Belajar Berbuka Puasa Sewajarnya


Total kunjungan 161 , Kunjungan hari ini 2 

Oleh : Bobi Puji Purwanto

Menjelang berbuka puasa perdana, saya memilih untuk berbuka di tempat keluarga. Karena buka puasa perdana, saya harus berkumpul bersama. Iya, meskipun biasanya saya sering juga berbuka di masjid dengan kerabat dan sahabat. Pukul 17.00 wib, start dari kantor persyarikatan Muhammadiyah, saya langsung bergegas pulang. Dengan memakai motor, saya pacu motor dengan serileks mungkin. Sembari menghirup udara sore menjelang malam, serta melihat suasana sekeliling lainnya.

Saat perjalanan, terlihat jalanan dipenuhi dengan berbagai macam manusia. Hmm membludak, Di pinggiran jalan raya, banyak terdapat penjual takjil untuk buka puasa. Mulai dari gorengan, minuman varian rasa, sampai makanan berat. Jalanan menjadi macet total. Apalagi cuaca semakin gelap, pembeli berduyun duyun berdatangan. Saya sebut waktu itu adalah momen optimisme seluruh masyarakat muslim berkomunikasi dengan sesama dalam rangka religiusitas ramadhan. Begitulah menjelang berbuka. Beberapa menit kemudian sampailah saya di tempat tujuan.

Ramadhan awal, yang ditunggu-tunggu, tibalah saatnya adzan magrib berkumandang, Sabtu, 27 Mei 2017. Pukul 17.21 WIB untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya. Antusiasme puncak masyarakat muslim yang menjalani ibadah puasa bergelorah, cetar nan membahana. Seolah-olah, ketika mendengar suara adzan itu, seluruh fikiran dan hati masyarakat muslim yang berpuasa terasa indah dan lega. Wajah sumringah serta bibir tak akan lagi pecah-pecah. Kenapa? di situlah, waktu mulainya berbuka, bagi yang berpuasa. Boleh makan dan minum. Maka, nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan.

BACA JUGA  Perbankan Syariah Melahirkan Generasi Ekonomi Syariah Berkemajuan

Persoalan yang sampai saat ini, saya rasakan, dan masih melekat pada momen berbuka puasa perdana itu adalah tentang nafsu berlebihnya makan dan minum, sehingga setelah berbuka dampaknya ada yang muntah dan sejenisnya. Iya begitulah yang terjadi, setelah 11 bulan lamanya bisa makan dan minum di pagi dan siang hari. Kini, setelah sahur, menunggu dan menahan selama kurang lebih 14 jam baru boleh makan dan minum kembali. Iya, persoalannya pada nafsu yang berlebihan.

BACA JUGA  My First Love

Setiap manusia, tentu memiliki nafsu. Nafsu seksual, nafsu makan, nafsu minum, nafsu bersabat, dan segala macam. Tetapi, sebagai makhluk yang berakal, kita harus rem nafsu yang berlebihan itu. Allah SWT menyatakan dalam kitab sucinya surat Al-A’raf 31, “Bahwa makan dan minumlah kalian, tetapi jangan berlebihan-lebihan, karena Allah tidak mencintai yang berlebih-lebihan”. Ini artinya, sesungguhnya segala sesuatu apapun itu, jika kita konsumsi secara mutlak berlebihan, maka tidaklah positif. Baik dari sisi sosial maupun kesehatan. Dan, allah sangat tidak mencintainya.

Sahabat, Allah menciptakan segala sesuatu ini adalah sesuai dengan ukuran yang matang. Allah nyatakan itu di surat Al-Qomar 49, “Sesungguhnya segala sesuatu kami (Allah) ciptakan dengan qadar (ukuran, aturan). ” Artinya, ibarat handpone dengan kapasitas RAM 2 Gg. Tetapi, keinginan besar agar handpone yang dimiliki bisa menampung aplikasi berbagai macam, maka RAM-nya ditambah menjadi 6 Gb. So, tidak sesuai dengan kapasitas/ukuran, sehingga yang terjadi handpone akan lemot, sampai tidak bisa nyala kembali. Berlebihan banget.

BACA JUGA  Laporan Hasil Pengabdian Masyarakat

Sama halnya dengan berbuka puasa, sahabat. Daya tampung makanan dalam tubuh kita (manusia) itu sudah ada ukuran dan aturan alamiahnya. Tak bisa kita tambahi secara berlebih-lebihan. Jika tetap begitu, maka nasib kita akan sama seperti analogi handpone di atas. Jadinya badan kita loyo, tidak normal, lemas, tak punya selera, dan tak ada optimisme lagi dalam melakukan ibadah di hari ramadhan selanjutnya. Naudzubillah.

Oleh sebab itu sahabat, mari kita bersama-sama belajar berbuka dengan secukupnya. Minimalisir nafsu yang berlebihan dalam berbuka,  Rasionalisme kita harus selalu terjaga baik. Tak usah terburu-buru dalam melihat hidangan berbuka. Qolbu tetaplah kepada Allah SWT. InsyaAllah, jika kebiasaan berlebih-lebihan dalam berbuka puasa kita hindari, maka kesehatan jasmani dan rohani akan datang menghampiri kita semua. Tak hanya berbuka, segala apapun jangan berlebih-lebihan, begitulah Allah memperingatkan.

#Salam_Ramadhan

Komentar

komentar

Leave a comment