Thailand dan Budaya Santri Muslim yang Baru Kutemui



Oleh: Khalfun Rais Shabandini, Peserta KKN Internasional di Thailand, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UMSurabaya

Angin berhembus lembut sore itu, mengarak beberapa awan tipis di Phattalung, Thailand, lalu melabuhkan rasa rindu akan Indonesia, tempat yang telah kami tinggal hampir seminggu yang lalu. Saya bersama 22 teman Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, akan menjalani KKN Internasional di Thailand selama 3 bulan ke depan.

Saya ditempatkan di Pondok Pesantren Phattana Wiyatta Islamic School wilayah Patthalung, Thailand, bersama teman satu Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) Diah Ayu Ningtyas.

Daerah yang kini saya tempati merupakan daerah dengan mayoritas masyarakat muslim. Dalam nuansa pendidikan Islam yang berbasis pesantren ini, kami merasakan kedekatan antara guru dan murid, namun tetap ada adab dan sopan santun.

Awalnya, yang saya tahu, etika yang ada di Thailand saat bertegur sapa untuk menunjukkan sopan santun adalah menundukkan kepala dan merapat tangan lalu mengucapkan “Sawadi khah” (untuk perempuan) dan “Sawadi khab” (untuk laki laki).

Ternyata, sepanjang pengalaman dalam sepekan ini justru mereka langsung saling berucap salam “Assalamualaikum”, menebar senyum lalu mulai berbincang-bincang. Kadang kala, momen seperti ini membuat saya speechless. hehe.

Pengalaman lain yang membuat saya tak bisa berkata apa pun, adalah kejadian di dapur. Suatu saat, kami diantar ke dapur oleh seorang santri bernama Maisaroh untuk mengambil makanan. Sesampai di pintu dapur, Maisaroh bilang “ Teacher masuk dulu”. Saya mengajaknya untuk masuk bersama, dia menjawab “ Murid tak boleh, teacher boleh”.

Saya melihat di dalam dapur masih ada santri laki laki yang sedang mengambil makanan. Saya baru memahami, bahwa telah ditanamkan dalam diri mereka rasa malu dan menghindari khalwat antara santri laki-laki dan perempuan. Mungkin begini yang terjadi dalam budaya masyarakat muslim yang ada di pesantren, terutama pesantren salaf.

Budaya lain yang saya temui di Pesantren Phattana Wiyatta Islamic School adalah berkaitan dengan kedisplinan shalat berjamaah. Pada setiap shalat, selalu ada absensi kehadiran santri melaksanakan sholat di masjid dengan berjama’ah.
Semua santri harus datang, bahkan santriwati yang tidak sholat pun harus ikut hadir, dan berada di serambi masjid. Tidak boleh bermain saat sholat berlangsung. Santriwati duduk, tenang, dan menunggu sholat selesai.

Baru setelah sholat selesai, guru akan mengabsen dengan memanggil nama santri. Jika ada yang kedapatan tidak melaksanakan sholat berjama’ah di masjid, maka ia akan dikenakan hukuman yaitu dipukul dengan rotan dan disaksikan santri-santri lainnya.
Guru di sini selalu mengenggam rotan di tangannya di mana pun berada. Kadangkala, saya merasa bahwa tekanan dan ancaman (bahkan teror) bisa menciptakan keteraturan dan kedisplinan. Namun, tanpa “kesadaran” dalam diri untuk melakukan kebaikan, kedisiplinan bisa menjadi pseudo reality (realitas semu). Ah, saya masih perlu banyak belajar untuk menelaah hidup ini.

Udara masih berhembus lembut sore ini. Teman saya, menggoda bahwa kita seperti di Pacet, sebuah wilayah Mojokerto yang menawarkan kondisi serupa dengan Phattalung. Saya tersenyum mengiyakan, sembari merasakan denting waktu berjalan melamban. Sambil dihinggapi rasa rindu redam Kota Surabaya, Indonesia, kami mempelajari dan akan terus belajar bersama masyarakat Thailand.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya. Kini sedang Studi Doktoral (S3) Dirasah Islamiyah ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment