Di Balik Ujian Proposal Skripsi yang Kedua Kali


Total kunjungan 538 , Kunjungan hari ini 1 

Oleh : Ayunin Maslacha (Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya)

Foto Ilustrasi dari seruni.id

Dua semester (satu tahun) sudah saya lewati hanya untuk bertemu ujian proposal skripsi yang kedua. Dua proposal skripsi terbengkalai tidak bisa dilanjutkan karena sulitnya mencari objek, satu proposal skripsi gagal di tengah jalan, karena tidak diizinkan untuk mengambil data. Riset dengan judul yang sedang saya jalani ini adalah judul keempat yang saya perjuangkan. Riset pun terhenti. Data tidak bisa diakses.

Saat menulis ini, saya sedang merenungi dan mencari sumber kegagalan saya. Dengan harapan, ke depannya menjadi pelajaran dan ibrah untuk siapa pun. Bagi saya, menemukan empat judul skripsi dalam rentan waktu pendek tidaklah sulit, bahkan membantu beberapa teman untuk menemukan atau meramu judul-judul itu juga tidak sulit. Karena saya (entah sejak kapan) sepertinya memiliki kelebihan soal imajinasi dan meramu diksi.

Tapi dalam mengerjakan sebuah penelitian, yang lebih penting dari sekedar kemampuan berimajinasi adalah menjadikannya realita. Ini memerlukan support system. Support system ini melibatkan banyak hal, seperti kemampuan memikirkan hipotesa awal (dugaan) untuk mencari masalah, kemampuan mengaitkan banyak pilihan teori dengan pokok masalah sebagai bekal pisau bedah penelitian, dan kemampuan untuk menemukan objek yang tepat.

Saya sudah menempuh jalan proses itu, namun tetap gagal di tengah jalan. Bahkan saat teman-teman saya masih membingungkan judul, saya sudah melakukan pra-penelitian. Artinya, setelah proposal skripsi selesai (sebelum diuji), saya sudah terjun ke lapangan untuk memastikan bahwa data yang saya butuhkan ada dan diperbolehkan melakukan penelitian.

BACA JUGA  Klarifikasi Informasi "Jalur Kader" Jurusan PGMI Universitas Muhammadiyah Surabaya

Memang, semua ini tidak terlepas dari Qadla’ (ketentuan) Allah. Kegagalan ini saya terima tiba-tiba dari pesan Hotline WA yang menginformasikan bahwa data penelitian saya tidak bisa diambil sebab dinilai privasi dan tabu. Sekadar informasi, setahun silam, proposal skripsi yang sudah saya pertahankan dan dipersilahkan untuk dilanjutkan berjudul “Aspek Psikologi dalam Penanganan Sexual Addiction Korban Pemerkosaaan Perspektif Maqasid Syariah ( Studi Layanan PPT-P2A Kota Surabaya). Sebuah riset sensitif dan beresiko, terkait korban pemerkosaan yang justru mengalami kondisi yang saya sebut sebagai “ketagihan berhubungan seksual”.

Nasi sudah menjadi bubur. Data yang saya butuhkan, tidak bisa saya dapatkan, padahal awalnya saya diberi tahu bahwa data bisa diakses. Penguji sebenarnya sudah memberitahu tentang kesulitan yang akan saya hadapi, tapi saat itu saya berhasil meyakinkan bahwa saya sudah mendapatkan kepastian untuk akses data.

Kejadian itu membuat saya introspeksi diri. Barangkali ada satu hal yang terlewat sebagai penyebab kegagalan ini. Salah satunya adalah mengenai kurang tepatnya menemukan objek yang saya teliti, atau aksesbilitas data, atau bisa jadi probabilitas permasalahan yang bisa diteliti.

BACA JUGA  Lomba Kirim Foto Agustusan (GRATIS), Hadiah Pulsa Total Ratusan Ribu dan Paket Buku

Tapi, bukankah saya sudah melakukan pra-penelitian dan mendapat jawaban bahwa saya diperbolehkan mengambil data? Iya betul. Tapi manusia di manapun benar-benar tidak bisa digantungi sebuah harapan. Hatinya bisa terbolak-balik lantaran banyak hal. Prediksi awal saya yang terlewat adalah tidak memikirkannya. Dengan objek yang sensitif dan tabu itu, saya gelap mata untuk tetap melakukan penelitian tanpa berpikir suatu saat akan ditolak.

Saya biasa saja. Karena sudah terbiasa dengan kegagalan dan masa bodoh dengan penilaian orang, karena saya sudah berjuang untuk itu. Lain cerita jika saya tidak memperjuangkan apa pun. Karena seorang Muslim cukup memikirkan prosesnya yang dihisab, soal hasil biar Allah tentukan. Saya langsung bangkit, memikirkan judul baru tanpa perlu merutukinya. Karena setelah saya coba berulang kali judul itu tidak bisa dirombak dengan cara apa pun.

Fokus di sini bukan dari sisi kegagalannya, tapi dari sisi waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang yang jika dinilai dari tolak ukur “hasil” menjadi percuma. Meski pun saya sepakat, bahwa apapun yang telah kita perjuangkan tak ada yang percuma. Saya paham, bahwa kegagalan memberi sisi positif dalam diri kita untuk menjadi lebih sabar dan belajar. Namun, jika sekarang kita memiliki waktu untuk memilih, maka ambillah pilihan termudah.

Bukan berpikir pragmatis atau tidak idealis, di samping tawakkal, Rasul sendiri memberi kita teladan untuk berpikir realistis dan yang paling mudah dikerjakan. Dari Aisyah berkata :

BACA JUGA  Calon Maba FAI Ikuti TM Ordik Fakultas

مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ

“…. tidaklah beliau diminta untuk memilih di antara dua perkara, melainkan beliau akan memilih yang paling ringan/mudah di antara kedua pilihan tersebut, selama tidak mengandung dosa….” (HR. Bukhari No.6786).

Barangkali, dengan memilih kemudahan itu, kita telah mempersiapkan diri pada waktu yang tersisa untuk takdir-takdir Allah berikutnya. Bukankah sikap seorang Muslim harus memiliki banyak pertimbangan, tidak grusah-grusuh? Pertimbangan yang senantiasa melibatkan syara’, cepat, tepat, dan terukur. Jika kita mulai belajar memikirkan pandangan ini, artinya kita sedang mempersiapkan diri pula untuk memiliki kecerdasan emosi, bukan hanya akal.

Namun, jika ke depannya kegagalan itu tetap datang, terimalah. Jangan salahkan keadaan apalagi sampai merutuki nasib dan memaki Tuhan. Sejauh ini saya masih percaya, sekalipun Allah yang menentukan hasilnya, kita pasti memiliki andil atas kegagalan itu, sedikit atau banyak. Dari sini saya ingin menyampaikan, jika orang lain bisa menceritakan tentang pencapaian-pencapaiannya, maka lewat tulisan ini saya hanya sedikit bercerita tentang bagaimana saya -begitu juga kamu- bisa bertahan saat kegagalan hadir.

Seseorang bisa menghibur kegagalan dengan kalimat “Ini adalah keberhasilan yang tertunda”. Jika kamu pernah merasakannya, itu tidak semudah yang diucapkan. Namun dengan semangat terus maju, memikirkan kebaikan-kebaikan di depan yang bisa diupayakan, menggeser paradigma ke arah yang lebih positif, saya percaya dan benar-benar percaya, hikmah akan selalu ada, dan pertolongan Allah akan selalu hadir mengiringi ikhtiar kita.

  • Ayunin Maslachah, Artikel ditulis menjelang malam, di sudut Kota Surabaya yang terus bergerak dan berbenah, 14 Juli 2020

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment