URGENSI KEIMANAN DAN KESAMAAN VISI DALAM BERJUANG


Total kunjungan 135 , Kunjungan hari ini 1 

Ainul Yakin, Mahasiswa Senior Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya

Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya“. Begitulah sabda Rasulullah SAW. dalam Hadis Sahh riwayat Abu Hurairah, yang termaktub, salah satunya, dalam Musnad Aḥmad Ibn Ḥanbal No. 8027. Untuk mengenali pribadi seseorang bisa melihat dari perilaku temannya. Jika baik, besar kemungkinan akan baik pula, begitu pun sebaliknya.

Selain itu, ada terdapat analogi yang menarik, yang diriwayatkan dalam hadis Ṣaḥīḥ Bukhāri No. 2102 dan Muslim No.6860 dari riwayat Abu Musa al-Ash’ary, yang berarti :

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”.

BACA JUGA  "Malem Songo", Tradisi Pernikahan Unik Khas Bojonegoro

Begitu pula yang terjadi dalam memilih “teman hidup, atau pasangan. Dalam Islam, ada anjuran untuk memilih yang sekufu (sederajat). Walaupun hal tersebut bukan termasuk dalam syarat sah nikah, tetapi penting untuk diperhatikan demi kemaslahatan ke depannya.

Orang yang kepandaiannya di atas rata-rata jika menikah dengan orang yang IQ-nya rendah, atau bahkan sangat lemah dalam hal ilmu pengetahuan, maka besar kemungkinan akan berpengaruh dalam keberlangsungan rumah tangganya.

BACA JUGA  Siapa Tahu Tafsirnya?

Begitu pula misalnya jika seseorang yang sangat kaya menjalin hubungan keluarga dengan pasangannya yang sangat fakir dalam harta benda, tentu akan menghadapi berbagai problematika hidup ke depannya jika tidak mampu mengendalikannya —walaupun tidak semuanya seperti itu. Tetapi, persoalan-persoalan itu bisa teratasi dengan mudah jika keduanya memiliki visi, tujuan dan pandangan hidup yang sama.

Indonesia bisa merdeka dan terbebas dari kungkungan kolonialisme karena masyarakatnya mau bersatu, bekerjasama (team work), dan punya visi yang sama, yaitu melawan dan mengusir penjajah dari Tanah Air sehingga mendapatkan kehidupan yang aman dan merdeka.

Satu lagi yang tidak patut kita lupakan dalam catatan sejarah. Jika seandainya dahulu pada saat Perang Badar kaum muslimin tidak mau bergandengan tangan satu sama lain dan lebih memilih keinginan nafsunya masing-masing, mungkin akan dibantai habis-habisan oleh musuh Islam. Bagaimana tidak, pasukan kaum muslimin jauh lebih sedikit dibanding pasukan orang kafir.

BACA JUGA  Dukungan Keluarga dalam Pemberian ASI kepada Bayi (Refleksi Hari ASI Dunia 1 Agustus)

Beberapa permisalan di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya menyamakan visi dalam berjuang. Kita bisa menengok ke belakang, bagaimana para pendahulu kita dalam memperjuangkan kebenaran, yang telah tercatat dalam manuskrip-manuskrip sejarah. Sungguh luar biasa jika kita mau memelajari dan merenungkannya.

Namun, di balik itu semua, satu hal yang lebih urgen untuk kita perhatikan, yaitu keimanan. Kesamaan visi dalam perjuangan akan memperoleh hasil yang lebih dahsyat jika dilandasi dengan keimanan. Sebab iman-lah yang dapat menentukan keselamatan seseorang di kehidupan yang abadi kelak.

Komentar

komentar

Leave a comment