Masih Adakah Guru Perubahan?


masih adakah guru perubahan

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

Aan Bradley dalam Hardly working (1995), memaparkan hasil penelitan terhadap 1.000 siswa di New York City. Sekitar 60% siswa menyatakan malas belajar karena guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar, serta tidak menguasai materi. Sebagian besar responden menyatakan, sekolah tidak disiplin melaksanakan PBM, sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar berjalan secara tepat, sesuai dengan jadwal. Sebagian siswa mengeluh karena sering melecehkan dan tidak memperlakuannya sebagai anak dewasa (Elin Rosalin, 2008). (Kompasiana.com)

Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah buku dengan judul ‘Lets Change’ karya Prof. Rhenald Kasali P.hD. Dalam buku itu, saya menemukan bahasan yang menarik, sangat inspiratif. Ada “Guru Kurikulum dan Guru Inspiratif”. Ya, menjelaskan tentang menjadi guru itu harus bagaimana. Berani melakukan perubahan, atau teguh pada prinsip diam tidak mau berbuat apa-apa. Pergi ke kelas menjelaskan dengan kaku, tidak ada kreatifitas, membosankan, atau justru mengasyikan dan tidak membosankan. Menjadikan peserta didik nyaman, dan hampir pembahasan yang diberikan bisa diterima dengan baik, atau mala sebaliknya.

Menurut Rhenald Kasali, Guru kurikulum itu, mereka mengajar sesuai dengan apa yang diacu atau sesuai dengan standarnya, guru tersebut amat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa apabila tidak dapat mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia hanya mengajarkan sesuatu yang standart (Habitual Thinking). Kemudian, Guru Inspiratif, mereka mengajar siswanya dengan sesuatu yang membuat siswanya kreatif dan termotivasi (semangat). Tipe ini bukanlah guru yang mengajarkan kurikulum, akan tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (Maximum Thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (Thingking Out of The Box), mengelola dan meramunya di dalam, lalu membawa kembali keluar ke masyarakat luas.

Akhir-akhir ini saya melihat memang banyak terjadi ketidak-seimbangan dalam pembelajaran. Terlebih pembelajaran yang dilakukan di bangku perkuliahan, yang pada umumnya orang akedimis menyebutnya pembelajaran andragogi. Ya, pembelajaran dewasa, santai, mengasyikan juga. Mahasiswa diberikan keleluasaan dalam mengembangkan aset kognitif, afektif, serta ketrampilannya (Psikomotor) berpetualang menjelajah dimensi-dimensi ketidakpastian dan keraguan. Maka, puncaknya mahasiswa bukan hanya mendapat pengetahuan, melainkan “ilmu pengetahuan” yang manfaat. Ibarat pepatah, diberi kail, lalu kalian yang memancingnya.

Kemaren saja, belum lama kok. Saya bertemu dengan salah satu teman yang berkeinginan untuk bisa membuat tulisan. Ia belajarnya tidak jauh dari saya. Ia besar cita-citanya untuk punya sebuah buku. Lalu, buku tersebut bisa diperjual-belikan di toko besar dan bermanfaat bagi banyak orang, katanya. Ia bercerita, orang pertama yang dimintai tolong, arahan, dan bimbingan dalam tulis-menulis ialah pendidik di tempat belajar formalnya. Langsung saja, ketika ia minta bimbingan, apa kata pendidiknya? Cita-cita anda begitu tinggi, sedangkan anda tidak pernah membaca. Struktur kalimat-kalimat anda masih banyak yang salah, dan pemahaman tentang teknis penulisan juga masih kurang. Lengkapi dulu segala persyaratannya, baru menulislah.

Sampai disitu, ia langsung down. Ia takut menulis dan berkarya. Ia berpikir, mana mungkin saya bisa punya buku, sedangkan struktur kata dan tehnik penempatan kalimat masih lemah. Syaratnya masih belum cukup. Ia menjadi binggung. Mentalnya seketika luntur karena sentuhan yang diberikan pendidiknya. Kemudian, saya bilang padanya tetaplah menulis dan berkarya, kawan. Syarat-syarat itu akan kita temui bersama kalau kita sudah menjalankannya. Selalu berusahalah kita. Membaca dan membaca.

Jadi, apakah mungkin, peserta didik bisa mengembangkan kreatifitasnya, kalau pendidiknya masih belum berfikir perubahan, begitu-begitu saja, monoton? Kalau gurunya masih belum bersahabat dengan pola kehidupan siswanya?

Saya rasa belum bisa. Dalam dunia pendidikan, guru itu adalah ujung tombak. Guru harus selalu memberi warna bermacam-macam pada pembelajaran yang melibatkan perkembangan terbaik peserta didiknya. Adakalanya guru harus sesuai standart kurikulum, adakalanya guru juga harus melakukan perubahan sesuai dengan kebutuhan anak-anak didiknya. Harus ballance (seimbang). Sebagaimana contoh kasus di atas, menanamkan prinsip conffident sangatlah tepat. Memberi arahan yang santun, dan bimbingan agar menghilangkan rasa takutnya, sangat penting. Biarlah ia menulis sebisanya dulu. Maka, sangat tepat jika Sudarrusman menulis buku menjadikan sekolah idaman, salah satunya.

Semoga, pendidikan di negeri tercinta ini banyak ditemukan guru-guru yang seimbang strategi dan metode mengajarnya. Sesuai kurikulum dan sangat kreatif, itulah guru perubahan. Mari kita berdamai dengan hati dan fikiran kita.

Wallahu’alam

Komentar

komentar

Dibaca : 2,113 pengunjung.