Perubahan dan Tong Sampah Peradaban


Ketika Henry Ford menemukan prototype mobil pada awal abad 19, dimana saat itu masyarakat biasa menggunakan kereta kuda untuk berkendara, seorang kawannya, Elon Musk bertanya, “Apa yang salah dengan kuda?”

– Walter Isaacson dalam bukunya, “The Innovators” –

 

Semua orang sepakat, bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Siapapun yang tidak melakukannya, maka lambat laun ia akan tercampakkan. Di semua bidang, perubahan mutlak menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan, baik itu di bidang ekonomi, politik, hukum, bahkan agama. Perubahan ini yang kita kenal dengan istilah Inovasi.

Pada dasarnya, inovasi dapat diklasifikasi menjadi dua hal berbeda, yakni Invention dan Discovery. Invention adalah sebuah perubahan yang terbentuk atas dasar kesengajaan, misalnya adalah penemuan di bidang teknologi, model pakaian, dan sebagainya. Adapun Discovery adalah perubahan yang muncul bukan atas dasar kesengajaan, misalnya saat Colombus menemukan benua Amerika pada tahun 1492, ia tidak benar-benar dengan sengaja menemukan hal yang baru, tetapi memang benua tersebut sudah ada sebelumnya.

Konsep “Tajdid” yang digaungkan oleh Muhammadiyah tentu memiliki kaitan yang amat erat dengan dinamisasi kehidupan akibat perubahan zaman. Tentu perubahan sebagaimana dimaksud berimbang dengan Purifikasi yang dilakukan dalam koridor Aqidah dan Ibadah. Artinya, ada hal yang bersifat konstan, dan ada yang bersifat fleksibel. Al Jam’ baina al tsubut wa al murunah.

Bagaimana memulai perubahan? Allah mengingatkan kita untuk senantiasa melakukan evaluasi kemudian menjadikan hasilnya sebagai bekal melakukan perubahan. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, 59:18)”

Akhirnya, mari sejenak kita melakukan evaluasi terhadap kehidupan kita pribadi, kemudian hasil dari evaluasi tersebut kita jadikan sebagai bahan bakar untuk melajunya lokomotif perubahan. Perubahan adalah keniscayaan, dan siapapun yang enggan melakukannya, maka bersiaplah untuk dicampakkan, dalam tong sampah peradaban.

Komentar

komentar

Dibaca : 2,064 pengunjung.