Belajar Meraih Cita-cita


Total kunjungan 314 , Kunjungan hari ini 3 

Oleh : Bobi Puji Purwanto

Belajar dengan penuh totalitas, kesabaran, kedisiplinan, kerendah hatian, itulah langkah strategis untuk menemukan ketentraman hidup. Esensinya, kita hidup ini adalah untuk pengembangan. Baik itu intelektual, kebudayaan, spritual, serta sosial. Kemana pun kita pergi, melangkah ke depan, belakang, samping kiri, kanan, bernafas, dan seterusnya, itu semua harus ada nutrisi ilmu yang didapat. Dalam konteks tersebut, penting hidup di dunia ini dipergunakan untuk belajar dengan sebaik-baiknya, supaya kemudian kita benar-benar menjadi pribadi yang bermanfaat. Selalu menebar kebaikan dunia dan akhirat.

Kawan, belajar itu merupakan sebuah petualangan hidup yang tiada henti dan tak ada titik batasnya. Kecuali, seluruh organ tubuh kita sudah tidak bisa difungsikan.  Selama masih hidup, maka menjadi penting belajar untuk manusia. Belajar juga dapat dibuat bekal kehidupan setelah mati. Jadi, sangat komprehensif manfaat belajar itu. Indah serta menyentuh.

Selama hidup, tidak ada manusia tanpa memiliki cita-cita, tanpa visi dan misi. Seluruhnya jelas punya cita-cita. Karena cita-cita dan visi-misi merupakan manifestasi keberhasilan hidup di masa sekarang sampai yang akan datang. Ketentraman, kebahagiaan, kepedulian, keselarasan, kenikmatan apapun, dan seterusnya.

BACA JUGA  Menselaraskan antara Kuliah, Kerja dan Organisasi

Tetapi saya melihat, saat ini yang menjadi perhatian serius ialah tidak sedikit manusia termasuk saya yang merasa keberatan atau bahkan benci terhadap aktivitas belajar. Betul begitu ? Iya begitulah. Merasa pesimis berusaha keras dan cerdas demi terwujudnya suatu cita-cita yang menjejak dan nyata. Dan untuk kesejahterahaan hidupnya nanti.

Pengorbanan fisik dan rohani seolah-olah terlalu besar jika disumbangkan untuk itu. Lagi-lagi begitulah adanya. Kawan, memang tidak gampang mengejar cita-cita itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan serta mengedipkan mata. Diperlukan usaha secara rasional dalam kehidupan nyata, do’a yang khusyuk dan kesanggupan action dalam berbagai tantangan.

Terkadang, ada di antara kita yang tidak menyadari bahwa belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh itu sangat menunjang keberhasilan. Belajar dengan tekun bisa membawa kepada kedewasaan. Iya begitu. Oleh sebabnya, motivasi internal (dalam diri) yang kuat harus ditanamkan semaksimal mungkin, sehingga akan tumbuh rasa optimisme dalam belajar dan bersikap. Jadi, belajarlah dengan bahagia.

Saya mempunyai hal sederhana yang ingin dibagikan. So, untuk hidup indah dalam meraih cita-cita, mulailah dan biasakan dengan belajar apa saja, dimana pun, dan dengan siapa saja. Mari belajar bersama !

BACA JUGA  Seminar Ekspor-Impor, Perkuat Jaringan Saudagar Muhammadiyah

Pertama, belajar apa saja. Mulailah dari sekarang dengan belajar apa saja, yang itu ada kaitannya dengan yang anda cita-citakan. Karena dengan cara inilah, anda akan lebih dekat dan bersahabat terhadap cita-cita anda. Luangkan waktu seefektif mungkin untuk mempelajari sesuatu hal yang bisa membuat anda menjadi pribadi yang unggul dan optimis mengejar cita-cita. Seperti perjuangan habibie kecil sampai menjadi tokoh teknologi internasioanal dan presiden indonesia ke-3. Semua itu dari belajarnya terhadap apa saja yang beliau suka.

Kedua, belajar dimana pun itu. Anda harus menjadikan tempat dimanapun berpijak sebagai sarana mencari sumber pengetahuan, sumber refrensi dan motivasi. Karena sumber pengetahuan tidak hanya didapat di tempat-tempat tertentu, formal, di gedung mewah, dan seterusnya. Melainkan, Semua tempat ada sumber ilmu dan inspirasinya. Jadi, tinggal bagaimana anda mengelola tempat-tempat itu menjadi nyaman buat Anda. Cara berfikir menagerial anda butuhkan disitu.

Ketiga, belajar dengan siapa saja. Paradigma yang mengatakan bahwa guru atau bisa disebut pengajar, itu hanya lebih banyak dijumpai di sekolah, kampus, pesantren, lingkungan-lingkungan formal, dan seterusnya, ini yang harus sedikit dirubah cara berfikirnya. Pengajar menurut para pakar pendidikan itu adalah seseorang yang memberikan orang lain perubahan dalam berfikir. Mentransferkan ilmunya kepada orang lain, sehingga orang itu menjadi tau.

BACA JUGA  Kader sebagai penyambung genealogi organisasi

Artinya, jika ada orang yang mendapatkan penambahan pengetahuan dari orang yang memberikannya, maka orang yang memberikan itu secara sengaja atau tidak dialah pengajar. Jadi, guru atau pengajar bisa kita temukan dimana-mana. Mulai sekarang, kita harus menganggap semua orang adalah pengajar. Semua orang adalah guru. Karena pada dasarnya, setiap siapapun orang yang kita kenal dan jumpai, itu berbeda pemahaman. Dan pasti memiliki kemampuan yang tidak tentu kita punya. Jadi, sedikit banyak pemahaman akan sebuah hal akan kita dapatkan dari semua orang.

Kawan, berinteraksi dan bergaul-lah dengan sebaik-baiknya kepada setiap orang yang anda kenal dan baru anda jumpai. Dapatkan pemahaman atau ilmu dari mereka semua dengan seluas-luasnya. Ali bin Abi Thalib  RA berkata, jangan melihat orangnya, tapi dengarkan dan lihatlah apa yang disampaikan.

SalamAction

Komentar

komentar

Leave a comment