Adab Bertamu dan Menerima Tamu dalam Islam


Total kunjungan 266 , Kunjungan hari ini 3 

“Seorang muslim sejati yang jiwanya dipenuhi semangat kedermawanan, secara alamiah akan senang memberikan jamuan kepada tamunya, menyambutnya dengan hangat, dan menghormatinya”

Oleh : M.Febrin Humaini Zakaria Yahya

 

Meneguhkan tali silaturrahim dinilai sebagai karakteristik pokok dari agama Islam. Dalam hadits yang panjang dari Amr bin Anbasah r.a. yang berisi utusan agar memegang teguh tali silaturrahim, dari HR. Muslim,Anas berkata :Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang menghendaki agar diperluas rizkinya dan di perpanjang usianya, maka hendaklah dia memegang teguh tali silaturrahim.” Oleh karena itu, sebuah karunia bagi orang yang memegang teguh tali silaturrahim adalah suatu karunia yang meningkatkan rizkinya dan kehidupan nya yang meliputi kekayaannya akan bertambah dan hidupnya akan lebih panjang dan berkah. ” Ibnu Umar biasa mengatakan: Barang siapa yang bertakwa kepada tuhannya dan memegang teguh tali silaturrahim, akan merasa hidup lapang, kekayaannya akan bertambah dan keluarganya akan semakin mencintainya” (Ali al-Hasyimi, 2000 : 153).

            Dan sebaliknya memutuskan silaturrahim akan mengakibatkan kesengsaraan dan bencana kepadanya, menyebabkan kemurkaannya, dan menjauhkan nya dari surga di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi SAW:“Seseorang yang memutus silaturrahim tidak akan masuk surga”(Muttafaqun ‘alaih). Bahkan lebih buruk baginya, riwayat bahwa kehadiraan-Nya bisa menolak kasih sayang bagi kawan-kawannya, sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi di dalam bab “ Syu’ab al-Iman”, Rahmat Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang memutuskan tali silaturrahim”.

BACA JUGA  Dukungan Keluarga dalam Pemberian ASI kepada Bayi (Refleksi Hari ASI Dunia 1 Agustus)

Memelihara silaturrahim dengan orang non muslim. Toleransi dan kemanusiaan islam sampai sedemikian jauh menuntun untuk memegang teguh tali silaturrahim sekalipun keluarganya tidak beragama islam. Abdulloh bin Amr bin Ash berkata: “Saya mendengar Nabi SAW berbicara secara terbuka: keluarga bapaknya si fulan bukanlah temanku, karena temanku adalah Allah dan orang orang yang beriman,namun mereka berhak atas ikatan silaturrahim denganku yang akan senantiasa kuakui dan kupegang teguh.” (Muttafaq ‘Alaih) .

Memahami arti memegang teguh silaturrahim. Bagi seorang muslim sejati, memegang teguh tali silaturrahim merupakan salah satu ajaran keimanan. Memegang silaturrahim bukan sekedar memberikan sedekah namun lebih dari itu. Berikut apa yang dinasehatkan Rasulullah yang yang menuntun umat islam untuk memegang teguh tali silaturrahim walaupun dengan cara yang paling sederhana :

Sambunglah tali silaturrahim meskipun dengan hanya memberikan salam (yakni mengucapkan assalamu’alaikum)”.

Sebagian ahli fiqih berkata: wajib bagi tamu memenuhi empat syarat, yaitu: Pertama: duduk dimana dia ditempatkan. Kedua: Ridho dengan apa-apa yang dihidangkan. Ketiga: tidak beranjak meninggalkan tempat duduk melainkan setelah meminta izin dari tuan rumah. Empat: berdoa bagi tuan rumah bila hendak pamitan rumah.

Menjamu Tamu.

Seorang muslim sejati yang jiwanya dipenuhi semangat kedermawanan, secara alamiah akan senang memberikan jamuan kepada tamunya, menyambutnya dengan hangat, dan menghormatinya. Sikap-sikap nya yang islami terhadap tamunya itu mengakar dalam hatinya dan didasarkan atas keimanan kepada Allah dan hari akhir.Sesuaidengan hadis, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tamunya”. (Muttafakun ‘alaih).

BACA JUGA  Menakar Makna Tersirat Dari Teks Hukum

Melayani tamu selama satu malam merupakan kewajiban setiap malam. Barang siapa yang bangun di pagi hari dan mendapati seorang tamu menunggu di depan halaman rumahnya, ia berkewajiban untuk menjamunya, dan cukup baginya apa yang ingin dikerjakannya tentang hal tersebut.

Orang yang tidak suka menerima tamu dan menutup pintunya bagi tamu bukanlah orang yang baik, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad R. A. dimana Nabi bersabda : “Tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak memberikan jamuan”. Islam menjadikan pemberian jamuan sebagai kewajiban bagi setiap muslim, dan menilainya sebagai hak seorang tamu. Seorang muslim seharusnya tidak gagal dalam melaksanakan kewajiban tersebut. Jika seorang tamu tidak mendapatkan haknya sebagai tamu, maka islam mengizinkan tamunya untuk mengambil haknya dari mereka. Ini terlihat dari hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Dalam menyambut kedatangan tamu juga disunnahkan dengan mengucapkan selamat datang atau dengan sambutan hangat yang manis kepada tamu, yang sesuai dengan hadis dari Ibnu Abbas.(Majid, 2009:14)

BACA JUGA  Utusan FAI UMSurabaya Raih Juara III MTQ Cabang Hifdhil Quran

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah berkata; Dan janganlah dia memberatkan temannya untuk mengatakan kepada tamu “makanlah” bahkan berusaha untuk selalu bermuka manis dan tidak bermuka masam. Tidak membuat hal yang menjijikan orang lain, tidak mengibaskan tangannya di atas piringnya, juga tidak mendekatkan wajahnya ke piring makanan tatkala dia menyuap makanan ke dalam mulutnya, bilamana ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya untuk dibuang maka hendaklah dia memalingkan wajahnya dari makanan dan memegang wajahnya dengan tangan kirinya, tidak memasukkan sisa suapan ke dalam kuah, dan tidak memasukkan makanan yang berlemak ke dalam cuka, serta tidak mencelupkan cuka ke dalam makanan yang berlemak, sebab hal tersebut membuat tamu yang lain tidak senang.

Disunnahkan mengiringi tamu hingga pintu rumah. Tatkala Abu Abdul Qosim bin Abdus Salam berkunjung kepada Imam Ahmad bin Hambal, semoga Allah merahmati mereka berdua. Abu Ubaid berkata: tatkala aku hendak berdiri dia pun berdiri, aku berkata kepadanya: “Jangan engkau lakukan itu wahai AbuAbdallah, As Sya’bi berkata: “Dari kesempurnaan sikap berkunjung adalah berjalan bersamanya ke pintu rumah hingga mengambilkan tali kendaraannya”.[1] wallahu a’lam bis showab

Daftar Rujukan:

Al- Hasyimi, Ali. 2000. Muslim Ideal. Yogyakarta: Mitra Pustaka

Majid. 2009. Adab Bertamu. Yogyakarta: Islam House

[1]Ibid, Hal. 10

Komentar

komentar

Leave a comment