MAMPUKAH KITA BERSIKAP JUJUR?


Oleh : Rizki Aulidia Fatiroh

Apa itu jujur? Jujur merupakan suatu perilaku yang mencerminkan adanya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan. Apa yang di niatkan dalam hati, di ucapkan oleh lisan atau mulut kita dan di gambarkan dalam perbuatan, yang sesungguhnya terjadi dan sebenar-benar nya, itulah yang di namakan jujur. Jujur harus di miliki oleh setiap manusia, karena sifat dan sikap ini merupakan prinsip dasar dari cerminan akhlak seseorang. Jujur juga dapat menjadi cerminan dari kepribadian seseorang dan bahkan kepribadian bangsa. Oleh sebab itula kejujuran mempunyai nilai tinggi dalam kehidupan manusia.

Dalam bahasa Arab, jujur merupakan terjemahan dari kata shidiq yang artinya benar, dapat dipercaya. Dengan kata lain, jujur adalah perkataan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran. Jujur merupakan induk dari sifat-sifat terpuji (mahmudah). Jujur juga disebut dengan benar atau sesuai dengan kenyataan. Namun, menurut  (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.1991), Kejujuran berasal dari kata” jujur” yang mendapat imbuhan ke-an, yang artinya “lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus atau ikhlas.

Kejujuran juga banyak di contohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Sebagai contoh adalah bahwa Rasulullah mempunyai sifat “amanah” yang artinya dapat di percaya. Mengapa Rasul mempunyai sifat demikian, karna Rasul adalah seseorang yang jujur. Allah memerintahkan kita agar selalu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Amanat berarti kepercayaan. Orang yang di percaya tidak pantas untuk melakukan kebohongan. Maka, kejujuran menjadi bekal bagi kita untuk mendapat kepercayaan dari orang lain. Jika seseorang telah memiliki sifat jujur, maka menjadi sangat wajar seseorang tersebut dapat di percaya oleh banyak orang. Dan amanat itu sendiri akan di sampaikan kepada yang berhak menerimanya, bukan kepada orang lain. Orang yang jujur juga lah yang akan merasa tenang dalam menjalani hidup nya di dunia yang fana ini. betapa hancurnya dunia ini akan sangat terasa apabila orang-orang yang jujur sudah semakin sedikit jumlanya.

Jujur memang sesuatu yang mudah, apalagi bagi seseorang yang memiliki ketakwaan dan keimanan yang kuat terhadap Allah. Tapi jujur juga menjadi sangat sulit bagi seseorang yang sehari-harinya suka berbohong. Kebohongan hanya akan membawa malapetaka bagi kehidupan orang yang suka berbohong. Maka tidak heran jika kepercayaan orang akan luntur terhadap orang yang suka berbohong.

Berperilaku jujur, tidak akan merugikan kita. Justru kejujuran akan membawa manfaat, di antaranya adalah dapat membuat seseorang menjadi mudah di percaya oleh orang lain, sehingga mudah untuk mendapatkan lapangan pekerjaan, mendapatkan banyak teman, dan mendapatkan ketentraman hidup karena tidak memiliki kesalahan terhadap orang lain serta yang paling penting adalah menjadi makhluk yang  lebih di cintai oleh Allah SWT.

Kejujuran sangat erat kaitannya dengan hati nurani. Kata hati nurani adalah sesuatu yang murni dan suci. Hati nurani selalu mengajak kita kepada kebaikan dan kejujuran. Namun, kadang, kita enggan mengikuti hati nurani. Bila kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, maka itulah yang disebut dusta. Apabila kita katakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, itulah yang dinamakan bohong. Dusta atau bohong merupakan lawan kata jujur.  Lantas, Mengapa kita harus jujur? Jujur itu penting. Berani jujur itu hebat. Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan kehidupan yang harmonis, baik, dan seimbang. Agar tidak ada yang dirugikan, di dzalimi dan dicurangi, kita harus jujur. Jadi, untuk kehidupan yang lebih baik kuncinya adalah kejujuran (A. Tabrani Rusyan, Pendidikan Budi Pekerti, Inti Media Cipta Nusantara, 2006, hal. 25)

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “kejujuran itu mahal”. Ya, kejujuran memang sangat mahal karena berkata jujur itu terkadang sangat berat. Akan tetapi, agar dapat dipercaya oleh orang lain, kita harus jujur. Rasulullah SAW telah memberi contoh nyata kepada kita. Pada masa jahiliyah sangat sulit mencari orang yang jujur. Dengan kejujuran Rasulullah saw. menjadi orang yang paling terpercaya. Beliau mendapat gelar al-Amin (dapat dipercaya) dari bangsa Quraisy.

Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak percaya. Jujur membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membuat hati jadi was-was. Akan tetapi kadangkala, ada orang yang tidak suka dengan kejujuran. Hal ini dapat terjadi kalau orang itu akan terganggu oleh kejujuran kita itu. Meskipun demikian jangan takut dan risau karena lebih banyak pihak yang mendukung kejujuran.

Kejujuran merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam.  Seharusnya sifat jujur juga menjadi identitas seorang muslim. Katakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah itu salah. Jangan dicampuradukkan antara yang hak dengan yang batil.

Jujur adalah sikap yang tidak mudah untuk dilakukan jika hati tidak benar-benar bersih. Namun sayangnya sifat yang luhur ini belakangan sangat jarang kita temui, kejujuran sekarang ini menjadi barang langka. Saat ini kita membutuhkan teladan yang jujur, teladan yang bisa diberi amanah umat dan menjalankan amanah yang diberikan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Dan teladan yang paling baik, yang patut dicontoh kejujurannya adalah manusia paling utama yaitu Rasulullah saw. Kejujuran adalah perhiasan Rasulullah saw.

Jika kita korelasikan antara kejujuran dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka sangatlah sesuai sekali, karena kejujuran merupakan salah satu dari nilai kemanusiaan. Kita tahu bahwa sebelum datang nya agama islam, keadaan bangsa Arab pada saat itu masih carut marut, misalnya saja pada waktu iitu perempuan di perlakukakn seenak nya dan mengubur hidup-hidup bayi peempuan yang baru lahir. Baru ketika islam datang, nilai-nilai keislaman disana mulai di tata. Sehingga bentuk-bentuk kedhaliman dan ketidakadilan sedikit demi sedikit hilang.

Menerapakan sikap jujur memang sulit tetapi itu telah menjadi tuntutan hidup, agar selalu berada dijalan yang benar, yaitu jalan yang diridhoi Allah SWT. Adapun beberapa cara agar selalu bersikap jujur.

“Carilah teman yang jujur dan hindari teman yang buruk. Carilah lingkungan yang jujur dan hindari lingkungan yang buruk. Ingat selalu dampak buruk dari ketidakjujuran.” Teman memang tak selalu di dekat kita. Tetapi teman bisa mempengaruhi sikap dan kepribadian kita. Seorang teman juga memegang faktor penting dalam menjaga sikap. Jika teman kita baik, maka secara tidak langsung kita terpengaruh oleh sikapnya yang baik. Bahkan teman yang baik tersebut akan mendorong kearah perilaku yang baik. Jika kita berbuat kejelakan dihadapan seorang teman yang baik tentunya kita akan merasa malu.

Dengan hidup dilingkungan masyarakat yang baik dan kondusif, juga akan memberikan kita suatu sikap hidup yang menuntut untuk selalu bersikap jujur. Selalu mengingat dampak yang timbul disetiap perbuatan, tentunya kita akan selalu berhati-hati dalam bertindak. Disetiap langkah kaki, disetiap gapaian tangan pasti ada resiko yang menghadang. Entah itu kecil atau besar.

Memulai sikap jujur tentunya dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain untuk bersikap jujur. Dengan kesedaran dari hati, pasti sikap jujur akan tertanam dalam diri secara cepat, yang didasari niat yang ikhlas karena Allah SWT. Untuk diri kita sendiri bisa berubah menjadi lebih baik.

 Sikap jujur seharusnya dimulai sejak kanak-kanak karena dengan semenjak kanak-kanak sikap jujur tersebut akan selalu melekat pada diri seseorang tersebut, karena pada dasarnya sekap jujur itu tumbuh dengan membiasakan diri yang dibekali rasa percaya diri dan tanpa ada keraguan sedikit pun dari dalam diri.

Sikap kejujuran harus dikembangkan sejak dini. Anak-anak kita sejak kecil harus kita didik untuk jujur dan bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Orang tua tidak boleh menyogok guru agar anaknya yang tidak naik kelas bisa naik kelas. Saya yakin bahwa tidak sedikit orang tua yang melakukan itu, menyogok guru agar anak-anaknya bisa naik kelas. Tindakan seperti itu memberikan contoh kepada anak bahwa uang dapat menyelesaikan segalanya. Sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji yang dilakukan oleh orang tua dan langsung diserap ilmunya oleh anak-anak. Sangat disayangkan karena ilmu yang diserap itu adalah ilmu sogok-menyogok, ilmu korupsi, buah dari sebuah ketidakjujuran.

Namun jika sejak kanak-kanak ataupun anak-anak bahkan sejak tadi belum ada sikap jujur maka, sesegeralah memulai sikap dari sekarang atau detik ini juga. Namun bila tidak bisa sekarang dengan sekejap mata, maka lakukan dengan secara perlahan-lahan, dikit demi sedikit dan diterapkan sehari-hari. Dengan begitu sikap jujur dalam diri akan tumbuh dengan secara perlahan dan bisa kemungkinan bisa menjadi kebiasaan yang tidak mudah untuk hilang dari dalam diri.

Di dalam buku (Iman Abdul Mukmin Sa’aduddin, Meneladani Akhlak Nabi Membangun Kepribadian Muslim, Rosdakarya, 2006, hal, 181), kita tahu bahwa sebelum Rasulullah di angkat menjadi Rasul, ia telah di percaya oleh kabila nya dan kabilah-kabilah lain. Tepatnya yaitu pada waktu terjadi perselisihan peletakan Hajar Aswad. Masing-masing dari mereka merasa bahwa kabilahnya yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya semula. Lalu Rasulullah SAW menengahi perselisihan mereka dan beliau membuat keputusan yang sangat bijaksana yaitu dengan meletakkan Hajar Aswad diatas serbannya dan menyuruh masing-masing dari kabilah tersebut untuk mengangkat Hajar Aswad bersama-sama dengan masing-masing perwakilan kabilah mengangkat sisi-sisi dari sorban Nabi. Dengan begitu pertumpahan darah yang terjadi dapat di hindari.

Diantara criteria yang harus ada dalam sifat amanah tersebut adalah jujur. Karena seorang pembohong tidak mungkin dapat di percaya oleh orang lain. Sifat jujur merupakan faktor terbesar tegaknya agama dan dunia. Kehidupan dunia tidak akan baik, dan agama juga tidak akan bisa tegak di atas kebohongan, khianat serta perbuatan curang.

Jujur dan mempercayai kejujuran, merupakan ikatan yang kuat antara para rasul dan orang-orang yang beriman dengan mereka. Allah juga menyifatkan para nabi Nya dengan sifat jujur. Lalu Allah mendukung para Nabi dengan Mukjizat dan tanda-tanda agung sebagai bukti dari kejujuran atau kebenaran mereka, dan untuk menghancurkan kebohongan para musuh-musuh Allah.

Imam Ghazali membagi sifat jujur menjadi 3 yaitu:

  1. Jujur dalam niat atau berkehendak, maksudnya bahwa tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena dorongan dari Allah SWT.
  2. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuai nya berita yang di terima dengan berita yang di ucapkan. Setiap orang harus bisa memelihara atau menjaga lisannya. Ia tidak boleh berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barang siapa yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. menepati janji juga termasuk jujur jenis ini.
  3. Jujur dalam pebuatan (amaliah), yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya.

Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagiaan, serta ketentraman, yang harus dimiliki oleh setiap muslim wajib menanamkan nilai kejujuran tersebut kpada anak-anaknya sejak dini, sehingga di harapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraik kesuksesan dalam mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah sumber dari segala keburukan dan muara dari segala kecaman karena akibat yang di timbukan adalah kekejian. Akibat yang ditimbulkannya adalah kejelekan, dan haslnya adalah kekejian.

Ucapan yang baik dan niat tulus akan menjadi semakin indah jika ada wujud amal dalam kenyataan. Jujur dalam perbuatan artinya memperlihatkan sesuatu apa-adanya. Tidak berbasa-basi. Tidak membuat-buat. Tidak menambah dan mengurangi. Apa yang ia yakini sebagai kejujuran dan kebenaran, ia jalan dengan keyakinan kuat bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala bersama orang-orang yang benar-benar sebenar-benarnya!

 

Jadi, Mari tanyakan diri sendiri tanpa menoleh pada orang lain, Mampukah kita ? 

Insya Allah..

 

DAFTAR RUJUKAN

Tabrani Rusyan, Pendidikan Budi Pekerti, Inti Media Cipta Nusantara, 2006,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.1991

Iman Abdul Mukmin Sa’aduddin, Meneladani Akhlak Nabi Membangun Kepribadian Muslim, Rosdakarya, 2006

Rizki Aulidia Fatiro. Lahir di Surabaya, 15 September 1993. Sedang menempuh pendidikan S-1 Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Surabaya. saat ini aktif mengajar di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 52 Keputih Sukolilo dan di SD Muhammadiyah 26 Surabaya. tempat tinggal saat ini bertempat di Jl. Arief  Rahman Hakim Keputih 2c no 01, Sukolilo Kota Surabaya. bisa juga di hubungi melalui alamat email : rizkiaulidia354@gmail.com.

Komentar

komentar

Dibaca : 39,964 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
26 − 25 =