Ujian dan Pendakian Level Kehidupan


Dalam kehidupan manusia, hampir di semua lini, selalu ada proses ujian untuk melangkah pada jenjang berikutnya. Di dunia pendidikan misalnya, ada ujian bagi anak SD/MI untuk menuju jenjang yang lebih tinggi di SMP/MTS. Begitu seterusnya hingga di perguruan tinggi dengan beragam lapis strata.

Bahkan, pada tiap semester di segala jenjang pendidikan itu pun digalakkan ujian juga. Berupa Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS), seperti yang sedang dilakukan oleh Fakultas Agama Islam (FAI) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di lingkungan UMSurabaya mulai hari ini, Senin 09 Januari 2017.

Pada dasarnya, setiap ujian itu memiliki dua tujuan utama, yakni evaluasi dan (hak) pengakuan (confession). Pada UAS misalnya, ujian dilakukan demi evaluasi ketercapaian akademis, terpantau dari keselerasan penyampaian materi (mendasar pada kurikulum dan jurnal pendidikan) dan penyerapan materi ajar.

Ujian bermakna evaluasi bermuasal dari pemegang otoritas pendidikan yang berhak melakukan penilaian terhadap peserta didik. Sementara, dari sudut pandang peserta didik, ujian menjadi semacam hak yang terakui atas capaian jenjang pendidikan seseorang.

Artinya, ujian memang pada dasarnya memiliki tujuan alternatif untuk melegitimasi seseorang dalam  titian pendidikannya. Dengan kata lain, klaim  pengakuan  (confession ) atas keberhasilan capaian pendidikannya harus dengan melalui ujian, suka atau tidak suka.

Sehingga, pada akhirnya ujian akan selalu memiliki 2 mata agenda yang bertemu, berupa penilaian (evaluation)  oleh otoritas penyelenggara pendidikan dan pendidik serta klaim  pengakuan (confession) oleh peserta didik.

Kedua tujuan dari (adanya) ujian tersebut dapat ditelaah dalam siratan makna Surat al-‘Ankabut ayat 2. Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوُلُوْا أَمَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُوْنَ

 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dalam ayat tersebut, ungkapan “kami telah beriman” dapat dikatagorikan sebagai klaim Individu, a personal confession. Klaim akan selalu butuh penilaian, ujian, dan taksiran. Bahkan dalam beberapa kasus, klaim membutuhkan bukti.

Oleh karena itulah, klaim tersebut ditegaskan oleh ayat di atas dengan keberadaan ujian untuk mengevaluasi klaim. Hal ini berarti, ujian ( di mana diksi Al-Quran menggunakan kata fitnah ), terdapat titik temu antara evaluasi / penilaian Tuhan dan klaim personal.

Ada hal yang menarik, jika kita telaah dalam ayat tersebut. Keimanan pada dasarnya bersifat abstrak. Meski demikian, definisi yang kita terima terkait keimanan seringkali mempertemukan sisi abstrak dan konkretnya.

Seperti al-Tabari dalam Tahdhib al-Athar yang mendefinisikan iman dengan pemebenaran hati (dalam redaksi lain, bukan menggunakan tasdiq bi al-qalb, namun memakai diksi ma’rifat bi al-qalb, pengetahuan dengan hati), pengakuan lisan (iqrar bi al-lisan) dan perbuatan anggota tubuh (al-‘amal bi al-jawarih).

Jika keimanan yang mendasar pada sesuatu yang abstrak tetap memerlukan ujian konkret, begitu pula pendidikan yang sering kali bersifat kognitif dan abstrak pun butuh ujian. Lalu, manakala kita telah dan akan sering melakukan ujian pendakian level kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan, kapan kita menjalani ujian keimanan?

Semoga, saat ujian keimanan hadir di akhir nafas kehidupan sebelum merenggang nyawa, kita mampu melewatinya dengan sukses, termasuk pada ujian di tahap berikutnya mulai as’ilah barzakh, mizan al-amal, al-shirat, padang Mahsyar, hingga ujian opsional penempatan surga-neraka.  Semoga sukses.

Komentar

komentar

Dibaca : 2,425 pengunjung.