Masa lalu dan 3 Paragraf dari Sang Guru


Total kunjungan 82 , Kunjungan hari ini 2 

Perjalanan hidup seseorang tak lepas dari masa lalu yang sering kali menyisakan memori berwarna. Selalau ada ragam warna dalam tiap lipatan waktu yang terus bergulir. Pengalaman, konon kata kalimat bijak mampu menjadi guru yang terbaik.

Untuk menjadi guru terbaik, masa lalu harus mampu direfleksikan sebagai “hal yang telah lampau” dan memiliki ibrah (sebuah pelajaran). “Hal yang telah lampau” menjadi penanda akan waktu dan realitas yang tidak berubah, sementara ibrah bermuara pada kejelian seseorang dalam menangkap pelajaran yang dapat dipetik dari masa lalu.

Saya terkejut, pada saat memori saya tiba-tiba terlintas mengenai masa lalu dengan segenap ritme gejolak dan problematikanya, seorang guru teladan saya sewaktu berada di jenjang menengah atas, Himmah Mufidah menuliskan 3 paragaraf di laman media sosialnya mengenai masa lalu, menjelang tengah malam (Senin, 30 Januari 2017)

Paragraf pertama,

Masa lalu mereka mengajarkan banyak hal. Sesuatu yang remang – remang perlahan ada terang. Memelajarinya adalah hal penting. Sejarah bukanlah untuk ditutupi melainkan dijadikan lahan untuk belajar. Bukankah setiap orang harus belajar dari masa lalu.

Tertegun, dan saya mulai merapal paragraf pertama kembali. Untuk kesekian kali. Masa lalu, dengan ragam yang bervariasi, heterogenitas yang berfluktuasi tentu dapat mengajarkan kita pada banyak hal.

BACA JUGA  Jangan jadi Pemalas

Sikap untuk terus maju, sering kali butuh “waktu jeda” untuk berfleksi. Manusia membutuhkan “Pit Stop”, menukil Jamil Az-Zaini dalam laju motorik kehidupannya. Orang kemudian membahasakan dengan kalimat berbeda semisal evaluasi, atau dalam bahasa organasisi modern Monev (monitoring-evaluation).

Mengenai masa lalu sebagai hal yang penting dan harus dijadikan pelajaran, Allah berfirman dalam Surat al-Hasyr ayat 18:

يَاأَيُّهَا الَّذيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَاقَدَّمَتْ لِغَدٍ

Hai orang-orang yang beriman. Bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok”.

BACA JUGA  Rumus Anti Kecewa (Kisah Kegagalan Yang Pasti Bisa Kamu Lewati)

Perintah untuk memperhatikan (al-nadzr) bukan hanya melihat atau mengingat-ingat kembali. Namun ada nuansa kritis-reflektif dalam memperhatikan “masa lalu”, untuk menemukan sari pati pelajaran yang berguna dalam titian masa depan.

Paragraf kedua,

Seburuk apapun itu, penerimaan adalah indah. Biarlah yang sudah terjadi. Susun langkah menjadi lebih berarti. Sejurus kaki melangkah biarkan tetap menapak. Hilir mudik harapan membuat hidup lebih berisi. Bukankah tapak itu senantiasa meninggalkan jejak.

Memoriku terpental pada sosok perempuan yang menjadi salah satu mahasiswi dari golongan karyawan. Dari 14 prodi berbeda yang saya ampu di semester ganjil ini, hanya pertanyaannya yang berkesan.

Dia menceritakan tentang pasangan yang akan menikah namun menyimpan masa lalu yang suram. Dia mengharapkan keterbukaan, karena keterbukaan adalah hal yang utama dalam bahtera rumah tangga. Namun dia meragu, bahwa tidak semua masa lalu direspons dengan “penerimaan” yang lapang.

Sering kali, terutama bagi pasangan muda yang baru memulai hidup berumah tangga, “masa lalu” pasangan dikorek, dikoreksi, digali dan kemudian disikapi layaknya masa lalu dapat berubah. Let gone, by gone, yang lalu biarlah berlalu. Saya hanya mengutip kalimat bernas dari BJ Habibie pada istrinya dalam film Habibie Ainun, “Masa lalu adalah milikmu, masa laluku adalah milikku. Tapi masa depan adalah milik kita berdua”.

BACA JUGA  Oligarki dalam Masyarakat Demokrasi

Paragraf ketiga

Hidup adalah untuk terus belajar. Setiap hembusan nafas adalah ilmu. Biarlah terus berlalu. Tak kan salah. Bila hati terus tersinari. Hingga lubuk penuh arti. Julang yang tinggi tak kan melebihi tegak dan tegapnya langkah. Berisi dan berarti. Hanya untuk mati.

Saya terdiam. Berhenti. Ada banyak arti dalam setiap makna yang tertangkap. Saya harap pembaca membantuku, untuk menarasikan interpretasi (penafsiran) bebas yang Anda tangkap dalam paragraf terakhir. Silahkan tulis komentarmu di bawah artikel. Penafsiran yang paling berkesan, saya beri hadiah berupa buku.

Sebuah mutiara dari http://katacintabaru.blogspot.co.id

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment