Menanti Subuh Bersamamu


Oleh : M. Habibi

Matahari belum terlihat waktu itu, masih ada dingin yang melewati tubuhku, melewati dan meninggalkan sedikit rasa rindu. Pagi itu aku berjalan seperti biasa, ditemani sepi yang menyamar hitam mengikutiku. Pikiranku mulai memaksaku melewati ruang waktu, melewati masa masa yang saat ini aku perjuangkan. Aku mecoba sedikit nakal ketika berfikir masa depanku denganmu, bersama dengan anak kita nanti. Aku seperti orang dengan santai dan tersenyum membayangkan apa yang akan aku alami nanti, padahal aku belum pasti dapat menggenggamnya.

Pikiran ini datang ketika ceramah shubuh itu selesai. Setiap menginjak bulan ramadan, masjid didaerahku selalu ada penceramah selesai sholat shubuh. Hari ini untuk sekian lama aku kembali ke masjid ini. Maklum aku adalah mahasiswa yang baru saja libur dan pulang kekampung halamannya.

Masih terngiang ketika penceramah itu membahas tentang kewajiban suami. Sungguh, aku gemetar mendengarnya. Sungguh berat beban seorang lelaki yang kelak akan menjadi pemimpin dikeluarganya. Bukan hanya untuk mencari nafkah untuk keluarga, tapi juga untuk membimbing istri dan anak anaknya mengenal allah. Sungguh, aku langsung mengingatmu waktu itu. Memang lancang ketika pikiranku terlalu egois agar engkau menjadi istriku nanti, membayangkan shubuh seperti ini bersama, melihat anak kita berlarian ketika kita berjalan pulang. Aku sangat ingin bersamamu wahai bulanku.

Aku suka ketika pikiranku berimajinasi melampaui waktu, sungguh amat senang aku memikirkannya. Mungkin teman teman sekitarku menganggap aku terlalu naif, terlalu memaksa untuk bersamamu. Tapi, aku tau batas dalam mencintaimu, aku tau aku tidak boleh mencitaimu secara berlebihan, karena Allah membenci perbuatan yang berlebihan. Aku pun tidak boleh mencintaimu melebihi cintaku kepada-Nya yang telah menciptakan wanita secantik dirimu.

Ramadan ini adalah ramadan terbaik dalam hidupku. Meskipun sekarang kau sering sibuk dengan duniamu. Tak apa, aku selalu mengerti. Kau adalah wanita yang membuatku berubah, berubah dalam menghadapi dunia dengan tipu muslihatnya. Aku ingat ketika kau mengirimkan sesuatu yang menyindir perkataanku waktu itu. Aku ingat apa yang aku ucapkan dan apa yang engkau jawab. “setelah mengenalmu, aku ingin lebih mengenal islam” dan kau berucap “jangan sampai nafsu menguasaimu. Itu hanya alasan yang dibuat para iblis agar kau mengenal islam karena aku, bukan karena allah. Itu salah bi”. Sekarang aku tau apa yang kamu maksud.

Terima kasih cintaku, mungkin aku akan selalu menunggu saat seperti ini, saat cinta kita bersama dan membuat keluarga yang kelak hidup didunia dan diakhirat. Dan aku akan selalu berdoa. “aku ingin bersamamu ketika shubuh nanti”.

Komentar

komentar

Dibaca : 57,098 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
30 + 29 =