Berlagak Bak Anti Tuhan, Tapi Tetap Butuh Tuhan


Total kunjungan 151 , Kunjungan hari ini 3 

Oleh : Ainul Yakin, Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya

Prof Yunahar Ilyas mengatakan bahwa manusia memiliki 3 unsur dalam dirinya, yakni jasad akal dan hati atau jiwa. Ketiga unsur tersebut harus disantuni dan dipelihara secara seimbang.

Jasad diberi asupan makanan yang enak dan bergizi, bisa juga dengan olahraga dan penunjang lainnya yang meningkatkan daya tahan tubuh. Akal juga perlu diberi nutrisi supaya kinerja otak tidak mati, yaitu disantuni melalui ilmu.

Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah hati. Manusia memerlukan agama agar hatinya tidak keras (qalbun Qāsin) dan mati. Karena kalau hati sudah keras, ia akan sulit menerima nasihat apapun dari orang lain, walaupun dirinya melakukan kezaliman yang sangat fatal.

BACA JUGA  RAMADHAN KAMI

Dari penuturan Buya Yunahar tersebut, penulis menyoroti poin ketiga yang saat ini kurang diperhatikan oleh banyak orang. Kita ketahui bersama bahwa manusia memang fitrahnya butuh ketenangan jiwa, yang hakikatnya hanya bisa didapatkannya melalui tuntunan dīnullāh (Islam). Jiwa yang tenang dapat diraih dengan cara “Tazkiyyat al-Nafs” (menyucikan jiwa) yang telah diajarkan dalam Agama Islam. Ya, lagi-lagi dengan Agama.

Seseorang boleh saja bilang “bebas Tuhan”, “Agama tidak penting”, “Tuhan telah mati”, “Agama menghambat peradaban” dan lain sejenisnya. Tapi ingat, disadari atau tidak, suatu saat atau dalam kondisi tertentu ia akan amat sangat membutuhkan Tuhan dan Agama. Jika tidak di dunia, pasti di akhirat akan mengalaminya.

BACA JUGA  Proposal PIM 8 Mahasiswa FAI Lolos Seleksi Tahap 1

Betapa banyak manusia yang mengaku ateis dengan bangganya mengatakan bahwa dirinya tidak lagi butuh dan percaya Tuhan, tapi tanpa disadari atau memang sudah sadar namun sudah terlanjur tercebur ke dalam belenggu aliran yang dianut dan bersikap “bodoamat”. Ia akan berteriak memanggil-manggil bahkan mengemis-ngemis kepada Tuhan karena kondisi yang terjepit dalam kebinasaan.

Sungguh, perilaku yang demikian merupakan suatu kesombongan yang tak patut dielu-elukan. Ya, begitulah sifat manusia. Kalau sudah tercekik kehidupannya ia akan bingung dengan sendirinya yang ujung-ujungnya membutuhkan Tuhan.

Kalau kita mau, di zaman yang terbuka ini, betapa banyak pengakuan-pengakuan orang sejak zaman dahulu hingga sekarang, yang awalnya anti terhadap risalah yang dibawa nabiyyullāh yang Agung, Muhammad SAW, namun di kemudian hari tidak sedikit juga yang mengakui dan memegang teguh ajaran Rasulullah SAW. Hal tersebut bisa diakses oleh semua orang di media massa atau melalui buku-buku sejarah yang tersedia di berbagai toko buku.

BACA JUGA  Persiapan Praktikum, Mahasiswa Mendapat Bekal Dari Ahlinya.

Sebagai penutup, tulisan ini sebagai pengingat bagi Penulis pada khususnya, Pembaca pada umumnya, bahwa Islam bisa menjadi solusi dalam mewujudkan jiwa yang tenang. Ketengan itu pula, yang bisa membuat seseorang mamu bertahan dan melewati berbagai ujian yang terkadang hadir dalam kehidupan kita. Pada saat itulah, esensi keberagamaan dan kehadiran Tuhan semakin dirindu, dan diidamkan selalu turut serta. Wallaāhu a’lam bi al-Ṣawāb.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment