Malam Hitam


Oleh : M. Habibi

Aku berjalan seringan angin, menatap sendu daun kering yang berjatuhan. Terkadang terdengar suara burung yang tiba tiba benyanyi melayu seolah tau akan keadaanku. Aku menatap awan yang berbalik menatapku juga, miris melihat diri ini sempoyongan tak tahu arah jalan yang benar, miris melihat tangan ini ketika mengenggam sangat erat dan sangat sulit ketika melepaskan, miris melihat hati ini yang tetap bertahan walau telah dibuang.

Aku meneruskan langkah ini ketika langit mendadak hitam, berjalan sendiri ketika semua harapan telah hilang. Aku tak tahu harus berkata apa, kata kata motivasi sungguh tak akan berguna untuk saat ini. Air mataku mulai mengalir seperti derasnya hujan pagi tadi. Ketika kamu datang dan meminta maaf kepadaku. Sungguh, aku tak butuh kata maafmu, kata itu sangat menyakitkan untukku.

Aku minta maaf sat” Katamu sambil menatapku sendu memberikan selembar kertas. Terlihat matamu yang sedikit mengeluarkan air mata. Dan tanganmu yang mencoba menggapai pundakku yang layu. Aku mencoba tetap menatapmu dengan senyum. Aku ingin menyembunyikan semua rasa kecewa dalam hatiku ini. Meskipun itu semua sia-sia. Kau tau hatiku menangis, kau sangat hafal senyumku.

Malam semakin larut ketika perasaan cinta ini terus menyerangku tanpa ampun, menelanku ke dalam ikan paus dan melemparkanku melewati lubang pernapasannya. Aku terlontar keatas melawati awan ketika hembusan nafas dari sang paus begitu kuat mendorongku melewati kenangan kenangan indah kita dulu. Kemudian aku ditarik oleh gaya gravitasi bumi yang seolah olah ingin mengalami masa lalu bersamamu lagi. Teringat janji kita untuk merajut keluarga kelak.

Tangisanku belum berhenti, tetapi langkah ini ingin berhenti dan beristirahat sejenak. Aku duduk ditemani kado terakhirmu berupa selembar kertas yang sedari tadi hanya berada ditangan kananku. Aku mencoba melihatnya dan membacanya.

aku minta maaf sat, aku tak pernah bermaksud seperti ini, aku hanya merasa kamu terlalu lama mencari – cari alasan untuk tidak segera menikahiku. Aku menemukan seseorang yang siap untuk itu, siap untuk membangun keluarga denganku. Kadang kepastianlah yang akan menang sat, bukan hanya janji yang terlontar oleh ucapan.” Bersambung.

Komentar

komentar

Dibaca : 38,259 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
7 − 4 =