Diponegoro, sementara anak pertama dan kedua menjadi pelaku di gereja Jl, Ngagel Madya. Mereka sekeluarga berbagi tugas untuk menyebarkan rasa tidak aman bagi masyarakat surabaya.

Keluarga Teror, foto:Tribunnews

Di sini, fungsi keluarga sebagaimana harapan al-Quran sama sekali tidak ditemukan. Q.S Ar-Rum 21 yang selalu diperdengarkan dalam setiap momentum pernikahan, menunjukkan dengan tegas jika fungsi pernikahan adalah “litaskunu ilaiha”, agar tercipta ketenangan. Sakinah sebagai keadaan dari kata kerja taskunu tersebut hanya akan terwujud apabila di dalam keluarga dipenuhi dengan mawaddah dan rahmah. Mawaddah yakni sebuah perasaan senang karena hal-hal yang bersifat ekstrinsik, dan rahmah yakni sebuah perasaan senang karena hal-hal yang bersifat intrinsik. Alih-alih menjadi sumber kedamaian, keluarga Dita Upriyanto, pelaku bom bunuh diri di Surabaya tersebut justru menjadi sumber ketidaktenangan masyarakat surabaya dan sekitarnya. Tentu kita tidak ingin fenomena keluarga yang seperti itu terjadi pada keluarga kita, maupun keluarga orang-orang di sekitar kita. Lantas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejauh apa keluarga memiliki peran dalam mencegah hal tersebut terjadi?

Keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat memiliki peran yang cukup penting baik secara internal kepada anggota keluarganya maupun secara eksternal kepada kelompok yang lebih luas. Secara internal, keluarga merupakan tempat berkumpulnya anggota keluarga sehingga arus informasi dan edukasi akan mudah mengalir apabila didiskusikan dalam internal keluarga. Secara eksternal, keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat memiliki andil untuk menciptakan kondisi yang baik pada masyarakat, tempat berkumpulnya beberapa keluarga menjadi satu. Kelompok-kelompok ini terus membesar dari kelompok masyarakat level lingkungan menjadi level desa, kabupaten, propinsi, negara, hingga menjadi level masyarakat dunia (World Society). Dalam persoalan pencegahan terorisme, sejatinya peran yang dimiliki oleh keluarga lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki oleh lembaga-lembaga yang bertugas mengedukasi pencegahan terorisme. Fakta di lapangan berbicara bahwa mayoritas pelaku terorisme terdiri dari tiga hal, yakni (1) kombatan perang luar negeri, (2) pemain baru yang terpengaruh pendidikan ajaran teror, atau (3) Narapidana kasus pidana yang kemudian beralih menjadi pelaku teror.

Bagi kombatan perang luar negeri, misal pelaku teror di Surabaya akhir-akhir ini, terungkap bahwa mereka baru saja pulang dari perang di Suriah. Mereka pulang dikarenakan keadaan di sana terdesak oleh pemerintah, sehingga mereka dipulangkan. Kabarnya, terdapat 500 orang kawan seperjuangan mereka berperang di Suriah yang pulang ke Indonesia. Ketika mereka pulang ke Indonesia, pilihan mereka untuk kembali tentu keluarga, (kecuali beberapa orang yang menyatakan benar-benar memisahkan diri dengan keluarganya). Di sini keluarga jelas punya tugas untuk meluruskan pemahaman mereka tentang makna perang, tentang ideologi Islam, dan tentang wawasan kebangsaan.

Bagi pemain baru hasil pembelajaran yang salah tentang ajaran perang, beberapa kejadian memang para peminang bagi pengantin tersebut tidak mau mengembalikan sang pengantin kepada keluarga. Mengapa? Karena mereka-pun yakin bahwa keluarga mampu berbicara dari hati ke hati untuk menyadarkan keluarganya tersebut agar segera terbebas dari pemahaman jahat yangselama ini dijejalkan padanya. Tidak sedikit kejadian orang-orang yang telah dipinang untuk menadi pengantin yang kemudian menggagalkan diri dari melakukan aksinya setelah mendapatkan masukan dari keluarga. Sedangkan kasus ketiga, narapidana kasus pidana yang kemudian menjadi pelaku teror, ini cenderung agak sulit dideteksi. Tidak sedikit kejadian dimana seseorang menjadi pesakitan karena melakukan tindak pidana tertentu, kemudian dalam tahanan ia bersosialisasi dengan napiter. Lambat laun ia banyak belajar dari napiter tentang tatacara membuat bahan peledak hingga akhirnya napiter mampu memasukkan pemikiran teror dalam pikirannya. Ketika ia keluar dari tahanan, ia bersikap biasa saja dan keluarganya-pun menganggap tidak ada yang berbeda. Tahu-tahu tak lama kemudian ia terlibat dalam sebuah aksi teror. Dari dalam, terlihat jelas bahwa keluarga memiliki fungsi yang cukup vital dalam pencegahan terorisme.

Peran keluarga tersebut akan lebih efektif jika didorong oleh berbagai hal yang dilakukan oleh pihak luar baik itu dari pemerintah, kelompok masyarakat, dan sebagainya. Bagi pemerintah, hendaknya mulai melirik peran keluarga untuk membantu mengatasi berbagai persoalan bangsa, salah satunya persoalan terorisme. Sebaiknya pemerintah mulai memberikan aturan yang tegas bahwa sebelum seseorang memutuskan untuk membangun keluarga, ia terlebih dahulu harus mengikuti serangkaian pelatihan yang diakhiri dengan uji kelayakan apakah ia mampu mewujudkan keluarga yang baik atau tidak. Materi pelatihan berupa fiqh munakahat, manajemen finansial keluarga, pengetahuan reproduksi, hingga wawasan kebangsaan. Hal yang terakhir ini sangat penting guna menjadikan keluarga sebagai basis pencegahan terorisme dan radikalisme yang dapat mengancam kedaulatan bangsa. Aturan-aturan yang mewajibkan Suscatin (Kursus Calon Pengantin) selama ini masih dianggap sebagai angin lalu dan sekedar formalitas untuk bisa menikah. Bahkan, di lapangan mayoritas pasangan tidak mengikuti pelatihan tersebut sebelum melangsungkan pernikahan. Akhirnya, berbagai persoalan muncul. Keluarga tidak mampu mengatasi persoalan yang datang di kemudian hari, mulai tentang bagaimana mengelola konflik, mengatur keuangan, hingga bagaimana menghadapi ideologi jahat yang mengajak untuk menghilangkan nyawa orang lain atas dasar sentimen persoalan tertentu. Dalam hal ini, usulan saya tegas dan jelas. Segera wajibkan kursus pranikah, dan berikan materi Wawasan Kebangsaan di dalamnya.

Selain itu, saatnya para peneliti bidang kekeluargaan untuk memperhatikan tentang fungsi keluarga dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Diskursus seputar kekeluargaan tidak hanya berkutat seputar fiqh munakahat, waris, talaq dan sebagainya, namun bagaimana peran keluarga dalam menyelesaikan persoalan yang riil bersentuhan dengan masyarakat dan keluarga mampu menjadi solusi untuk pencegahannya. Misal, bagaimana peran keluarga dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA, bagaimana perannya dalam pencegahan tindak terorisme, bagaimana sumbangsih keluarga dalam menstablkan ekonomi bangsa, hingga bagaimana peran keluarga dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

Salam.

 

GFPanjalu,

Pembelajar “Hukum Keluarga”

Komentar

komentar

Leave a comment