Berlaku Zuhud di Media Sosial


Total kunjungan 104 , Kunjungan hari ini 1 

Sebagai imbas dari globalisasi, manusia akan masuk dalam era hilangnya sekat wilayah ruang dan waktu yang mengelilinginya. Ia akan semakin terhubung dengan bagian dunia ujung manapun. Salah satu pilar Globalisasi adalah teknologi informasi yang terus berkembang. Dewasa ini, ponsel pintar menjadi alat yang paling efektif untuk menjadi jembatan penghubung antar manusia. Gempuran gawai (gadget) dari berbagai produsen elektronik yang menyediakan ponsel berharga variatif dengan spesifikasi unggulan menjadikan benda tersebut tidak lagi asing di masyarakat kita. Ditambah kelihaian operator telekomunikasi yang terus berinovasi untuk menciptakan jaringan agar pengguna (user) dapat memanfaatkan ponsel pintar yang dimiliki secara lebih maksimal di dunia maya. Hasilnya, media sosial menjadi sebuah dunia baru tempat bertemunya manusia yang terdiri dari berbagai latar belakang.

Guru, murid, petani, tentara, polisi, wirausahawan, mubaligh, nelayan, sopir, dan sebagainya, semua dapat duduk bersama dalam satu wadah benama media sosial. Seorang sopir yang sedang kepanasan mencari penumpang di terminal Surabaya dapat ber-hahahihi dengan direktur eksekutif perusahaan di Medan dalam satu grup WA yang sama. Benar-benar tanpa sekat. Dengan latar belakang yang berbeda, otomatis konten yang ada di media sosial benar-benar sangat variatif sesuai latar belakang anggotanya. Perbedaan konten tersebut merupakan sebuah keniscayaan, yang tidak dapat dinafikan. Warna apapun akan muncul di media sosial, bak gemerlap lampu disko yang dinyalakan di tengah malam. Pertanyaannya, di tengah gemerlap media sosial tersebut, masih mungkinkah kita berlaku zuhud?

BACA JUGA  Keluarga Teroris, Bukti Kongkrit Pentingnya Pendidikan Kekeluargaan.

Pada umumnya, zuhud dimaknai sikap hidup seorang sufi yang meninggalkan hingar-bingar kehidupan duniawi, untuk mengejar kebahagiaan akhirat semata. Ia menyerahkan total kehidupannya untuk beribadah, bahkan ia siap mengabaikan kehidupannya sendiri sekalipun. Karena ia mengabaikan kehidupan dunia, maka ia tentu tidak akan terlibat dalam gemerlap globalisasi, internet, apalagi media sosial. Apa yang ia lakukan tersebut didasarkan kepada pemahaman terhadap teks hadits riwayat Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idiy radhiyallahu ‘anhu berkata,

 

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ: اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Datang seseorang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia berkata, ‘Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu’.” (Shahih, HR. Ibnu Majah dan selainnya, lihat Shahiihul Jaami’ no.935 dan Ash-Shahiihah no.942)

Akan tetapi, tidak sedikit sufi yang memiliki definisi berbeda tentang Zuhud. Misalnya, Junayd al Baghdadi. Sufi kelahiran baghdad tahun 210 Hijriyah ini menganggap bahwa zuhud dengan cara tersebut di atas adalah tidak tepat. Baginya, perilaku zuhud adalah dengan bukanlah meninggalkan kehidupan dunia sama sekali, melainkan tidak terlalu mementingkan kehidupan duniawi belaka. Jadi, setiap Muslim termasuk juga para sufi, tetap berkewajiban untuk mencari nafkah bagi penghidupan dunianya, untuk diri dan keluarganya. Letak zuhudnya adalah, bila ia memperoleh rezeki yang lebih dari cukup. ia tidak merasa berat memberi kepada mereka yang lebih memerlukannya. Berdasarkan pemahaman dan penghayatan Junayd al-Baghdadi tentang zuhud ini, maka tidak berlebihan kalau kemudian ia disebut sebagai “Sufi yang moderat”. Tentu pandangan ini lebih relevan untuk diaplikasikan di era modern ini.

BACA JUGA  Belajarlah jadi pemimpin

Lantas, bagaimana implementasi perilaku zuhud di media sosial? Dalam hal ini kita dapat melihat tingkatan zuhud yang disampaikan oleh Ibrahim bin Adham, yang membagi perilaku zuhud menjadi tiga tingkatan, yakni Zuhud Fardhu, Zuhud Keselamatan, dan Zuhud Keutamaan. Zuhud fardhu adalah zuhud dengan tingkatan terendah, yakni dilakukan dengan membenci hal yang haram. Zuhud keselamatan adalah zuhud kelas menengah, dilakukan dengan membenci hal yang syubhat. Zuhud keutamaan adalah tingkatan zuhud tertinggi, yakni dengan meninggalkan hal yang halal dikarenakan khawatir memiliki dampak yang tidak baik.

BACA JUGA  Malam Hitam

Bagaimana menerapkannya di media sosial? Pelaku zuhud wajib tentu tidak akan mengunggah maupun membagikan konten yang haram, misalnya fitnah, hasutan, maupun berita palsu (hoax). Jika ia secara tidak sengaja melakukan hal tersebut, maka ia akan bertaubat dengan mengunggah permohonan maafnya di media sosial pula, serta ia harus berjanji untuk tidak mengulangi lagi.

Pada tingkatan moderat, pelaku Zuhud Keselamatan akan meninggalkan konten media sosial yang tidak jelas kebenarannya, karena khawatir jika konten tersebut ternyata tidak benar. Jika ia menerima sebuah berita di media sosial, ia tidak akan langsung proaktif membagikan konten tersebut tanpa terlebih dahulu mengetahui bahwa berita tersebut adalah benar-benar berita benar.

Di tingkatan teratas, zuhud keutamaan, dilakukan dengan tidak membagikan konten apapun di media sosial kecuali yang benar-benar bermanfaat bagi pembaca. Ketika membaca sebuah kabar, meskipun ia yakin jika kabar tersebut benar didukung dengan berbagai bukti yang valid, ia tidak terburu membagikan berita tersebut, karena khawatir jika berita yang ia bagikan ternyata tidak ada manfaat apapun bagi masyarakat.

Tidak sulit bukan untuk berlaku zuhud di media sosial?

 

Komentar

komentar

Leave a comment