Kerendahan Hati Seorang Abu bakar As-Shiddiq


Oleh : M. Adwaul Haq

Sebuah kisah dari khalifah pertama yakni, Abu bakar as-siddiq, yang mana menceritakan tentang kerendahan hati seorang sahabat rasul ini. Sebelum menjadi khalifah, Abu bakar Ra telah terbiasa memberi pelayanan-pelayanan terhadapp penduduk di lorong-lorong. Di antara tetangganya, terdapat wanita-wanita tua yang telah menjadi janda di sebabkan kematian suami mereka, atau yang gugur sebagai syuhada fi sabilillah. Terdapat pula anak-anak yatim yang telah kehilangan bapak mereka.

Abu bakar biasa mengunjungi rumah para janda dan memerahkan susu domba mereka. Di kunjungi pula rumah anak-anak yatim buat mengolah dan memasakan makanan bagi mereka. Setelah menjadi khalifah, sampailah ke telingahnya keluhan dari wanita-wanita tadi, bahwa sejak itu, mereka tidak memperoleh pelayanan istimewa lagi darinya. Namun, pada suatu hari terdengar ketukan pada salah satu rumah milik wanita tadi. Dengan bergegas seseorang anak gadis kecil datang membukakan pintu. Baru saja pintu itu di buka, ia pun berseru, “ wahai ibu, di luar ada pemerah susu kita. “Ketika ibunya datang, terkejutlah ia, karena di depan matanya, berdiri seseorang khalifah besar. Sang ibu pun berkata kepada putrinya dengan rasa malu, “ hai nak! Kenapa tidak kamu sebutkan khalifah Rasullah! Abu bakar pun berkata, “ biar saja, tak apa-apa. Sesungguhnya ia telah memanggil nama saya dengan pekerjaan yang paling saya suka di hadapan Allah“ (Abu dzikra dan Sodik hasanudin, 2013:107-108)

Itulah sepenggal kisah dari khalifah Abu bakar walaupun,dia adalah seorang khalifah yang kedudukannya tinggi darisiapun. Tapi,dia tidak segan-segan untuk melakukan pekerjaany ang tidak biasanya dilakukan oleh seorang khalifah. Dan dengan sikap yang dicontohkan beliau selayaknya ditiru oleh semua kalangan, baik itu pemimpin negeri ini sampai kita yang sedang membaca tulisan ini. Kenapa kita dianjurkan untuk bersikap tawadhu’atau rendahhati.?karena dengan bersikap tawadhu’ ini kita akan terhindar dari sikap takabbur atau sombong, merasahebat, merasa lebih pintar, merasa kedudukan lebih tinggi dan lain sebagainya.Olehsebab itusikap ini harus di tanamkan kepada semua masyakat, khususnya bagi generasi sekarang ini.

Moralitas merupakan suatu ciri manusia yang tidak dapat di temukan pada makhluk selain manusia. pada tahap hewan tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan dilarang, tentang yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan. Hewan tidak mempunyai keharusan, sedangkan manusia mempunyai keharusan moral sebagai kewajiban dan etika sebagai tata nilai dalam berinteraksi. Kewajiban dikhususkan untuk keharusan moral yang di dalamnya terkandung muatan etika, nilai etika, dan etika sebagai tata nilai yang di wujudkan menjadi moralitas manusia. Lebih dari itu, etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral manusia dengan menggunakan berbagai pendekatan dan strategis yang menggambarkan komitmen dan integritas pribadi seseorang yang bermoral dan beretika yang tumbuh menjadi peristiwa rohani yang terjadi dalam kalbu atau ruhani yang berujung pada keputusan batin dan bertanggung jawab atas keputusannya (Syaiful sagala, 2013 : 1)

Aristoteles memaknai karakter yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain. Kehidupan yang berbudi luhur termasuk kebaikan yang berorientasi pada diri sendiri ( seperti kontrol diri dan moderasi ) sebagaimana halnya dnegan kebaikan yang berorientasi pada hal lainya (seperi kemurahan hati dan rendah hati) dan kedua jenis kebaikan ini saling berhubungan. Seseorang perlu mengendalikan dirinya sendiri, keinginan dan hasratnya, untuk melakukan hal baik bagi orang lain, kemampuan mengendalikan dirinya sendiri adalah bagian dari kecerdasan, yaitu yaitu melakukan suatu tugas secara cermat, tepat dan cepat dengan menunjukan perilaku tertib, memiliki etika dan moral yang beertindak dan berperilaku mulia (Syiful Sagal, 2013 : 305)

Karakter merupakan ciri khas seseorang atau kelompok orang yang mengandung nilai kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Adapaun pendidikan karakter dimaknai sebaga pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan pederta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik, mewujudkan dn menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati dalam bermasyarakat maupun berbangsa. Melalui proses pendidikan perlu di rancangdesain pembelajaran yang memuat penyadaran akan pentingnya pembangunan karakter dalam dirinya yang menjadi bagian dari kararter bangsa ( Syaiful Sagal, 2013 : 311)

Dewasa ini membangun karakter amat penting ditekankan bagi semua kalangan. Baik itu dari lingkungan keluarga, sekolah, kampus, maupun masyarakat. Karena moral remaja kian hari kian merosot. Anak kurang ajar tehadap orangtua, murid kurang ajar terhadap guru,mahasisawa kurang ajar tehadap dosen. Itulah beberapa contoh dari krisis moral yang ada di negara kira dalam hal akhlaq. Sekarang pertanyaan-nya adalah. Siapa yang salah atas semua ini?,apakah semua ini kita salahkan semua kepada para remaja?. Jawabanya,adalah tentu tidak. Karena remaja adalah generasi yang baru tumbuh untuk belajar. Seperti seorang petani yang baru mulai menanam padi disawahnya. Setiap hari harus menjaga padinya dari serangan hama yang bisa merusak padi tersebut. Sama halnya dengan pertumbuhan remaja yang didalam pertumbuhan itu, diperlukan bimbingan dari semua kalangan. Baik itu orangtua,guru,dan masyarakat tentunya.Bisa di bilang itua dalah sebagai elemen pendukung dalam memberikan suri tauladan yang baik kepada mereka.

Agar remaja tidak melenceng dari perbuatan yang merusak moral mereka. Tidak bisa dipungkiri jikaa daseorang ayah yang kerjaannya kewarung kopi pasti anaknya akan meniru apa yang dilakukan oleh si ayah yakni sering kewarung kopi.Coba saja si ayah tersebut sering-sering kemasjid. Anaknya pun akan mencontohnya. Itulah pentingnya suri tauladan yang baik. Dan sebaik-baik suri tauladan adalah nabi muhammad. SAW.“Sesungguhnya telah ada pada diri RasullahSAW itu uswatun hasanah(suri tauladan yang baik)bagimu(yaitu )bagi orang yang mengharapkanr ahmat Allah SWTdan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT“ (QS.AL-AHZAAB:21 ).

Tawadhu’adalah rendah hati,tidak sombong. Merasa bahwa dirinya tidak memiliki nilai lebih dibandingkan dengan orang lain.Dan sifat ini bisa menghindarkan kitadari sifat takabbur (sombong ),dan sum’ah (melakukan amalan yang ingin di lihat orang lain). Orang yang bersikap tawadhu’ dia akan selalu berpikir bahwa kenikmatan yang ia dapati ni sepenuhnyaberasal dari Allah SWT. Segala potensi yang ada pada dirinya, prestasi yang gemilang,hartayangmelimpah,bahkanwajahyang tampan.Tidakakanmembuatdirinya merasamenjadiorangyanglebihbaikdaripadayanglain.Tidakterbesitkesombongan yangada pada dirinya karena dari awaldirinya sudahditamengi dengansifattawadhu’atau rendahhati.

Dengan bersifat rendah hati, naiklah derajat manusia di dunia dan akhirarat. Maka, hendaklah kita mewajibkan atas dirimu akhlak yang mulia ini. Nabi saw bersabda : “Apabila hamba berdikap rendah hati, Aallah mnganngkat ( derajatnya ) sampai langit ke tujuh “Selanjutnya beliau bersabda : “sifat rendah hati itu hanyalah menambah kemuliaan manusia, maka bersikaplah rendah hati, semoga Allah merahmati kamu. “Apabila manusia mengenal dirinya dengan sebenar-benarnya, maka tahulah dia, bahwa dirinya rendah dan hina serta tidaklah layak baginy, kecuali bersifat rendah hati.Dia pun akan mengenal Allah yang maha tinggi dan maha besar serta hanya Allah ta’ala sajalah yang patut memiliki keagungan dan kesabaran ( Umar Baradja, 1993: 85-86 )

Rasullah SAW bersabda dalam hadisnya,yang artinya“Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tidak seseorang yang bertawadhu’ kepda Allah melaiankan di muliakan (mendapat izzah)oleh Allah (HR.Muslim).

Iyad bin Himarraberkata: Bersabda Rasullah:Sesungguhnya AllahSWT telah mewahyukan kepadaku “Bertawadhu’lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap yang lainya dans eseoarang tidak menganiaya terhadap lainya (HR.Muslim).

Rasullah  bersabda:“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia“. Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam kepada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut. Iamenjawab : Aku melihat kekasihku nabiSAWs enantiasa berbuat demikian.(HR Bukhari,fathul Bari’ -6247)

Dari Anas ra berkata:Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al- adhba’yang tidak terkalahkan larinya,maka datang seorang a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan,dan hati kaum muslim terpukul menyaksikan halt ersebut. Sampai hal itu diketahui nabiS AW,maka beliau bersabda : Menjadi haq Allah SWT jika ada sesuatu yang meninggikan diri dari dunia pasti akan di rendahkan-nya (HRBukhari,Fathul Bari’-2872 ) Itulah beberapa contoh sikap ketawadhu’an nabi SAW yang tertulis dalam Fathul Bari’ karya Imam Bukhari.Contoh tersebut kita bisa mengambil ibrah(pelajaran) tentang ketawadhu’an nabi SAW sebagai bekal kita dalam menjalankan kehidupan ini.

Adapun manfaat bagi kita saat mengamalkan sikap tawadhu’ pada kehidupan sehari-hari : 1). Banyak orang menjadi simpatik terhadap kita , karena sifat ini bertolak dari sifat sombong atau takabbur. 2). Banyak teman yang ingin berteeman dengan kita, sifat ini bermanfaat bagi orang yang berteman karena mendatangkan nilai positif dalam pertemanan. 3). Mudah di hormati oleh orang lain, karena orang sudah mengerti kalau kita memiliki sifat rendah hati mka rang lain tidak segan-segan hormat kepada kita. 4). Di mana pun berada hati selalu tentram dan tenang, tdak pernah khawatir akan kemampuan yang di miliki karena dia tidak mngumbar”kan kemampuannya kepada orang lain. 5). Yang paling utama dalam manfaat mengamalkan dikap tawadhu’ adlah terhindar dari sifat sombong.

Padi semakin berisi semakin menunduk “ mungkin kata-kata tersebut tidak asing lagi ditelinga kita. Dan kita sudah mengerti sendiri apa makna filosofi dari kata-kata tersebut. Jika kita berpikir bahwa dari kata-kata itu sifat tawadhu mucul, maka itu benar benar sekali. Karena padi ibarat seseorang yang sedang dalam masa belajar,hari demi hari  diisi oleh ilmu yang diperoleh. Dan semakin berat lmu yang diperoleh seseorang maka sifat rendah hati itu, otomatis akan dimilikinya.Seperti padi yang berisi maka akan semakin menunduk.

Tapi ada juga tipe orang yang semakin banyak ilmunya dan semakin sombong pula dirinya, kenapa ada pula yangseperti itu?dikarenakan orang tersebut merasa bahwailmu yang di dapat adalah usaha dia bertahun-tahun. Kerja kerasnya dari SD sampai sarjana, dalam mendapatkan ilmu tersebut. Lalu apa-apa yang ia miliki sekarang semuanya berasal dari AllahSWT. Seperti kacang yang lupa kulitnya.Ia lupa akan esensinya sebagai makhuk yang diciptakan. Dan tidak memikirkan kalau ilmunya hanya setetes dari luasnya ilmu Allah SWT yangdi ibaratkan seluas samudera.

Didalam dunia perkuliahan. Adalah sebuah tempat dimana mahasiswa tumbuh disana. Menjadi seorang akademisi dalam mencari ilmu. Tidak hanya belajar secara formal layaknya kita belajar pada waktu SMA dulu. Tapi di perkuliahan mahasiswa dituntut untuk lebih kritis dalam menanggapi sebuah masalah disekitarnya. Jika tidak seperti itu, maka kita lihat lagi status kemahasiswaannya. Mengambil sikap kritis itu diperlukan seorang mahasiswa dalam memecahkan sebuah permasalahan. Tidak hanya itu, mereka juga bisa mencari tahu lebih dalam dengan cara membaca buku, berdiskusi langsung dengan teman, bahkan dosen,untuk bisa memecahkan sebuah permasalahan tertentu.

Kekritisan itu memang perlu ada dalam setiap diri mahasiswa. Seperti yang sudah saya terangkan diatas. Tapi,jika hanya menyampaikan dengan kurang tepat maka akan menimbulkan ketidak baikan.Contoh,kita sering melihat mahasiswa berdiskusi didalam kelas,itu hal biasa karena memang didalam setiap mata pelajaran ada sesi tanya jawab setelah salah satu kelompok menyampaikan materi pada waktu itu. Dan setelah itu sesi tanya jawab dimulai,biasanya ada mahasiswa yang terbilang kritis dan pandai, aktif dalam berbicara tapi kurang memiliki nilai kesopanan dalam menyampaikan pendapat, sanggahan,bahkan kritikan. Kadang mereka ingin men jatuhkan teman-temannya dengan argumen-argumen yang sulit di mengerti oleh temannya yang sedangmemberi materi. Ada juga mahasiswa yang merasa sudah mampu dalam sebuah mata kuliah merasa tidak lagi memerlukan pelajaran tersebut. Ujung-ujungnya mereka tidak menghormati dosen yang memberi mata kuliah,acuh tak acuh dalam mata kuliah tersebut,bahkan kadang meremehkan dosen yang mengajar.

Tidak dipungkiri itu adalah salah satu sifat kesombongan atau takabur dari seorang mahasiswa yang mereka tampakan dan sekali lagii tu adalah sifat yang kurang baik bagi seorang mahasiswa. Apalagi mahasiswa itu dari kampus yang notabene muhammadiyah. Yang mana nilai-nilai keislaman harus terpancar pada diri mereka. Oleh karena itu pembentukan karakter (character building)perlu adanya. Salah satunya menanamkan sifat ketawadhu’an bagi semua mahasiswa.

Adapun cara agar mahasiswa memiliki sifat rendah hati : 1). Mengakui bahwa kita bukan yang terbaik dalam semua hal, mungkin kita berbakat dalam pelajaran A,bisa jadi malah teman kita berbakat dalam pelajaran B. itulah sebabnya kita tidak boleh berbangga hati dengan kemampuan yang kita miliki. 2). Selalu bersyukur dalam menjalani hidup, dimana kita harus menengok orang yang tidak seberuntung dari kita dalam urusan kehidipan. 3). Jangan pernah takut gagal dalam belajar baaimana menjadi rendah hati. 4). Akui ketika kita bersalah, dengan melakukan ini kita akan di anggap rendah hati karena mereka menilai kita orang yang tidak keras kepala.atau egois dan berpikir tentang kesejahteraan orang lain juga. 5). Jangan mengambil semua pujian yang di berikan kepada kita, karena itu akan membuat kita merasa somobng. 6). Belajar unuk mengharga orang lain

Sebagaipenutuptulisaniniizinkansayamengutipkata-katadariimamempatyakni ImamSyafi’i. Beliau pernah berkata“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yangt idak pernah menampakan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakan kemuliaanya“(Syu’abulImam, AlBaihaqi,6:304 )

DAFTAR RUJUKAN

Baradja, Umar. Al-Akhlaq Li Al- Banin. Surabaya : Lamedia, 1993

Hasanudin, Abu, Dzikra.

Sagala, Saiful. Etika dan Moral Moralitas Pendidikan. Jakarta :Kencana Prenadamedia Grup, 2013

TENTANG PENULIS

Mohammad adhwaaul haq, lahir, 21 mei 1998 di gresik. Anak pertama Dari pasangan fauzan dan arti, serta memiliki satu adik perempuan yang bernama sayyanna mazza riyunnah, tinggal di desa wotan, panceng gresik. Menempuh pendidikan di taman kanak-kanak bustanul athfal wotan, panceng, gresik. Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 04 wotan, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 09 wotan, Madrasah Aliyah sendang agung paciran lamongan. Sekarang menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabayah, jurusan Tarbiyah fakultas agama islam. Pengalaman Organisasi pernah menajdi ketua osis MTS M 09 wotan, anggota ketaqwaan BESMA, anggota perpustakaan OPPI, sekarang menjadi anggota keagamaan HIMA PAI, dan juga menjadi member dari pusat bahasa universitas muhammadiyah surabaya.

 

 

Komentar

komentar

Dibaca : 8,541 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
22 − 4 =