Kepedulian Sosial Perspektif Ilmu Sosial Profetik


Total kunjungan 110 , Kunjungan hari ini 2 

Apabila rasa peka (peduli sosial) itu telah hilang dalam diri manusia, maka manusia akan selalu mementingkan diri sendiri

Oleh : Ahmad Yusuf

Kepedulian sosial adalah sikap bertanggung jawab atas kesulitan orang lain dan terdorong untuk melakukan sesuatu untuk membantunya. Pada proses komunikasi sosial tumbuh rasa peka terhadap permasalahan masing-masing orang dalam mencari solusi. Kepekaan inilah yang menjadi bibit tumbuhnya rasa peduli antar sesama manusia, apabila rasa peka itu telah hilang dalam diri manusia maka manusia tersebut akan menjadi manusia pragmatis dan selalu mementingkan diri sendiri. Pada umumnya kesadaran untuk membantu orang lain adalah hasil dari nilai-nilai yang tertanam dari masyarakat baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat luas . Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita akan mandapati berbagai macam persoalan kehidupan entah itu bersifat materi ataupun yang bersifat non materi, tentu tidak semua orang bisa melaluinya dengan mudah, ada yang membutuhkan waktu singkat, ada yang membutuhkan waktu lama, bahkan ada pula yang terjebak dalam suatu masalah sampai tidak dapat keluar dari masalah tersebut, disinilah letak kepedulian sosial diperlukan, entah dari diri sendiri ataupun dari suatu golongan maupun kelompok.

Menggerakkan diri untuk memiliki kepedulian sosial memang di butuhkan niat ikhlas sebagai bahan utamanya, tetapi akan lebih baik jika dibekali dengan bahan-bahan yang lain, salah satunya adalah kesadaran, menurut Paulo Freire ada 3(tiga) macam kesadaran yang di miliki manusia yaitu kesadaran magis, kesadaran naïf, dan Kesadaran kritis, yang pertama adalah kesadaran magis, dimana semua permasalahan dalam kehidupan selalu di kaitkan dengan hal natural dan supranatural, contoh : ketika seorang petani di tanya kenapa dia miskin lalu petani itu menjawab karena takdir yang di berikan tuhan dan petani hanya bisa pasrah, maka petani tersebut bisa dikatakan masih memiliki kesadaran magis, yang kedua adalah kesadaran naïf , dimana semua permasalahan dalam kehidupan ini hanya di kaitkan dengan kemampuan seseorang tanpa ada hasrat ingin berubah, contoh: ketika seseorang di tanya kenapa kebanyakan petani miskin, lalu seseorang itu menjawab karena petani itu malas dan kurang giat bekerja, sungguh kasihan sekali nasib petani itu, berangkat ke sawah mulai dari menanam, memberi pupuk, mengusir burung, menyemprot pestisida dari pagi sampai sore terus bekerja dan masih dikatakan malas dan kurang giat, maka dapat di simpulkan seseorang yang menjawab tadi masih memiliki kesadaran naïf, lalu yang terakhir adalah kesadaran kritis, dimana seseorang yang memiliki kesadaran ini mampu memahami permasalahan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi, unsur-unsur yang menyebabkan masalah itu terjadi sampai menawarkan solusi–solusi alternatif dari suatu problem sosial, contoh: ketika di tanya mengapa petani miskin maka seseorang yang memiliki kesadaran kritis akan menjawab bahwa ada system yang membuat si petani miskin, salah satunya adalah sistem tengkulak, dimana para tengkulak-tengkulak ini membeli hasil panen petani dengan harga murah, dan menjualnya dengan harga mahal di pasar, sehingga petani hanya bisa bertahan dengan kemiskinan tersebut dan solusinya adalah mengganti sistem tengkulak dengan membangun koperasi dimana hasil panen dapat di jual dengan harga layak, dan mampu mensejahterakan hidup petani. Memang tak banyak orang yang mengerti akan kesadaran ini dan memang bukan kewajiban untuk memahaminya tetapi kesadaran ini adalah senjata yang mampu menyelesaikan permasalahan sosial sampai ke akarnya, dan inilah yang disebut kepedulian sosial non materi.

BACA JUGA  Pembukaan Praktikum Pengadilan Agama Serentak di 2 Kota

Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dimana Allah selaku Tuhan yang Maha Esa menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lain. Islam juga merupakan agama yang sangat menghargai proses, menghindarkan pemeluknya dari sifat pragmatis yang tak peduli orang lain dan mementingkan diri sendiri. Dalam islam sifat kepedulian antar sesama manusia sangat di anjurkan, bahkan islam juga mengonsep agar manusia yang memeluknya menjadi manusia ideal dan umat terbaik, semua itu di tulis dalam Al Qur’an surat Al-Imran ayat 110 yang artinya:

“kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,, menyuruh pada yang ma’ruf(kebaikan), dan mencegah dari yang munkar(keburukan), dan beriman kepada Allah”

            Menurut hemat penulis, ayat di atas merupakan dalil dari alquran yang dirasa tepat meggambarkan tentang kepedulian sosial, tepatnya adalah “Ilmu Sosial Profetik” yang di gagas oleh Kuntowijoyo, profetik merupakan sifat kenabian yang bertujuan untuk merubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik menurut islam, serta merubah individunya menjadi semakin bertaqwa atas apa yang di perbuatnya. ilmu sosial profetik merupakan ilmu yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi juga memberi petunjuk kearah mana tranformasi (perubahan) itu dilakukan berdasarkan cita-cita masyarakat ideal yang di idamkan. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, hal. 87) Ada 4 (empat) yang tersirat dalam ayat di atas, (1) konsep tentang umat terbaik, (2) aktivisme sejarah (3) pentingnya kesadaran (4) etika profetik.

  • Konsep tentang umat terbaik, umat islam akan menjadi umat terbaik apabila melakukan 3(tiga) hal dalam ayat tersebut (menyeru pada kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah), karena islam merupakan agama yang mengajarkan pemeluknya untuk bekerja keras dan melakukan proses, apabila dilaksanakan, maka tidak dipungkiri konsep tentang umat terbaik akan terwujud
  • Aktivisme sejarah, bekerja di tengah-tengah manusia menjadi sesuatu yang ideal untuk menjadi salah satu keterlibatan umat islam dalam sejarah
  • Pentingnya kesadaran, umat islam paham bahwa kehidupan ini tak lepas dari nilai-nilai illahiah (ma’ruf, munkar, iman), dalam etika materialistis, manusia di ajarkan bahwa yang merubah kesadaran di tentukan oleh basis sosial dan kondisi material hal ini bertentangan dengan islam, karena yang menentukan kesadaran bukan individu tetapi Tuhan.
  • Etika profetik, ayat ini berlaku umum, untuk siapa saja baik indidividu, lembaga maupun kolektivitas, melambangkan ilmu sebagai salah satu dari pengalaman, penelitian dan pengetahuan. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, 92)
BACA JUGA  (Revisi)Jadwal Ujian Seminar Proposal Prodi PAI Ganjil 2018-2019

Ilmu sosial profetik mempunyai 3(tiga) unsur dalam gerakannya yaitu amar ma’ruf (Humanisasi), nahi munkar (Liberasi) dan tu’minuna billah (Transendensi)

  • Amar ma’ruf(Humanisasi), dalam dunia ini ada yang namanya dehumanisasi (tidak memanusiakan manusia) contoh kecilnya adalah ketika teknologi yang menggantikan kinerja manusia, memang lebih efisien dan cepat tentunya, tetapi itu akan mengurangi jumlah pekerja dan menambah jumlah pengangguran, contoh lainnya adalah pendidikan, banyak manusia di Negara ini sulit bahkan tidak bias mendapat pendidikan(formal, nonformal ataupun informal), manusia bisa dikatakan manusia ketika dia mampu menggunakan 3 (tiga) unsur dalam dirinya, yaitu ruh, jasad dan akal pikiran, jasad dan ruh sudah pasti digunakan sebagaimana fungsinya, tapi bagaimana dengan akal fikiran, ketika manusia tidak di beri pendidikan dikarenakan biaya yang mahal, kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan serta system ekonomi yang memiskinkan, otomatis akan membuat akal fikirannya tidak berfungsi secara maksimal hal itu yang di sebut tidak memanusiakan manusia, maka dari itu humanisasi muncul sebagai konsepmemanusiakan manusia
  • Nahi Munkar (Liberasi), di artikan sebagai salah satu upaya pembebasan manusia dari materialistis, pembodohan, kemiskinan, kejahatan teknologi dan lain sebagainya
  • Tu’minuna billah (Transendensi), ketika humanisasi dan liberasi mengurusi interaksi antara manusia dengan manusia lainnya, maka transendensi (cara berfikir tentang sesuatu yang tak tampak) lebih tertuju pada keyakinan akan Allah, manusia butuh tempat bersandar dan berkeluh kesah selain pada sesama manusia
BACA JUGA  Tanggung Jawab Moral dalam Penggunaan IPTEK

Ilmu sosial profetik bukan hanya sekedar ilmu yang di tujukan agar sesama manusia mampu menghadapi masalah yang ada tapi juga mengajarkan tentang keimanan dan ketaqwaan seorang hamba, hingga tercipta keseimbangan kehidupan. Dengan semua cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah, semua itu hanyalah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan ketaqwaan kepada sang pencipta, hasil dari usaha kita hanyalah Allah yang dapat menentukan. wallahu a’lam bisshowab

DAFTAR RUJUKAN 

Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu. Tiara Wacana, Yogyakarta, 2006.

BIODATA PENULIS

Achmad Yusuf, dilahirkan 22 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 9 April 1994 di kota apel Malang Jawa Timur dari pasangan bapak Purwanto (Alm) dan ibu Sukarmiati, pada umur 2 tahun pindah ke Surabaya dan menempuh pendidikan dasar di MI Muhammadiyah 25 Surabayapada tahun 2000 dan lulu pada tahun 2006, melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 15 dan lulus pada tahun 2009 selama di SMP mengikuti Organisasi kesiswaan bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai anggota bidang Study Dakwah Islam (SDI) pada tahun 2006-2007, dan pada tahun 2007-2008 menjabat sebagai ketua bidang SDI, lalu menempuh Pendidikan tingkat menengah atas di SMK KAL (Khusus Angkatan Laut) 1 jurusan Tekhnik Kendaraan Ringan dan lulus pada tahun 2012, kini menempuh S1 di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fakultas Agama Islam,Program Studi Pendidikan Agama Islam semester 6, aktif dalam organisasi kampus Himpunan Mahasiswa (HIMA) PAI, serta organisasi non kampus yaitu Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Surabaya sebagai Ketua Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO).

Komentar

komentar

Leave a comment