Ta’awun Untuk Negeri Dalam Perspektif Pergerakan


Perayaan Milad Muhammadiyah 106 H/109 M oleh PWM Jawa Timur di Gedung at-Tauhid UMSurabaya, 18 November 2018

Oleh Ahmad Muhammad Assyifa, Alumni IMM FAI UMSurabaya/Anggota Kamisan Surabaya

18 November 2018, 106 Tahun lalu, salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini lahir. Muhammadiyah lahir dan berkiprah serta bergerak untuk pembebasan dan pembangunan bangsa ini. Pendirinya, KH Ahmad Dahlan, dengan analisis kritis berpikirnya, rupanya sukses memanifestasikan nilai pembangunan itu ke dalam kehidupan masyarakat.

Banyak ahli atau ilmuwan meneliti seputar progresifnya pergerakan Muhammadiyah, termasuk pada sang pendiri, KH Ahmad Dahlan. Mulai dari peneliti asal Jepang Mitsuo Nakamura, Kuntowijoyo dan masih banyak lagi. Ini dibuktikan dengan banyaknya literatur perihal Muhammadiyah. Dan salah satu titik progresifnya (menurut penulis) dalam buku-bukunya ialah: Berani dan bergerak.

Ketika Muhammadiyah hari ini telah matang dalam pengorganisasian, yang mampu mengembangkan pendidikan, kesehatan, sosial dan teknologi, nampaknya masih ada banyak hal yang belum menjadi titik sentral pembahasan secara nasional: semisal tentang HAM, agraria, perburuhan dan pertambangan.

Kasus perusakan lahan oleh korporasi di Banyuwangi, Jember, Pasuruan, Malang, Jogja hingga Papua sekalipun, Muhammadiyah masih belum “se-progresif” saudara mudanya: NU. Yang pada dekade ini NU telah konsen dan konsisten dalam konteks tersebut.

“Ta’awun Untuk Negeri” ala Muhammadiyah, tentunya sangat bermakna dan menggelora dalam diri warga Muhammadiyah. Akan tetapi, menjadi utopia belaka ketika dihadapkan pada persoalan yang menimpa rakyat kecil di negeri ini. Peranan Muhammadiyah masih belum sampai tingkat “Progresif” dan “Berkemajuan”.

Beberapa dosen Fakultas Agama Islam UMSurabaya berpose bersama di Background Photobooth pada Agenda Milad 109 H Muhammadiyah di UMSurabaya

Ta’awun sejatinya memberikan impact lebih luas kepada masyarakat. Hari ini ta’awun seolah-olah menjadi jargon monoton yang bias, apabila persoalan-persoalan hari ini ternyata masih saja belum tersentuh dengan baik oleh Muhammadiyah. Di sini, penulis merasa perlu adanya konsep pergerakan baru oleh kaum mudanya. Yang mana, orientasinya ialah membebaskan rakyat yang tertindas!

Sehingga pada peringatan Milad yang ke 106 Tahun ini, Muhammadiyah janganlah sampai terlena dan merasa besar dan mapan. Artinya, jika KH dulu berhasil mencipta dan mengaplikasikan beberapa rumusan atau teologi: Teologi Al-Ashr dan Teologi Al-Ma’un, maka Muhammadiyah hari ini, harus merumuskan ulang cita-cita KH Ahmad Dahlan dalam rangka menuju masyarakat yang berkemajuan, yang membebaskan dari segala bentuk ketidakadilan, baik ketidakadilan terhadap diri sendiri, lingkungan sekitar,
hingga masyarakat luas.

Salam berkemajuan, adil dan progesif!

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya. Kini sedang Studi Doktoral (S3) Dirasah Islamiyah ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment