Menghargai Prestasi, Menghargai Diri


Total kunjungan 252 , Kunjungan hari ini 2 

Oleh : Muhammad Habibi

“Menghargai bisa diumpamakan dengan belajar, dengan kita menghargai prestasi orang lain. Berarti kita belajar tentang suatu proses mengapa dia bisa berprestasi”

Prestasi mungkin akan membanggakan ketika kita bisa meraihnya. Tapi jatuh ketika kita tidak bisa mendapatkannya. Menghargai prestasi adalah cara kita tabah akan pemberian dari allah. Karena sesuatu yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita, tapi yang diberikan allah pasti yang terbaik untuk kita.

Ketika kita membicarakan prestasi pasti kita akan berfikir tentang prestasi yang telah kita dapat atau prestasi yang didapat orang lain. Bisa diumpamakan ketika kita kalah maka dia berhasil, begitupun sebaliknya.  dari kedua peristiwa itulah kita bisa belajar menghargai prestasi. Yaitu prestasi yang didapat orang lain ataupun yang kita dapat.

Kebanyakan ketika kita melihat seseorang meraih prestasi pasti kita merasa iri, kita selalu berpikir mereka itu cuman beruntung, hoki, mujur. Kita selalu mencari kekurangan mereka. Bukannya belajar dari prestasi orang lain tapi malah menambah dosa. Allah sangat membeci hambanya yang iri.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, (QS.An-Nisa’ Ayat 32). Begitulah Allah melarang kita untuk iri melihat orang lain memperoleh karunia, nikmat, ataupun prestasi. Itu adalah hak Allah, untuk memberikan apa saja kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Jika kita ingin memperoleh karunia seperti itu, minta saja kepada Allah, berdoa saja kepada Allah. Dia adalah Dzat yang Maha Pemurah. Asal kita berusaha dan berdoa, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita.

Belajar dari kegagalan adalah suatu kutipan yang sering kita dengar. Bisa di asumsikan belajar dari kegagalan adalah belajar dari keberhasilan orang lain. Mengapa dia bisa berhasil sedangkan kita tidak. Dari situlah kita bisa berpikir untuk mengetahui kekurangan kita, mengetahui lubang yang ada dalam diri kita. Dan dari pembelajaran tersebut, sedikit demi sedikit kita bisa menutup lubang itu.

Mendorong untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk masyarakat sekitar. Setidaknya itu yang bisa kita lakukan. Prestasi bukan hanya membicarakan tentang peringkat pertama, kedua dan seterusnya. Bukan pula mendapat piala yang super besar. Bukan juga nama yang dipuji puji karena kepintarannya. Bukan itu, suatu prestasi akan lebih bermakna ketika kita bisa berguna untuk membantu dalam hal kecil, kecil tapi bermakna, seperti lebah yang mengumpulkan madu dari bunga-bunga. Prestasi bukan untuk diakui, tapi prestasi untuk bisa membantu sesama makhluk hidup.

BACA JUGA  Gerakan Keilmuan sebagai acuan pergerakan IMM FIAD 2017-2018

“Prestasi bukan hanya soal peringkat, tapi soal bagaimana kita ikhlas membantu walaupun itu kecil” – Habibi

Kisah Bunda Teresa yang rela meninggalkan semua kemewahan hidup di balik tembok biara. Dan memilih bermukim dilingkungan kumuh, hidup bersama kaum gembel. Hidup di kota  metropolis tempat terjadinya bencana urban terbesar didunia. Kota ini bagaikan tabung mesiu berisi kekerasan anarki. (Habis Galau Terbitlah Move on, J. Sumardianta -38-2014)

 Dia mengabdi, dia berkorban, dia berbeda dengan orang lain yang mengejar begitu banyak prestasi tapi melupakan untuk apa dia berprestasi.

“Tidak semua orang bisa menjadi manusia hebat, tetapi anda bisa mengerjakan sesuatu yang sederhana dengan cinta yang hebat” -Bunda Teresa

Ketika itu seseorang anak tepatnya kelas 3 SMA sangat terkenal disekolahnya, dia mendapatkan begitu banyak piagam dalam keikutsertaanya dalam setiap lomba. Bukan piagam peserta, melainkan piagam juara. Dalam pikirnya mungkin mustahil dia tidak akan lolos ke perguruan tinggi negeri. Tapi nyatanya dia gagal di 7 universitas negeri yang diminatinya. Hancur sudah hatinya. 7 perguruan tinggi negeri menolaknya. Seakan tidak percaya, dia menangis tanpa henti dipintu kamarnya. Dulu dipuja puja oleh temannya berubah menjadi olokan dan gurauan.

“Untuk apa piagammu itu? Pajangan?”.

“Kasihan sekali anak ini mencari cari piagam toh gak ada gunanya”.

“Dia hanya buang buang waktu saja”.

Begitulah kiranya cacian, olokan yang dilontarkan temantemannya. Selang beberapa lama sang kakak pun mencoba menenangkannya dia mengatakan.

“Prestasi yang kau dapat bukan hanya untuk ini dek, bukan hanya untuk mengantarkanmu ke perguruan yang kamu inginkan. Prestasi yang kau dapat adalah sejarah, tidak ada seorangpun bisa menghapus. Kamu tau apa yang nikmat yang diberikan oleh Allah kepadamu melalui prestasi ini? Pengalaman dan kenangan” (BulanBahasaUGM Cerpen “Fantastic Four” Muhammad Habibi,2015)

            Memang suatu prestasi tidak selalu membantu kita saat kita butuh. Tapi prestasi selalu meninggalkan sebuah pengalaman dan kenangan yang tidak semua orang merasakannya. Dari cerita diatas kita bisa belajar bahwa prestasi akan bisa berdampak positif dan negatif. Positifnya kita bisa belajar proses menggapai prestasi itu. Negatifnya bisa jadi kita besar kepala dan merasa sudah cukup dan tidak mau untuk berusaha lagi.

BACA JUGA  3 Pesan Dekan FAI dalam Pembekalan Praktikum

Untuk itu, menghargai prestasi diri adalah wajib untuk kita sadari. Bukan untuk besar kepala tapi untuk selalu mengingatkan bahwa pengalaman adalah pembelajaran yang paling utama dalam sebuah prestasi. jangan merasa puas akan prestasimu saat ini, selalu ciptakan sesuatu yang bisa melampaui prestasi terdahulumu.

“Besyukurlah dengan nikmat yang sudah Allah berikan, karena tidak semua orang merasakan nikmat tersebut.”

            Seekor katak berada di pinggir kolam yang sunyi. Dengan susah payah, katak itu menunggu lalat yang terbang di atasnya. Setiap ada lalat, ia segera mencaploknya. Kalau sudah kenyang. katak itu ngorek (Berbunyi), “rek kek kek, rek kek kek”. Namun, sering kali ia tidak menangkap apa apa. Maka, bersungut sungut ia dan beginilah gerutunya, “ko ak, koak”, Anak-anak desa mendengar gerutu katak. Mereka tidak tahu kalau katak itu lapar. Kata mereka, “dengarlah, si katak minta hujan.”

Pada suatu pagi, katak bersedih hati. Hanya lalat lalat kecil yang sempat dicaploknya. Sambil menggerutu, ko ak koak, ia mengeluh dalam hati, “Betapa malang nasibku. Sering aku pergi tidur dengan perut kosong.” katak pun iri dengan ikan-ikan emas yang hidup bersamanya dikolam itu. Batinnya, sepanjang hari ikan ikan itu hanya bermain-main saja, berenang kesana kemari, tak pernah bekerja. Toh, mereka selalu mendapat makanan. Setiap pagi anak anak datang melemparkan nasi kedalam kolam dan dengan lahap ikan-ikan itu menyantapnya.

Tiba-tiba si katak mendengar langkah manusia. Ia bersembunyi dibalik daun sambil mengintip anak-anak yang biasanya datang memberi makan ikan. Ia tidak sendiri. Iadatang bersama seorang lelaki yang membawa jaring. Segera lelaki itu melemparkan nasi ke dalam kolam, dan datanglah ikan-ikan emas berebut makanan. Terjaringlahikan dalam jumlah puluhan. Ikan besar dimasukkan kedalam keranjang. Yang kecil kembali dilepaskan ke kolam. Katanya, tunggulah sampai ikan-ikan ii nanti menjadi besar. Ia nilang lagi, kali ini cukup.”Mari kita bawa ikan-ikan ini ke Haji Mangoes.” Hari ini ia mendapat tamu. Bagi tamunya, mesti ada ikan bakar mengepulkan asap saat disajikan di meja hidangan.

Si katak melihat apa yang terjadi dan mendengar semua yang dikatakan kedua manusia itu. katak menjadi ketakutan. Tetapi, ia tidak menyesali diri denan nasibnya lagi. Katanya, “betapa saya bahagia bahwa saya seekor kodok.”

BACA JUGA  Ta'awun Untuk Negeri Dalam Perspektif Pergerakan

Fabel katak yang tak pernah berpuas diri dikisahkan Sindhunata pada esai “Belajar Bersama Kuncung Bawuk”, dalam Kitab Si Taloe (2008). Janganlah senantiasa menggerutu menyesali nasib. Jangan selalu meratapi kekurangan. Menyalahkan diri dan kekurangan sendiri hanya membikin hidup makin redup. Besyukurlah dengan apa yang dapat.

Begitulah hikmah yang diberikan si kodok. Janganlah senantiasa kamu menyesali nasib, berputus asa, dan meratapi kegagalan. Bersyukurlah , dengan nikmat yang kamu dapat

Masih ingat dengan  kompetisi sepak bola musim 2012 di Eropa. Chelsea menyingkirkan Barcelona pada semifinal Liga Champions Eropa dengan agregat 3-1. Chelsea bertahan total dari serbuan anak-anak Guardiola. Roberto Di Matteo dikritik karena dianggap memarkir bus diarea kotak penalti Petr Cech. Roberto Di Matteo mendidik anak buahnya untuk mengendalikan diri. Bertahan dari serangan dan hanya mengandalkan serangan balik mematikan. Bayern Muenchen kalah drama adu penalti melawan Chelsea pada final Liga Champions karena tidak mau belajar dari kegagalan Barca. Chelsea pulang ke London memboyong trofi Liga Champion mereka. Laskar die rotten hanya menangis memelas pada rumput lapangan. Kekalahan yang sangat menyakitnkan.

Kisah katakyang penuh syukur dan kesebelasan chelsea yang mampu mengendalikan diri mengajarkan kita untuk senantiasa mensyukuri hidup. Syukur dan pengendalian diri mempunyai keterikatan yang erat karena dengan bersyukur kita dapat mencegah hal-hal negatif dan berlebih-lebihan.

“Bersyukur membuat kita bisa menahan diri” -Yovie Widianto

Daftar Rujukan

Muhammad Habibi, Cerpen “Fantastic Four”. Bulan Bahasa UGM, 2015.

Esai “Belajar Bersama Kuncung Bawuk”. Kitab Si Taloe, 2008

J.Sumardianta. Habis Galau Terbitlah Move On. Yogyakarta, 2014.

 

Tentang Penulis

Nama Pena Habibik. namaasli Muhammad Habibi biasa dipanggil Habibi tapi lebih suka dipanggil Hap. Lahir di Lamongan tanggal 13 Oktober 1997. Anak terakhir dari pasangan Sakup dan Siti Markonah. Memiliki seorang kakak laki laki yang bernama Irvan Syaifullah. Tinggal di Lamongan.  Pernah menempuh pendidikan di TK Bunga Harapan 2 Lamongan, SDN Sukorejo 1 Lamongan, SMPN 3 Lamongan, SMAN 3 Lamongan, dan sekarang sedang menempuh S1 di UMSurabaya di prodi Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah). Pengalaman menulis sejak SMP, Menjadi ketua majalah sekolah pada tahun 2014. Sekarang menjadi anggota Hima PAI UMSurabaya dan Duta Kampus (academia) di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“lakukan sesuatu dengan berbeda, percaya akan dirimu”

Komentar

komentar

Leave a comment