Berfikir Kritis Humanis


Total kunjungan 1,519 , Kunjungan hari ini 9 

Oleh : Bobi Puji Purwanto

Salah satu pesan yang disampaikan para guru kepada siswanya ialah, tentang bagaimana berfikir kritis. Aktifitas intelektual atau kemampuan berfikir yang tajam dalam menganalisa bisa didefinisikan sebagai berfikir kritis. Ketika diberikan sesuatu hal, maka ia tidak mudah  tertarik. Rasa ingin tahu yang tinggi. Mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan  menjadi prioritas utama bagi mereka yang berfikir kritis.

Saya teringat dengan mendiang filsuf dunia, Socrates, Aristoteles dan Plato. Misal Plato, ia adalah salah satu contoh sosok ilmuan yang begitu kritis terhadap suatu informasi. Ketika Plato mendapatkan informasi, ia tidak akan mudah menerima informasi itu. Ia akan menanyakan secara detail. Antara lain, siapa yang memberikan informasi itu, apakah isinya, mengapa ia menyampaikan, serta manfaat bagi ia yang menyampaikannya. Iya, pertanyaan kritis yang sifatnya konstruktif punya Plato.

Kawan, kita harus berhati-hati dalam memahami kritis. Menurut Prof. Rhenald Kasali P.hD, cara berfikir kritis dengan sinis itu berbeda. Jadi, tidak bisa disamakan. Begini, “Kritis tujuannya ialah menyadarkan, sedangkan sinis bertujuan menjatuhkan”.

Maksudnya, mari kita perjelas. Kritis itu menyadarkan. Ketika Anda dihadapkan dengan sebuah kebijakan, maka Anda akan menanyakan secara detail kronologi sampai pada tujuan utamanya (goal). Serta manfaat dari pada kebijakan tersebut. Kemudian, tidak selesai pada itu, Anda akan memberikan semacam penyegaran yang lebih baik. Mengajak semua stakeholders dan semua yang berkaitan di dalamnya untuk tumbuh kembang bersama. Saling mengingatkan, dan berproses secara seimbang.

Sedangkan sinis, adalah pola berfikir yang tidak puas karena disebabkan sakit hati. Tujuan utamanya bukan untuk memperbaiki, melainkan menjatuhkan mental atau karakter orang lain. Sinis akan mencari terus kesalahan-kesalahan, tanpa mencari kebaikan sedikitpun. Jika orang sinis menemukan kebaikan, ia akan tutupi, seolah-olah tidak ada kebaikan sama sekali. Kemudian, ia selalu berusaha dengan keras agar kesalahan itu menjadi ‘momok’ mematikan bagi orang yang berkaitan. Dan begitu-itu sangat tidak baik. Tentu, cara berfikir sinis ini harus dihilangkan.

Kritis Belum Tentu Cerdas

Apakah orang dengan pikiran kritis itu sudah pasti cerdas? Tentu belum pasti. Banyak fenomena, saya sering melihat orang kritis yang tidak berdasar. Misalnya, sumber yang digunakan untuk mengkritisi sesuatu tidaklah jelas. Kemudian, apa yang ia sampaikan untuk mengkritisi jauh dari pada substansi pembahasan. Tetapi, cara berbicaranya menggebuh-gebuh serta tak peduli batas waktu. Semangat seakan-akan benar dan tujuannya ingin cari muka.

BACA JUGA  Silaturrahim Mahasiswa Prodi Ahwal al Syakhshiyah ke DPRD Propinsi Jawa Timur

Yang tak kalah penting, ada juga orang kritis kemudian dicampur dengan dendam. Kritis dendam ini hampir sama dengan sinis. Tetapi, lebih bahaya kritis dendam. Mengapa? Ia akan terus memberi tanggapan terhadap orang yang ia kritisi. Lalu, tujuan yang ingin ia capai adalah menyingkirkan. Benar atau tidak yang disampaikan, goalnya lebih kepada menyingkirkan.

Oleh sebab itu, maka menjadi berbahaya jika kedua contoh kritis ini ada dalam dunia pengembangan diri. Orang-orang yang termasuk dalam kategori demikian bisa dikatakan bukan orang pintar, apalagi cerdas. Hidupnya hanya bertujuan untuk kesejahteraan pribadi, bukan untuk kebermanfaatan bersama. Ia tidak ingin mengajak orang lain menjadi insan berdaya saing yang lebih baik. Egois serta semaunya sendiri.

Menurut saya, sesungguhnya orang cerdas itu adalah orang yang disiplin dalam menempatkan sesuatu. Ia tidak akan bertindak jika tidak bermanfaat. Kemudian, ia akan bersedia menguras tenaga dan pikirannya jika yang mau ia lakukan bermanfaat. Kemampuan analisis SWOT yang ia miliki akan berfungsi sedemikian mengalirnya.

Contoh, ada yang tak mengenal Habibie ? Presiden ketiga Indonesia ? Pembuat pesawat N250? Iya, beliau Baharudin Jusuf Habibie

Beliau merupakan sosok fenomenal. Habibie adalah orang pintar dan cerdas. Waktu kuliah ia selalu mendapatkan nilai tinggi. Kemampuan berhitung serta kritis membuat para tokoh dunia kagum dan segan. Kecerdasannya diakui oleh dunia. Beliau sangat cinta dengan tanah air Indonesia. Indonesia, apapun beliau akan lakukan untuknya. Kita baca di sumpah Habibie.

Sewaktu studi di Jerman Barat, beliau juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Beliau pernah terpilih menjadi ketua umum PPI tersebut. Pada saat beliau menjabat, baliau mempunyai ide cemerlang. Iya, dengan mengadakan seminar pembangunan. Pada saat itu, Indonesia setelah beberapa tahun merdeka. Kondisi negara yang masih berbau sisa-sisa perang kemerdekaan. So, fokusnya ada pada pembangunan nasional. Terutama pada bidang teknologi industri pesawat terbang.

Semua mahasiwa Indonesia yang ada di Eropa dikumpulkan. Kebaikan belum tentu dinilai baik, begitupun keburukan. Banyak spekulasi ini itu dari berbagai kalangan yang tak suka. Bahkan teman dekatnya sendiri tidak setuju dengan ide tersebut. Bukan Habibie jika menyerah dan usang. Kemudian voting dimulai, suara terbanyak ada pada ide Habibie. Dengan tenang dan percaya kepada Allah, seminar pembangunan diterima oleh kebanyakkan anggota PPI.

BACA JUGA  Di Balik Ujian Proposal Skripsi yang Kedua Kali

Beliau menjelaskan gagasannya dengan sangat baik. Semua dibuat kagum. Iya, meskipun masih ada pihak yang tak setuju dengan idenya. Waktu berjalan, Habibie terus berusaha membagikan pamlet ke banyak orang. Waktu terus ia lawab. Sampai kemudian Habibie ditimpah sakit. Di sinilah sumpah Habibie dibuat. Kemudian, cahaya terlihat, akhirnya seminar pembangunan berjalan.

Kawan, Itulah sosok kritis yang pintar dan cerdas. Ia ingin sama-sama berkembang tanpa meninggalkan pihak lain demi kemajuan bangsa dan negara. Goal Habibie adalah untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat. Dan, sumber daya manusianya adalah orang-orang Indonesia sendiri. Kita teladani.

Membentuk Cara Berfikir Kritis yang Baik

Untuk membentuk cara berfikir kritis tentu sederhana. Yang jelas, Anda harus tanamkan niat yang sungguh-sungguh dalam mencapainya. Hal ini relevan dengan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, “Bahwa segala sesuatu tergantung kepada niatnya, dan hasilnya juga berdasarkan niat”. Pendapat saya, mungkin kita mulai dulu dari 4 point di bawah ini :

Gemar Membaca

Tidak ada orang kritis yang tidak gemar membaca. Mereka yang kritis adalah mereka yang mempunyai prinsip bahwa membaca adalah senjata terpenting. Memperbanyak perbendaharaan kata, menambah pengetahuan yang luas dan tentu mengarah kepada hal positif.

Oleh karenanya, niatkan hati dan fikiran Anda untuk  gemar membaca. Di manapun, kapan pun dan bagaimana pun, membaca salah satu langkahnya. Anda akan mengetahui dunia karena membaca. Jangan sia-siakan waktu Anda untuk hal-hal kurang bermanfaat. Setiap hari, Anda harus luangkan waktu untuk membaca. Paling tidak satu halaman saja. Atau bahkan, satu paragraf.

Berusaha Berbeda Cara Pandang

Pada saat Anda membaca, tentu Anda akan banyak menemukan statement ataupun paradigma seseorang yang ada di buku tersebut. Lah, untuk menumbuhkan beni-beni cara berfikir kritis, Anda perlu melahirkan cara pandang yang berbeda dari statement itu.

BACA JUGA  5 Ciri Manusia Berkelas Internasional (International Class Person)

Misalkan ada kalimat, “Semua orang kaya adalah orang yang banyak uang”. Lalu, Anda coba berfikir, adakah orang miskin yang merasa banyak uang? Tentu ada. Kita melihatnya dari sisi mana dan atas dasar apa. So, teruslah berfikir yang berbeda dari kalimat yang Anda baca. Dengan asumsi yang jelas dan akurat. Dan, tidak perlu takut untuk berpendapat. Kita bisa melakukannya.

Gemar Berdiskusi

Setelah membaca dan memiliki cara pandang berbeda, Anda harus melanjutkannya dengan berdiskusi. Ya, diskusi yang sifatnya ringan atau berat, itu kondisional. Tujuannya apa? ialah untuk melatih pengetahuan yang Anda dapat setelah membaca. Ambil pelajaran dari berbagai sudut pandang teman berdiskusi Anda. Dan, jangan takut untuk menyampaikan unek-unek kepada setiap anggota diskusi. Saling bertukar pikiran.

Gunakan tempat apapun untuk berdiskusi. Entah warung kopi, warung makan pecel, rumah tinggal, perpustakaan, kampus dan seterusnya. Selagi nyaman, manfaatkan tempat itu untuk menggali banyak ilmu pengetahuan. Anda harus berprinsip, bahwa ilmu pengetuan ada di mana-mana tempat. Dan, orang hebat adalah orang yang terus optimis dalam mencari ilmu serta menerapkannya.

Berfikirlah Timbal-balik

Berfikir timbal balik ini maksudnya ialah untuk menghindari cara berfikir kritis seseorang yang destruktif (merusak). Kritis yang tak mendasar, keterlaluan, egois. Serta tujuannya buruk pada orang yang ia kritisi. Dan, saat ini banyak kok terjadi dalam kehidupan nyata. Siapapun, tak peduli ia sekolahnya tinggi dengan puluhan gelar, bisa saja terjangkit.

Berpikiran timbal balik, itu mengingatkan kita bahwa kita sebagai manusia mempunyai hak yang sama. Kita sama-sama membutuhkan ilmu, dan terus belajar. Lalu, puncaknya ialah keberhasilan yang membahagiakan keluarga serta banyak orang. Jadi, kita harus berusaha memikirkan dampak apapun yang hendak dilakukan terhadap orang lain. Insya Allah, Sang Maha Sejati sangatlah cinta dengan hamba-hamba yang berhati-hati dalam bertindak.

Dan catatan saya sekali lagi, mari  menjadi manusia yang optimis dalam menggunakan akal kita. Akal untuk berfikir kritis. Tentu, kritis yang membangun, menolong, menyehatkan, bukan yang menjatuhkan serta menyengsarakan. Negara kita saat ini membutuhkan orang-orang yang baik dalam berfikir kritis. Semoga kita mampu menjawab itu.

Salam_Action

Komentar

komentar

Leave a comment