Jangan jadi Pemalas


Total kunjungan 268 , Kunjungan hari ini 1 

 

Apa itu Malas? Saya yakin pembaca yang budiman sudah tau apa definisi malas, dan bagaimana dampak negatif yang muncul apabila malas itu berlabuh dalam diri seseorang. Semacam penyakit mental yang begitu membuat amburadul dan kacau pekerjaan maupun pendidikan seseorang yang terjangkitnya.

Ada refrensi ilmu dari Edy Zaqeus (2008), yang berbunyi, ‘Rasa malas itu dapat diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya ia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, cinta dengan tidur yang bukan waktunya, tidak agility, dan lain sebagainya. Merugikan bukan? Iya, merugikan!

Pendapat lain mengatakan, bahwa rasa malas itu juga dapat mengakibatkan seseorang tidak produktif. Seseorang jadi lemah analisis, ide-ide kreatif tidak mengalir sedemikian baiknya, dan katangkasan lapangan menjadi kurang buas seperti singa memburu mangsanya. Merugikan bukan? Iya, merugikan banget!

BACA JUGA  Rashdul Qiblat Tahap 2, Momentum Terakhir Meluruskan Arah Kiblat Menggunakan Cahaya Matahari pada Tahun 2016

Dari kedua pendapat di muka, bisa disimpulkan bahwa orang pemalas adalah orang yang sangat tidak produktif dalam berbagai sisi. Jelas membahayakan bagi peradaban.

Pembaca budiman, tidak bisa disangkal lagi, saat ini kita semua berada dalam abad ke 21. Abad yang serba cepat. Kecepatannya mengakibatkan banyak hal. Persaingan pasar yang berubah-ubah, ketergantungan satu sama lain, dan seterusnya. Maka sangat diperlukan produktifitas kontinyu, dan ketangkasan bertindak.

Oleh para ilmuan, abad ini diberi julukan sebagai abad VUCA. Yang merupakan singkatan dari, Volatility ialah bergejolak dan berubah-ubah, Uncertainty ialah memiliki tingkat ketidak pastian yang tinggi, Complexity itu saling berhubungan, saling tergantung, rumit, dan Ambiguity adalah menimbulkan keragu-raguan. Istilah ini pertama dipakai dalam US Army War College dan dipopulerkan oleh Johansen dalam bukunya Leaders Make The Future (2012). (Agility, Rhenal Kasali).

BACA JUGA  Sosialisme, Masyarakat Tanpa Kelas dan Titik Temu Muhammad-Karl Marx?

Produktifitas dan ketangkasan bertindak seseorang akan melahirkan kebermanfaatan bagi personal dan orang sekitarnya. Membentuk karakter winner bukan losser. Memunculkan SDM yang tepat dan berdaya saing tinggi. Memecah gejolak-gejolak pola berfikir yang orientasinya buruk (kepentingan pribadi yang meresahkan orang). Dan dengan seseorang produktif, maka ia akan mudah menyelaraskan zaman penuh ketidak pastian menjadi lebih anggun dan bermartabat.

Hal itu bisa dicapai dengan indah apabila seseorang tidak ‘Pemalas’, tidak berpangku tangan, banyak bicara tanpa henti lupa bertindak. Memang betul !!!

BACA JUGA  "Filter Bubble Effect" dan Relasi Keberagaman Manusia

Mudah kan? Sangat mudah. Maka, mari lakukan perubahan yang konsisten. Perubahan yang menyeluruh, khususnya perubahan menghancurkan rasa malas menjadi sifat yang berprinsip tangkas dan disiplin mencari ilmu (produktif). Intropeksi diri, menjadi orang yang tidak malas dalam hal apapun. Menjadi singa yang buas melawan kemalasan.

Langkah-langkah demi langkah kita lakukan dengan sabar. Kesantunan, keikhlasan, dan kebijaksanaan harus tetap ditumbuhkan. Berfikir besar terhadap cita-cita yang menjadi keinginan. Membiasakan dengan hal-hal yang positif (konstruktif) sebagai motivasi diri. Cepat dan nyata, malas akan lari dalam diri, lalu keberhasilan akan tiba dengan sendirinya tanpa terkecuali.

Wallahua’alam

 

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Punggawa IMM Al-Qossam)

 

stop-malas

Komentar

komentar