Pentingnya Kerjasama Tim


Total kunjungan 225 , Kunjungan hari ini 1 

Oleh : Bobi Puji Purwanto

Kita banyak jumpai, perusahan atau organisasi yang bangkrut maupun terhambat perkembangannya. Yang sebenarnya itu tidak mereka harapkan. Mereka emosi, pesimis, dan larut dalam penyesalan yang sedemikian panjang. Padahal, hal tersebut atas prakarsanya sendiri. Ini pembelajaran, karenanya kita harus selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan.

Lalu, apa salah satu faktor kebangkrutan dan penghambat perusahaan tersebut, yang tidak semua perusahaan maupun organisasi harapkan terjadi?

Baiklah, menurut saya, salah satu faktornya ialah rendahnya bahkan hilangnya kerjasama tim. Iya meskipun di dalam perusahaan itu terdapat banyak individu yang memiliki kompetensi mumpuni, pengalaman matang, serta berdaya saing. Tetapi, dengan kehebatan yang begitu lengkap secara personal demikian, itu masih belum cukup untuk membawa perusahaan atau organisasi menjadi besar dan berdaya saing. Justru bisa dipastikan akan berbahaya. Jadi, perlu adanya energi penentu yang bisa dimanfaatkan sebagai solution. Adanya kerjasama tim dari berbagai sisi.

Saya punya contoh menarik dari perjuangan PT Djarum Indonesia. Kenapa perusahaan ini menjadi salah satu perusaan rokok raksasa di Indonesia sampai saat ini? dan menempatkan Budi Hartono dan Michel Hartono pemiliknya menjadi orang terkaya di indonesia sampai saat ini 2017 versi Forbes.

Sederhananya, dulu perusahaan ini merupakan perusahaan yang biasa-biasa saja. Gedungnya pun juga tidak besar seperti saat ini. Di kudus jawa tengah perusahaan ini berada. Perusahaan ini mulanya didirikan oleh ayah Robert Budi Hartono dan Michael Hartono yang bernama Oei Wie Gwan pada tahun 1951. Yang pada saat itu masih bernama Djarum Gramofon, dan masih di bidang kretek. Kemudian namanya berubah menjadi djarum saja.

BACA JUGA  "Muhammadiyah Jawa" Berkunjung ke FAI UMSurabaya

Pada saat itu, menjelang ayahnya meninggal, djarum mengalami kebakaran hebat, sehingga peralatan dan perlengkapan lainnya musnah. Tak lama kemudian sang Ayah meninggal dunia. Kemudian, djarum diwariskan kepada kedua anaknya, yaitu R. Budi Hartono dan Michael Hartono untuk mengambil alih perusahaan. Dan akhirnya, djarum kembali bangkit lagi serta secepatnya memodernisasi seluruh peralatan pabriknya. Di tangan kedua bersaudara ini dan para karyawannya, djarum semakin besar hingga sampai saat ini. Produknya mengalami kenaikan drastis di seluruh dunia. Berdaya saing, dan begitu besar.

Pelajarannya, pada saat proses pembangunan dan pengembangannya mereka tidak egois. Tak menyalahkan satu sama lain. Di situ ada semacam kerjasama tim yang tertata rapi. Managerial dan entrepreneurial terbangun kuat berdasarkan Standar Operational Prosedur (SOP). Saling memberi pemahaman, memberi energi optimis satu dengan yang lainnya. Inilah mungkin titik keberhasilan PT djarum Indonesia yang sampai detik ini masih semangat tumbuh dan berkembang. Intinya ada semacam kerjasama tim.

Kita bisa tenggok lagi. Cerita inspiratif dari mantan presiden ke-3 Indonesia saat masih kuliah. Baiklah, memasuki tahun 1957, krisis ekonomi serta gejolak-gejolak politik di indonesia tak kunjung membaik. Waktu itu, Rudy atau BJ Habibie salah seorang korban dalam hal ini. Pada saat itu, Rudy sudah memasuki masa akhir dari studinya S-1 di RWTH-Aachen (Rheinisch-Westfalische Technische Hochschule Aachen) Jerman barat.

BACA JUGA  The Power Of Marketer

Pada september 1957, Rudy akan mendapat Vor Diplom dan gelar Cand. Ing. Hal ini menunjukkan, bahwa Rudy harus segera memutuskan penjurusannya di S-2. Ada banyak pilihan jurusan disitu. Rudy harus memilih Aerodinamika, Konstruksi Pesawat Terbang, Dinamika Gas, Aeroelastisitas, Struktur Pesawat, Propulsi, atau Mekanika Penerbangan. Lalu, yang menjadi dilema ialah, nilai Rudy bagus semua pada seluruh bidang itu. Sementara belum ada seniornya sesama mahasiswa yang bisa dimintain saran.

Luar biasa, ini pertanyaan besar. Mengapa Rudy yang biasanya sangat percaya diri, optimisme tinggi, kejeliannya berhitung pada semua peforma studinya, menjadi binggung dan meminta saran? apa sebabnya?. Jadi, ternyata Rudy baru sadar selama sepanjang kulianya S-1, bahwa untuk membuat pesawat itu tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak bisa dibangun secara individual, harus bersama-sama dalam energi yang disebut kerjasama tim.

Apalagi industri pesawat terbang merupakan rangkaian besar dari kerja bersama di berbagai bidang keahlian. Lebih binggungnya lagi, ketika Rudy bertanya kepada seluruh teman mahasiswa indonesia sefakultasnya di Aachen mengenai jurusan S-2nya, jawabnya sama semua. Mereka kebanyakan mengambil jurusan Aerodinamika. Karena jurusan itu sangat menyenangkan, banyak praktiknya. Sedangkan rudy mengambil jurusan yang lebih sulit, yaitu Kontruksi Pesawat Terbang.

BACA JUGA  Menselaraskan antara Kuliah, Kerja dan Organisasi

Tak mau terjebak dalam kebingungan terlalu lama, otaknya langsung berifikir tegas dan cerdas. Pada saat itu, Rudy menjabat sebagai ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Aachen. Nilainya tinggi, kemampuannya dihargai semua kalangan. Rudy dipercaya menentukan jurusan untuk mereka mahasiswa Indonesia. Kesempatan ini kemudian tidak dibuang sia-sia olehnya. Rudy langsung menentukan jurusan untuk mereka sesuai dengan nilai yang mereka dapat pada setiap mata kuliah.

Iya, karena dengan ini, kita akan melahirkan industri pesawat terbang di indonesia berdasarkan kerjasama tim dari berbagai bidang keahlian, sehingga bangsa dan negara sudah tidak lagi bergantung pada negara lain. Itulah Rudy Habibie, sangat cinta dengan kerjasama tim. Beliau tidak egois, meskipun kemampuan otaknya luar biasa. Selebihnya, Anda bisa lihat sendiri perjuangan Habibie terhadap indonesia. Dihargai atau tidak dihargai, Anda sendiri yang menentukan parameternya.

Dari beberapa contoh di muka, tentunya kita semua harus sadar, bahwa kerjasama tim itu penting dan merupakan senjata keberhasilan. Ibarat kita naik ke puncak gunung, maka setiap medan akan terlewati dengan nikmat dan mudah apabila kerjasama tim terjalin. Saling berbagi tenaga dan pikiran solutif. Melindungi, mendukung dan berjalan bersama. Disadari atau tidak, jawabannya akan kita temukan kalau sudah melakukannya. Mari kita belajar bersama.

“Perusahaan atau organisasi idaman akan mudah dicapai, apabila sumber daya manusia yang dimiliki mampu bersinergi dengan baik dan disiplin”.

SalamAction

Komentar

komentar

Leave a comment