Perempuan, Kemerdekaan, dan Masa Depan Diri


Oleh : Afrizky Fajar Purnawan, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UMSurabaya, Ketua IMM FAI UMSurabaya Periode 2017-2018

Dalam menentukan sikap dan titian masa depan, Perempuan, merujuk pada telaah Alef Theria (2012), memiliki kemerdekaan dalam menentukan masa depannya. Perempuan tidak hanya sibuk di dalam kamar dan di belakang dapur, melainkan mereka juga mempunyai sikap dan kebebasan untuk memilih pilihan yang terbaik untuknya. Tanpa dikekang oleh siapa pun.

Perempuan memiliki peranan yang kompleks, tak ada keraguan akan kemampuan dalam diri mereka. Perempuan memiliki jalan pikiran sendiri, dan terkadang yang menjadi halangan atas kemajuan seorang perempuan adalah konsep agama terhadap perempuan.

Murtadha Muthahhari menunjukan struktur pandangan dunia Islam tentang perempuan. Bahwa ada konsepsi yang salah bahwa perempuan adalah sumber godaan dan dosa. Perempuan diciptakan untuk laki-laki, perempuan untuk melahirkan keturunan dan perempuan tidak punya peran yang berarti dalam kehidupan masyarakat. Teks dan sejarah demikian perlu untuk ditelaah ulang.

Pada hakikanya perempuan adalah mahluk yang lemah lembut, ia sejuk bagaikan alam, tapi ia rapuh bagaikan kapas, ia menjadi tawanan bagi perasaannya, yang mudah terbuai hanya dengan kata manis dari lawan jenisnya.

Perempuan harus mampu keluar dari cengkraman dan pemancungan perasaan yang disebabkan oleh beberapa laki-laki yang tak setia dan penuh rayuan gombal. Perempuan harus cerdas memilih calon imam yang baik, untuk anak-anaknya nanti.

Pada zaman millenial ini, ternyata masih ada pernikahan yang didasari oleh asas perjodohan. Di Sumenep Madura, beberapa praktek perjodohan masih sering dijumpai. Terkadang, sang Ayah memilihkan calon suami untuk anak perempuannya, dan seorang anak hanya bisa diam dan menerima keputusan itu, tanpa mampu melawan atau pun menolak.

Saya punya sahabat yang sekarang menjadi guru di MTs Muhammadiyah. Ia adalah korban perjodohan yang gagal. Ia dijodohkan dengan sepupunya sendiri, ia tidak mampu menolak kemauan orang tuannya. Namun, karena persoalan jarak dan kerinduan, perjodohan itu pun dibatalkan.

Rasa sakit menghampiri, namun itu adalah realitas yang harus diterima dengan lapang dada. Kasus seperti ini bukan hanya terjadi pada sahabat saya, diluar sana pun banyak yang mengalami hal serupa. Lantas, apa falsafah kemerdekaan itu ? terutama bagi perempuan.

Profesor Driyakara mengatakan bahwa kemerdekaan itu harus mempunyai kekuasaan untuk menguasai diri sendiri dan perbuatannya. Tentu saja, seseorang yang telah merdeka tidak boleh merampas kemerdekaan orang lain. Sebab, di balik kemerdekaan diri sendiri ada kemerdekaan orang lain yang harus kita hargai dan hormati.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya. Kini sedang Studi Doktoral (S3) Dirasah Islamiyah ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment