Beasiswa Penghafal Kitab Suci oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendik) Surabaya adalah terobosan progresif dari praksis moderasi beragama di Indonesia. Dispendik Kota Surabaya layak mendapatkan apresiasi atas terobosan program Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP Jalur beasiswa Penghafal Kitab Suci bagi Siswa penganut 6 agama resmi yang diakui oleh negara yaitu penganut Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Khonghucu.

Menurut Supomo (Kepala Dispendik Surabaya) mengatakan program jalur beasiswa Penghafal Kitab Suci ini diperuntukan bagi semua Siswa, terutama bagi Siswa penghafal Juz, Ayat, Doa dalam Kitab Suci dan terbuka untuk semua agama.

Adapun tujuan dari program ini adalah perlu memberikan apresiasi bagi siswa penghafal Kitab Suci, karena tidak muda membutuhkan waktu untuk mendaras. Selain itu dengan hafal Kitab Suci, Pelajar menjadi pribadi agamis (berakhlak). Sebab Pelajar tidak hanya membutuhkan ilmu, namun agama juga dapat menjadi penuntun kepribadian yang baik. (Jawa pos/5/6/2021)

BACA JUGA  Tangkis berita Hoax dengan C&R

Adapun skema beasiswa Penghafal Kitab Suci sebagai berikut: Bagi pelajar Islam hafidz 5 Juz Al Qur’an. Pelajar Kristen 30 Ayat Al Kitab. Pelajar Katholik pilih ayat Kitab Mazmur pada hari raya Pantekosta, Natal, Paskah, Jumat Agung dan Harian Pelindung. Pelajar Hindu 10 Sloka Kitab Suci Weda. Pelajar Budha bisa memilih, 5 Ayat Kitab Suci Dammapada, 5 Paritta pada Paritta Kitab Suci Tripitaka, 10 Sutra Pendek Mahayana, Doa Berkah Maitreya. Pelajar Khonghucu 8 Pengakuan Iman dan keimanan pokok agama Khonghucu. (Jawa pos,5/6/2021).

Trobosan dibatas memberi angin segar dan inspiratif ditengah kebuntuan mencari formula praksis-implementatif atas diskursus moderasi beragama di Indonesia. Terutama pada praksis formula pendidikan berkarakter moderat. Trobosan ini masuk pada wilayah kebijakan politik pendidikan.

BACA JUGA  Ungkapan Cinta

Trobosan kebijakan politik pendidikan Dispendik Kota Surabaya tersebut mempunyai makna dan posisi penting bagi kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia yang multi agama (majemuk). Menurut saya minimal ada dua kontribusi yang luar biasa atas trobosan tersebut yang patut diapresiasi oleh semua kalangan.

Pertama, trobosan tersebut dapat berkontribusi untuk mengeliminir tradisi intoleransi-ketegangan-konflik antar umat beragama di masyarakat. Kondisi tersebut salah satunya disebabkan ada ruang diskriminasi, sehingga memunculkan prasangka dan iri hati, hal ini dapat menjadi benih konflik dan intoleransi antar umat beragama.
Mengingat saat ini aksi intoleransi dan ketegangan (konflik) relasi sosial-keagamaan dikalangan umat beragama di Indonesia semakin menguat. Kondisi tersebut tercermin dari data laporan yang dikeluarkan oleh The Wahid Institut terkait Kemerdekaan Kebebasan (KKB) Tahun 2019 secara umum menemukan peningkatan pelanggaran KKB oleh aktor Kelompok, individu dan negara. (https://wahidfoundation.org/index)

BACA JUGA  HIDUP TAK SELAMANYA BERJALAN MULUS

Maka dengan memberikan peluang, tempat dan apresiasi yang sama (egaliter) bagi semua penganut agama yang ada, tanpa diskriminasi akan mendorong relasi toleransi, rukun dan harmoni sosial antar umat beragama di Indonesia.

Kedua, terobosan tersebut dapat dijadikan rule model dalam kebijakan politik pendidikan, terutama dalam rangka membangun pola praksis moderasi beragama pada wilayah pendidikan, yaitu pendidikan moderat.

Selain itu pola tersebut, juga dapat dijadikan model baru dalam penerimaan siswa didik baru (PPDB) pada tingkat SMP-SMA bahkan dapat pula diterapkan pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di tingkat Perguruan Tinggi (PT) terutama pada Perguruan Tinggi Negeri ( PTN) di seluruh Indonesia.

Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I
(Pengamat Sosial Agama UMSurabaya & Direktur Institut Studi Islam & Keindonesiaan/InSID)

Total kunjungan 62 , Kunjungan hari ini 3