Rendah Hati, Rendah Diri Kok Beda Tipis?


Total kunjungan 1,563 , Kunjungan hari ini 25 

“Kerendahan hati bukanlah hal yang memalukan melainkan sebuah karunia dan keberanian., Karena kerendahan hati merupakan suatu cara untuk mempengaruhi orang lain”

Oleh : Annisa Nurul Jannah

Bisa jadi diantara kita pernah berniat untuk rendah hati tetapi tidak sepenuhnya menguasai apa itu rendah hati. Malah ujung-ujungnya yang terjadi justru rendah diri (memalukan diri sendiri). Dalam implementasinya pun kita harus peka akan kondisi dan situasi karena tawadhu’ pun memiliki kondisi dan situasi yang kapan kita tawadhu’ kapan tidak. Saya mencoba memberikan beberapa contoh, ketika si Fulanah disuruh untuk maju kedepan mengutarakan sebuah pendapatnya dia enggan dengan berdalih tawadhu’, ini tawadhu’ yang kurang benar penempatan. Malah akan terjadi salah makna, tawadhu’ yang arti sifatnya rendah hati terbalik menjadi rendah diri. Bisa jadi disini kita sendiri mengalami nya bahkan setiap hari.

Saya akan memaparkan sedikit penjelasan apa itu Rendah Hati (Tawadhu’) dan apa itu Rendah Diri?

Pengertian tawadhu’ yaitu perilaku manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, angkuh, congkak, besar kepala,atau katakata lain yang sepadan dengan tawadhu’ (Poerwadarminta, 1982: 26).

Tawadhu’ artinya rendah hati, tidak sombong, lawan dari kata sombong atau takabur. Yaitu perilaku yang selalu menghargai keberadaan orang lain, perilaku yang suka memuliakan orang lain, perilaku yang selalu suka mendahulukan kepentingan orang lain, perilaku yang selalu suka menghargai pendapat orang lain (Ilyas, 2001: 123)

Saya yakin dalam diri masing-masing kita terdapat sifat tawadhu’. Merendahkan hati, berusaha mengutamakan orang lain. Memang apabila kita mengutamakan diri pribadi akan ada banyak keuntungan. Tetapi bukan itu yang dicontohkan Al-Quran dan Rasulullah.

Allah Berfirman Al-A’raf ayat 55 yang artinya “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.”(Kemenag RI, 1993: 157).

Al-Isra’ ayat 23 yang artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.“ (Kemenag RI, 1993: 284).

BACA JUGA  Beginilah, Salah Satu Wajah Lembaga Pendidikan di Thailand Selatan

Al-Furqon ayat 63 “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orangorang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orangorang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata menghina), mereka mengucapkan, “salam” (Kemenag RI,1993, 365).

Dari ketiga ayat ada 3 macam tawadhu’. Pertama, Tawadhu’ kepada Allah SWT yang bisa disebut disini bisa Rendah Hati dan Rendah Diri karna ini merupakan antara Hamba dan Pencipa. Kedua, Tawadhu’ kita kepada kedua orang tua. Disini masuk kategori Rendah Hati bisa juga Rendah Diri namun dilihat kondisi untuk merendahkan Diri. Ketiga, Tawadhu’ dengan sesama manusia dan makhluk Allah disini masuk kategori Rendah Hati bukan Rendah Diri.

Rendah Diri berarti kehilangan kepercayaan diri. Sangat berbeda jauh dengan Rendah Hati.

Tawadhu’ salah satu penunjang hubungan sosial antar sesama. Sartini, N.W(2009 : 35) mengatakan, Agar hubungan antarsesama tetap harmonis diperlukan sikap dan toleransi yang tinggi dan sikap saling menghargai satu sama lain. Oleh karena itu, hubungan sosial harus dijaga agar selalu dapat terjalin harmonis karena manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Untuk menjaga agar hubungan sosial tetap terjalin dengan baik setiap orang hendaknya memilki sifat halus dan rendah hati yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi. Hal ini dimaksudkan agar setiap tutur kata dan tindakannya dapat membuat senang orang lain. Dalam budaya Jawa ada ungkapan-ungkapan yang menggambarkan hubungan antara sesama.

Tuturan verbal sebagai cermin dari keinginan agar memiliki sifat rendah hati adalah tidak ingin menyakiti hati orang lain dalam berbicara maupun bertindak.  Agar setiap orang memiliki sifat rendah hati, orang tua harus selalu mengingatkan kepada siapa pun entah dalam bentuk pemberian nasihat, peringatan, atu kritikan. Aja adigang, adigung, adiguna mengandung nasihat yang berisi agar orang tidak sombong. Diharapkan dengan ungkapan tersebut orang yang mendengarkan nasihat tersebut dapat tumbuh dan berkembang sikap rendah hatinya terhadap orang lain. Kesombongan seseorang diibaratkan seperti sifat gajah yang mengandalkan kekuatannya (adigung), sifat ular yang. mengandalkan bisanya (adigang) dan sifat kijang yang mengandalkan kemampuan melompatnya (adiguna). Ungkapan aja dumeh juga mengandung  nasehat agar orang tidak lupa diri ketika sedang dalam posisi beruntung. Begitu juga aja kumingsun berisi nasihat agar orang tidak memamerkan kekuasaannya dengan cara merendahkan orang lain.

Selain untuk sosial Rendah Hati merupakan sifat pemimpin. Bagi para eksekutif, kerendahan hati berarti mereka tidak dapat menikmati keuntungan atas keberhasilan mereka. Kenyataannya, kerendahan hati bukanlah hal yang memalukan melainkan sebuah karunia dan keberanian. Kerendahan hati merupakan suatu cara untuk mempengaruhi orang lain. Pemimpin yang rendah hati adalah pemimpin yang dapat memberikan kekuatan pada karyawan dan perusahaan. Penelitian Marshal Goldsmith menunjukkan pemimpin bisnis memberikan penghargaan yang tidak tepat pada kemampuan mereka. Ketika perusahaan mereka berkembang, para pimpinan selalu menghubungkan seluruh karakter mereka dengan keberhasilan mereka, walaupun sebenarnya mereka berhasil karena beberapa dari karakter mereka. Kerendahan hati adalah langkah utama untuk menghancurkan khayalan para pemimpin tersebut. Pemimpin yang rendah hati tidak akan memuji dan membanggakan kemampuannya ataupun dirinya sendiri. Mereka dapat menciptakan lingkungan di mana orang menjadi senang bekerja sehingga menghidupkan kreatifitas dan inovasi yang akhirnya membawa perusahaan menuju keberhasilan. Dari kerendahan hati, muncul empati. Empati menghasilkan penghargaan yang dapat diwujudkan dengan gerakan sederhana, atau hadiah dalam bentuk materi dan pujian dari perusahaan. Pemimpin yang empati akan mendengarkan dan mengumpulkan ide terbaik dari setiap orang kemudian mewujudkannya pada perusahaan sehingga perusahaan dapat terus berkembang ke arah yang lebih baik bagi pimpinannya, karyawannya, maupun supplier dan pelanggannya. (Baker, D., Greenberg, C., & Hemingway, C.,2006 : 6-7)

BACA JUGA  Belajar Menjadi Manusia Solutif

Diantara faidah-faidah tawadhu dan pengaruhnya terhadap akhlak seorang hamba adalah sebagai berikut : 1). Mudah menerima kebenaran dari orang lain tanpa melihat jenis, keturunan, kedudukan, pangkat dan usia. 2). Tidak gampang meremehkan manusia. 3). Terciptanya manusia yang lurus dan saling mencintai,seperti ibarat jasad yang satu, tidak ada padanya seorangpun yang meninggikan diri atas yang lainnya. 4). Menampakkan kekuatan, power (kekuasaan) dihadapan orang kafir. 5). Suka memaafkan, lapang dada, dan merendah terhadap orang-orang yang beriman. 6). Bersikap lemah lembut terhadap anak kecil dan kaum lemah. 7). Diangkat derajat dan kedudukannya. 8). Merasakan lezatnya iman. 9). Tidak berbangga diri, dzalim dan tidak senang ketenaran. 10). Berakhlak mulia dan pelakunya mendapat kedudukan yang tinggi dan derajat yang agung serta keutamaan yang melimpah. (Muniroh, D. L. (2015).

Banyak diatas telah diulas keuntungan-keuntungan kita dalam rendah hati, dari segi Al-Quran, dari adat, maupun kepemimpinan.

Sikap takaburadalah lawan dari sikap tawadhu’. Takabur ialah memandang diri sendiri dengan pandangan bahwa dirinya mulia/gagah dan memandang orang lain dengan pandangan bahwa orang itu hiha/lemah.

BACA JUGA  Kuota Terbatas, Ratusan Peserta Antusias Ikuti Seleksi Beasiswa

Sikap takabur adalah sifat tercela yang tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi pelakunya. Dampak dari sikap takabur bagi masyarakat Islam adalah sebagai berikut: 1). Pengingkaran terhadap kebenaran dan tidak tunduk pada kebenaran tersebut. 2). Teperdaya terhadap ilmu yang dimiliki, padahal ilmu yang sedikit tersebut sangatlah sedikit. 3). Enggan lebih mendalami ilmu pengetahuan karena merasa dirinya telah mengetahui dan memahami segala sesuatu.Prasetya, B. (2014).

So, beda kan rendah hati dengan rendah diri. Satu lagi ada sebuah pengalaman seorang teman dimana dia sulit untuk berendah hati dengan alasan “Nanti ga dihormati, Nanti temen-temen semena-mena sama kita”. Jangan sampai kita justru menjadi Takabur. Ini jadi tugas kita untuk selalu mengingatkan. Ini Allah sudah nganjurkan di dalam al-Quran Sikap tawadhu’ tidak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah, bahkan sebaliknya, dengan tawadhu’ ini keberadaan dirinya di hadapan orang banyak menjadi dihormati, dan disenangi.

Mau temen kita tetap semena-mena sama kita ya itu urusan dia dengan Tuhannya. Gausah dibawak Ribet ya. Asal kita terus belajar mau belajar, salah belajar lagi, kurang belajar lagi.

Yuk Tawadhu’!

 

Daftar Rujukan

Ilyas, Yunahar, Drs, Lc, MA, 2001, Kuliah Akhlaq, LIPI (Pustaka Pelajar), Yogyakarta

Poerwadarminta, WJS, 1982, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta.

Sartini, N. W. (2009). Menggali nilai kearifan lokal budaya Jawa lewat ungkapan (Bebasan, saloka, dan paribasa). dalam Jurnal Logal.

Baker, D., Greenberg, C., & Hemingway, C. (2006). What happy companies know. Pearson Education.

Muniroh, D. L. (2015). Pengaruh Intensitas Kepemimpinan Orang Tua Terhadap Sikap Tawadhu Anak di Dusun Ngelosari Desa Jombor kec. Tuntang kab. Semarang tahun 2014. Skripsi.

Prasetya, B. (2014). Pengaruh Persepsi Santri atas Karisma Kiai dan Pengamalan Tradisi Pondok Pesantren Terhadap Sikap Tawadhu’santri.

 

Biodata

Dilahirkan dengan Nama Anisa Nurul Jannah, 21 tahun yg lalu, tepatnya pada tanggal 16 Maret 1996, di Pulau Madura, Kota Sumenep. Panggilan akrab Aan. Lulusan dari SMA Negeri 1 Sumenep. Sedang menempuh kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam. Masih aktif di UKM Tapak Suci Cabang 19 UMSurabaya. Kritik dan saran bisa hubungi email : disini.aan@gmail.com. Semoga Bermanfaat.

 

Komentar

komentar

Leave a comment