Toleransi Terhadap Sesama


Oleh : Mei Diana Andriani

Tiap-tiap agama yang ada di dunia, baik agama wahyu (revealed religion) maupun yang bersumber dari adat kemudian dikokohkan oleh para pemimpinnya (natural religion) masing-masing memiliki keyakinan dan tata nilai yang dianggap benar oleh para pemeluknya. Mengubah keyakinan, tidak sama dengan menibah baju berdasarkan selera, karena ia merupakan sesuatu yang fundamental (asasi) (Munawwir, 1984).

Dalam Islam terdapat hukum yang mengatur masalah kenegaraan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal itu. Islam bukanlah hukum yang sempit yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dalam bentuk ritual semata-mata, tetapi lebih dari itu ia mengatur  hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan masyarakatnya dan masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya, terutama masyarakat yang lain agama Islam (Mz & Ahnan, 1996).

Islam meyakini, bahwa kebenara yang bersumber dari Tuhan berlaku sepanjang zaman, sedang yang bersumber dari manusia hanya bersifat sementara dan suatu saat akan berubah bila ternyata ada penemuan-penemuan baru. Meskipu  demikian, pemeluk Islam diperintahkan untuk menghormati keyakinan orang lain itu, sepanjang mereka tidak mengganggu serta tidak memaksakan keyakinannya.

ARTI DAN SEGI-SEGI TOLERANSI

            Toleransi, di dalam bahasa Arabnya biasa dikatakan ikhtimal, tasaamukh, yang artinya sikap membiarkan, lapang dada. (Samakha tasaamakha = lunak, berhati ringan). Atau ada yang memeberi arti tolenrantie  itu dengan kesabaran hati atau membiarkan, dalam arti menyabarkan diri walaupun diperlakukan kurang senonoh umpamanya (Hasyim, 2015).

            Menghindari tindak kekerasan atau menjauhkan cara paksaan dalam menggoalkan suatu ide atau keyakinan, adalah termasuk bagian dari sikap tasamuh (toleran). Hubungan sosial kemasyarakatan bisa terjalin rapat tak ada ganggu-mengganggu satu sama lain dan terhindar dari ketegangan, bila satu sama lain memiliki sikap tasamuh.

SEGI-SEGI TOLERANSI

            Suatu tanda bahwa ada sikap dan suasana toleransi diantara sesama manusia, atau katakanlah diantara pemeluk agama yang berbeda ialah segi-segi dibawah ini, antara lain:

  • Mengakui hak setiap orang

Suatu sikap mental yang mengakui hak setiap orang didalam menentukan sikap-laku dan nasibnya masing-masing. Tentu saja sikap atau perilaku yang dijalankan itu tidak melanggar hak orang lain, karena kalau demikian, kehidupan di dalam masyarakat akan kacau.

  • Menghormati keyakinan orang lain

Landasan keyakinan di atas adalah berdasarkan kepercayaan, bahwa tidak benar ada orang atau golongan yang berkeras memaksakan kehendaknya sendiri kepada orang atau golongan lain. Tidak ada orang atau golongan yang memonopoli kebenaran, dan landasan ini di sertai catatan, bahwa soal keyakinan adalah urusan pribadi masing-masing orang.

  • Agree in Disagreement

“Agree in Disagreement” (setuju di dalam perbedaan) adalah prinsip yang selalu didengungkan oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Mukti Ali. Perbedaa tidak harus ada permusuhan, karena perbedaan selalu ada di dunia ini, dan perbedaan tidak harus menimbulkan pertentangan.

  • Saling mengerti.

Tidak akan terjadi saling menghormati antara sesama orang bila mereka tidak ada saling mengerti. Saling anti dan saling membenci, saling berebut pengaruh adalah salah satu akibat dari tidak adanya saling mengerti dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.

            Namun bila konkurensi adalah naluri dan watak manusia, hal ini tidak akan busa melanggar prinsip diatas, asal dilakukan dengan cara yang baik dan sehat, sepanjang tidak menjelekkan orang atau golongan lain. Misalnya para pedagang yang saling banting membanting harga barang dagangan orang lain, hal ini melanggar prinsip toleransi. Boleh memprogandakan barang dagangannya, asal hanya menjanjung miliknya sendiri saja, sesuai dengan kenyataan. Mencegah persaingan tidaklah mungkin, tetapi persaingan yang sehat, hal ini bahkan menjadi sebab kemajuan, artinya berlomba-lomba dalam kebaikan.

  • Kesadaran dan kejujuran

Di dalam sebuah bus umum, ada seorang anak yang menangis. Orang yang tidak sadar dan tidak mempunyai rasa toleransi, pastilah ia menggerutu, mengumpat dan bersungut-sungut. Tetapi bagi mereka yang mempunyai sikap jiwa yang toleran, pastilah mereka menekan perasaannya, dan didalam batin mereka berkata, bahwa dia juga pernah mengalami hal demikian itu, alangkah repotnya. Atau ia merasa kasihan kepada si ibu anak tersebut, ia ikut merasakan betapa sedihnya dan repotnya si ibu itu.

Dengan demikian toleransi menyangkut sikap jiwa dan kesadaran batin seseorang. Kesadaran jiwa menimbulkan kejujuran dan kepolosan sikap-laku.

Bila telah sampai kepada tingkat yang demikian, maka masyarakat akan tertib dan tenang, hal ini bila toleransi dianggap sebagai salah satu dasarnya. Artinya salah satu sebab yang menjadikan ketertiban hidup bermasyarakat telah dijalankan oleh anggota masyarakat itu.

  • Jiwa falsafah Pancasila

Dari semua segi-segi yang telah disebutkan diatas itu, falsafah Pancasila telah menjamin adanya ketertiban dan kerukunan hidup bermasyarakat. Dan bila falsafah Pancasila itu merupakan kensensus dan diterima praktis oleh bangsa Indonesia, atau lebih dari itu, adlah merupakan dasar negara kita.

Enam segi-segi diatas mempunyai kedudukan yang sama yang seharusnya bisa berjalan dan dihayati oleh setiap orang bila ingin terlaksananya suasana toleransi dikalangan masyarakat Indonesia.

TOLERANSI DAN PROBLEMATIKANYA

  • Sebab-sebab tidak toleran (intolerance)

Dalam usaha memecahkan masalah, hendaklah mengetahui terlebih dahulu asal-muasal dari masalah itu. Ibarat dokter melakukan pengobatan, hendaknya mengetahui lebih dahulu penyakit yang diderita oleh pasien. Demikian juga halnya dengan toleransi, perdamaian, persamaan yang sering didambakan pada setiap manusia. Dalam kenyataan, yang terjadi malah sebaliknya. Saling berebut pengaruh, menonjolkan diri sendiri, itulah yang sering terjadi. (Munawwir, 1984)

Hal semacam itu terjadi karena adalah faktor yang memengaruhi, diantaranya :

  1. Nafsu ingin berkuasa

Setiap manusia, pada umumnya ingin diakui bahwa dirinya berperanan, diakui eksistensinya. Bila hal itu sudah berjalan mapan serta mendapat kehormatan, ingin pula memiliki pengaruh. Terdorong akan ambisi atau nafsu ingin berkuasa, mereka menjadi manusia memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Yang amat nampak ialah kalau orang lain memiliki banyak kelemahan. Mereka tidak merasa, kalau orang lain pun ingin diperhatikan, dihormati, diakui haknya, sebagaimana dirinya ingi juga dihormati dan diakui haknya.

Perasaan individualisme yang menonjol membawa sikap manusia lebih mengarah menuntut hak daripada menunaikan kewajiban. Sebaliknya, sikap altruisme yang menonjol, akan cenderung mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Golongan altruis lebih banyak menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.

  1. Merasa paling benar dan besar

Sebenarnya, tak ada ciptaan (makhluk) Tuhan yang sempurna di dunia. Ia memiliki kekurangan, kelemahan, dan ada kalanya berlebihan antara satu sama lainnya. Hanya sang Pencipta (Khalik) lah yang Maha Sempurna serta tak ada yang menandinginya, sikap takabur yang dimiliki manusia, berarti menandingi kedudukan sang Pencipta.

Jiwa takabur akan selalu memandang remeh atau rendah milik orang lain. Milik itu bisa bermacam-macam, apakah berbentuk benda, ideologi, agama maupun keyakinan. Dirinya menjadi lengah dan lemah dengan apa yang dilakukan, akan tetapi selalu memandang rendah Akan hasil karya orang lain. Rasa ingin menang sendiri dalam adu hujjah atau argumentasi dengan rasa emosi sering dilakukan. Dirinya selalu ingin pendapatnya didengar atau diperhatikan, sebaliknya ia tidak ingin mendengarkan pendapat orang lain. Sekalipun pendapat orang lain itu benar. Sikap emosional, akan membawa dan menjerumuskan manusia pada tindakan radikal tanpa adanya kontrol, sehingga kadangkala mereka terjerat dan terseret dalam usaha pengrusakan, sedang seharusnya amar ma’ruf  lebih didahulukan daripada usaha macam pengrusakan.

  1. Saling berprasangka (prejudice)

Prasangka berurat berakar dari akibat kebodohan (the ignorance to the something is the roat of the prejudice). Salah paham, curiga, praduga dan hanya didasarkan pada usaha meraba-raba, maka jalinan ukhuwah atau persahabatan malah semakin menjauh, pertentangan akan semakin meruncing, dan gejala penyakit tuduh-menuduh menjadi kambuh. Hal semacam itu biasa terjadi bail antar golongan, suku bangsa, negara atau antar agama.

  1. Kepicikan pandangan (fanatisme)

Semakin luas pengalaman dan cakrawala pandangan seseorang, maka semakin lapang dada pula menghadapi buah pikiran yang beraneka ragam coraknya. Dia merasakan orang lain melalui dirinya sendiri. Sebaliknya, kesempitan pandangan dan ditambah buta akan pengalaman, maka penghargaan akan buah pikiran orang lain semakin mengecil.

Seseorang yang picik pandangan, yang dicari dan ditelusuri adalah “perbedaan” dan banyak menaruh kecurigaan. Sebaliknya bagi orang yang berpandangan luas dia beranggapan, bahwa lawan pendapat adalah kawan berpikir. Akibatnya setiap ketidaksamaan pendapat atau jalan pikiran, dipakainya sebagai bahan perdebatan.

  1. Politik “pecah belah” kaum kolonialis

Agar potensi rakyat jajahan menjadi lumpuh, maka dilakukan politik “devide et empera”. Bentuknya dilakukan dengan jalan bermacam-macam. Rakyat dipecah belah dalam berbagai kelas, kemudian diadu domba. Pada kelompok yang satu dianak-emaskan, sehingga memiliki rasa takabur atau besar kepala dan akibatnya menjadi manusia penjilat, sedang disatu pihak dianak-tirikan sehingga merasa rendah diri dan akibatnya memiliki sikap reaksioner tanpa sadar.

Akibat-akibat tidak toleran

  1. Perpecahan

Kaum muslimin yang merupakan bagian terbesar dari pendudukan dunia sangat memegang peranan penting dalam menjada kerukunan baik dalam lingkungan sendiri, dengan lain agama atau antar bangsa-bangsa yang sangar heterogen dalam memilih pandangan hidupnya.

Perpecahan di kalangan kaum Muslimin, yang diakibatkan karena kurang tolerab (tasamuh) dalam mempertemukan aneka ragam jalan pikiran, akan membawa impak kepada golongan lain dalam upaya mempersatuka umat atau bangsa yang dibebankan kepadanya. Mereka tentu bertanya, “Bagaimana mungkin mengatur rumah tangga sendiri tidak mampu, apalagi mengatur golongan lain”.

  1. Tertutup menerima kritik, buah pikiran dan saran

Intolerans (tidak toleran) adalah manifestasi dari sikap takabur, sedang takabur bersumber dari perasaan bahwa dirinya pling sempurna, tak ada yang melebihi atau menandingi dalam segalanya.

Perasaan paling sempurna, cenderung menutup kritik  dan saran, malahan lebih cenderung melakukan kritik terhadap orang lain. Kadangkala bentuk kritik yang dilancarkan terhadap dirinya dipandang ingin atau melawan atau merongrong kewibawaan. Sikap tertutup ini lambat laun membawa dirinya ke arah kemunduram karena menutup mata akan kelemahan dirinya. Ia tidak mau melakukan studi perbandingan, kemudian dari hasilnya dapat ditarik kesimpulan, mana harus ditolak, mana pu;a yang harus diterima.

  1. Bersikap isolatif dan radikar ekstern

Perasaan paling benar dan sempurna menyebabkan diri seseorang merasa tidak perlu mendengarkan pendapat, saran, atau kelebihan orang lain. Bahkan ia memandang orang lain selalu memiliki kelemahan atau kekurangan. Sikap integraif berarti ada usaha menyatu serta mempertemukan antara kelebihan dan kekurangan. Superioritas yang dimiliki menyebabkan rasa Akuisme-nya menonjol, sehingga bola mau berkumpul dengan golongan yang tingkatannya dipandang rendah, dirinya merasa kuatir kalau martabatnya akan jatuh.

Daftar Rujukan

Hasyim, Umar., 2015. Toleransi dan Kemerdekaan Beragama. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Munawwir, dkk., 1984. Sikap Islam Terhadap Kekerasan, Damai, Toleransi, dan Solidaritas. Bina Ilmu. Surabaya

MZ, Labib., 1996. Toleransi dalam Islam. Bintang Pelajar, Surabaya.

Tentang Penulis

Mei Diana Andriani, Lahir di Surabaya pada tanggal 08 Mei 1998. Pendidikan SD, SMP, dan SMA diselesaikannya di Surabaya. Sekolah Dasar nya di SD Hiadayatul Ummah (2004-2010). Kemudian, pada tahun 2010 ia melanjutkan sekolah menengah pertamanya di SMP Unggulan Bina Insani. Di tahun 2016 ia telah lulus dari SMA Dr. Soetomo Surabaya. Dan sekarang, ia  tercatat sebagai salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, jurusan Pendidikan Agama Islam.

Komentar

komentar

Dibaca : 64,393 pengunjung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
1 + 28 =