Menakar Makna Tersirat Dari Teks Hukum


Total kunjungan 301 , Kunjungan hari ini 6 

Udin mengendarai mobil dengan memakai helm di kepalanya. Peristiwa tersebut tentu membuat tetangganya bingung, bahkan sebagian meneriakinya “Bocah edan. Naik mobil koq pakai helm”. Mendengar teriakan tetangganya tersebut, udin menjawab dengan tak kalah kerasnya “Kamu yang edan, orang naik motor saja disuruh pakai helm, apalagi ini naik mobil yang CC-nya sepuluh kali lipat lebih besar dari motor”, katanya.

 

Melihat percakapan tersebut, mari sejenak kita menyelami bagaimana sejatinya memahami makna yang tersirat dari sebuah teks hukum.

 

batu_pahat_memoria_1_galleryfull-300x225

 

Berbicara mengenai penalaran hukum, tentu tidak hanya berkutat dalam ekspresi tersurat bersifat verbal formal dari sebuah teks, namun harus menarikanya dalam sebuah konteks berupa makna yang tersirat dari teks tersebut. Tanpa memahami makna yang tersirat ini, maka pemahaman terhadap teks tersebut akan sangat dangkal karena tidak dapat menyentuh sisi yang paling substantif. Dalam kajian Ilmu Fiqh, pemahaman terhadap makna tersirat tersebut disebut sebagai “mafhum”. Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul mendefinisikan Mafhum sebagai sesuatu yang di luar pembicaraan (fii ghairi mahalli an nuthq) namun dapat dijadikan sebagai ketetapan hukum.

BACA JUGA  Berfikir Kritis Humanis

 

 

Ulama membagi mafhum menjadi dua, yakni Mafhum Muwafaqah dan Mafhum Mukhalafah.

 

Mafhum Muwafaqah adalah pernyataan bahwa kasus yang tidak disebutkan sejalan dengan kasus yang disebutkan. Contoh dari Mafhum Muwafaqah yang biasa kita ketahui adalah QS Al Isra 23 “wa la taqullahuma uffin (dan janganlah kamu mengatakan kepada keduanya kata-kata “hus”). Makna teks dari ayat tersebut adalah larangan untuk mengucapkan “Hus”. Bagaimana jika jika memukul? Berdasarkan prinsip Mafhum Muwafaqah, tentu hal tersebut dilarang. Dalam bahasa yang lebih sederhana “Mengucap kasar saja tidak boleh, apalagi memukul”. Keduanya, yakni berkata kasar dan memukul memiliki illat yang sama, yakni sama-sama menyakiti. Josep Schacht mencatat penggunaan metode ini oleh Abu Hanifah, Abu Yusuf, Syaibani dam Auza’i. Menurutnya, Syafii mengembangkan metode ini dengan lebih detail dengan dua pendekatan, yakni “Argumen a Minori ad Mius”, menggunakan alasan yang kecil untuk perkara besar. Misal, mengumpat saja tidak boleh, apalagi memukul (memukul dianggap lebih besar daripada mengumpat). Pendekatan kedua yakni “Argumen a Maiori ad Minus”, menggunakan alasan besar untuk perkara kecil, hukum mengikat musuh dalam peperangan, dimana membunuh saja boleh apalagi sekedar mengikat.

BACA JUGA  Urgensitas CIO dalam Organisasi

 

Sebaliknya, mafhum Mukhalafah adalah.

 

 

Adapun Mafhum Mukhalafah adalah pemahaman yang berkebalikan dari teks karena keadaan yang juga berkebalikan dengan teks tersebut. Misal dalam hal memanjangkan kain celana hingga melewati mata kaki, dalam hadits disebutkan hal tersebut dilarang dilakukan dikarenakan menunjukkan kesombongan. Adapun jika tidak disebabkan kesombongan, maka diperbolehkan sebagai bentuk mafhum mukhalafah dari hadits tersebut. Begitu pula dalam QS Al Fatihah ayat 5 disebutkan “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Pada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami mohon pertolongan), maka mafhum mukhalafah dari ayat tersebut adalah tidak boleh menyembah maupun meminta perlindungan kepada selain Allah.

BACA JUGA  Penulisan Sejarah Islam Harus Objektif

 

 

Pengetahuan logika ini penting untuk dipahami sebelum mengambil kesimpulan hukum. Banyak kesimpulan hukum yang diambil tanpa memerhatikan kaidah ini, sehingga maksud dari teks tersebut tidak tercapai. Misalnya ada yang merekam video di dalam bioskop dengan alasan adanya larangan hanya dilarang memotret, tidak merekam. Padahal jika memahami konsep mafhum ini, maka aturannya menjadi “memotret saja dilarang, apalagi merekam.

(ditulis ulang dari gfpanjalu.com)

Komentar

komentar