The Power Of Marketer


Total kunjungan 414 , Kunjungan hari ini 6 

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

Serasa duduk di bawa pohon beringin dengan angin sepoi-sepoi yang merasuk dalam hati dan fikiran agar tetap segar. Itulah yang saya rasakan setelah melakukan presentasi di IGTKI (Ikatan Guru TK Indonesia) beberapa waktu lalu. Maka, sebagai hadiahnya, alam memberi kesempatan saya untuk menulis catatan sederhana yang kemungkinan besar sangat bermanfaat bagi kita semua.

Terdapat banyak persepsi seseorang mengenai marketing. Persepsi negatif dan positif. Itu pasti, sangat beragam. Ya, saya sering melihat fenomana lapangan yang nyata terjadi. Ketika sebagian orang mengatakan bahwa Sales-Marketing cukup hanya modal bisa “ngomong” saja sudah jalan. Kadang, ada juga presepsi yang muncul, bahwa Sales-Marketing omongannya sangat berpotensi tidak jujur. Tidak tepat waktu, suka ribet ini, ribet itu, dan segala macam itulah. Bisanya alasan saja.

Iya memang ada betulnya, tetapi tidak semuanya begitu. Mari kita lihat bersama-sama.

Sales-Marketing apabila tidak bisa ngomong maka ia tidak akan mendapat customer. Dan tidak bisa memasarkan produk-produk yang ia bawa. Itu jelas. Lalu, tidak tepat waktu? Ada benarnya, Marketing itu customernya tidak satu atau dua orang, melainkan banyak customer. Sehingga dengan banyaknya customer, ini sangat berpengaruh pada kedisiplinan waktu. Dan ini wajar. Tapi tidak semua marketing sebagaimana demikian. Kemudian, jika banyak alasan? Iya ada benarnya. Lagi-lagi tidak semuanya begitu. Kenapa kok banyak alasan? Memberikan alasan logis itu wajib bagi seorang marketing, karena itu adalah senjata dimana korelasi dengan customer tidaklah renggang, terjalin strategis. Tapi, jika alasan itu negatif, maka itu tidak bisa dibenarkan.

BACA JUGA  Fokuslah pada Proses

Jadi, tergantung dari sisi positif atau negatif orang memandang. Harus adil saran saya, buat sebagian orang yang berasumsi sebelah mata tentang Sales-Marketing.

Pelajaran berharga, begini loh, ujung tombak perusahaan ialah sales-marketing. Tanpa adanya, saya sebut “marketing” perusahaan tidak akan bisa dikenal orang, apalagi tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan besar dunia. Bukan hanya dalam perusahaan saja, instansi sosial, pendidikan, publik lainnya, tanpa marketing juga tidak bisa dikenal orang (benar). Contoh, sekolah jika tidak ada tim humas (marketing) maka sekolah sulit mendapatkan murid. Tidak bisa dikenal banyak orang. Jadi, sesungguhnya sangat luar biasa peran marketing itu dalam hal pendidikan, bisnis, dan seterusnya.

BACA JUGA  Belajar Berbuka Puasa Sewajarnya

Kemudian, apa sih sebenarnya marketing itu?

Banyak literasi ilmiah dan artikel-artikel menjelaskan, menurut William J. Stanton, marketing ialah pemasaran, ini sistem keseluruhan dari berbagai kegiatan bisnis atau usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga barang atau jasa, mempromosikannya, dan mendistribusikannya kepada konsumen dan bisa memuaskan konsumen. Sangat kompleks bukan? iya, begitulah marketing.

Saya ilustrasikan begini, secara keseluruhan, marketing itu tidak cukup hanya dengan modal ngomong dan tenaga fisik yang kuat. Cara berfikir (knowledge) menata, merencanakan, ilmu pengetahuan tentang manajemen, kecepatan begitu dibutuhkan. Sehingga pencapaian untuk melakukan pemasaran barang dan jasa bisa sempurna. Lebih-lebih customer menjadi puas dan tidak dikecawakan.

Seorang marketer juga harus pandai berfikir lapangan. Bagaimana mencari jalan keluar ketika menemukan kebuntuan. Tetap sabar dalam menghadapi berbagai siulan buruk customer di lapangan. Sikapnya sopan, ramah dan seterusnya. Jadi, bukan tidak mungkin, marketing harus mengerti manajemen, ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer, sikap sabar, fisik kuat, rela dengan gempuran-gempuran prahara yang menimpa, dan tentu rasional.

BACA JUGA  Sosok Yang Terlupakan

Kita bisa ambil contoh, dalam bidang industri migas. Ada Saudi Aramco di Arab Saudi, PT Pertamina Persero Indonesia dan Petronas Malaysia. Dalam bidang elektronik, ada Samsung dan LG di korea, Nokia di Finlandia. Ada lagi, Sony di Jepang. Dalam bidang teknologi mesin, Yamaha, Honda, Toyota di Jepang. Mercedez dan BMW Jerman. Dan masih banyak lagi perusahaan-perusahaan powerhouse (dunia) yang besar. Hal ini, salah satu dikarenakan peran marketingnya. (Mutasi DNA, Powerhouse, Rhenald Kasali).

Jadi, bisa disimpulkan, menjadi marketing adalah sebuah aktivitas atau profesi pekerjaan yang sangat disiplin dalam kognitif, sentuhan afektif dan psikomotor (Myelin). Brain memori dan muscle memori sangat berfungsi sedemikian mestinya. Saya bisa katakan, dengan pelajaran-pelajaran yang saya alami sendiri di lapangan, untuk mencapai keberhasilan salah satu langkah ialah dengan menggunakan cara berfikir marketing. Ulet, pola pengambilan keputusan strategis, sigap, harus sabar, santun, cepat menghadapi segala masalah datang dan diselesaikan.

Wallahua’lam

Komentar

komentar

Leave a comment