Jomblo dan Arti Sebuah Peran


Total kunjungan 239 , Kunjungan hari ini 3 

Dalam perspektif hukum, masyarakat sebenarnya sudah mulai menyadari bahwa menghina seseorang adalah bagian tindakan yang terindikasi kriminal sebagai bullying secara verbal, termasuk menghina atau mengolok-olok peran/status seseorang.

Barangkali, di antara bullying secara verbal yang dianggap lumrah, dan terjadi rutin hampir tiap pekan adalah membully seseorang yang masih belum memiliki pasangan. Seorang Jomblo. Peristiwa bullying ini hampir terjadi tiap hari, beberapa kasus yang lain terjadi di hari Sabtu (malam Ahad) dan Kamis malam (malam Jumat), dengan motivasi yang bervariasi.

Bagaimana Kita memandang status Jomblo dalam perspektif agama dan peran yang sedang dimainkannya?

Pertama kali, saya memiliki dugaan kuat bahwa diksi “jomblo” mengalami pergeseran arti baik secara leksikal maupun orientasinya. Hal ini dikarenakan kata ini sebenarnya belum terdokumentasikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kata yang mirip dengan Jomblo, dan telah masuk dalam KBBI adalah “Jomlo” yang diartikan sebagai Gadis Tua. Jomlo yang, menurut beberapa sumber, kemudian mendapatkan sisipan “b” pada proses pelafalannya mulanya diidentikkan dengan perempuan tua.

Kultur dalam masyarakat Indonesia, dan bisa juga terjadi di kultur penduduk negara lain, memandang perempuan dalam batas usia tertentu (se)harus(nya) telah memiliki pasangan (baca : menikah). Pada saat melebihi batas usia tersebut, perempuan akan teridentifikasi dengan Jomlo.

Namun, seiring dengan waktu, terdapat pergeseran penyematan label “jomblo” yang bukan hanya diperuntukkan pada perempuan, namun juga pada lelaki yang tidak/belum memiliki pasangan.

BACA JUGA  Pentingnya Kerjasama Tim

Kendati tidak ada kesepakatan mengenai batas usia di atas, namun seiring dengan bergulirnya waktu, legitimasi kuasa melalui peraturan dan tingkat pendidikan, penyandang status jomblo ini seakan memprokalmirkan diri sebagai objek layak untuk bullying.

Sejatinya, status jomblo, baik disandang oleh lelaki maupun perempuan, menempatkan penyandangnya dalam dua sudut pandang sekaligus, yaitu sebagai objek dakwah dan urgensi utilitas perannya.

Sebagai objek dakwah, jomblo sebenarnya termaktub dalam al-Quran dengan diksi al-ayama (orang-orang yang sendiri). Allah berfirman dalam An-Nur:32

وَانْكِحُوْا الأَيَامَي مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ

“ Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dan hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan”.

Jika menelisik dalam ayat tersebut, khitab perintah di atas sebenarnya ditujukan pada orang-orang agar memiliki atensi baik terhadap orang di sekitarnya, yang masih belum menikah dan telah pantas menikah.

Ini berarti, tindakan pencemoohan, sindiran, dan hujatan serta hinaan terhadap kaum jomblo bukan saja tidak selaras dengan nilai al-Quran, namun juga menjadi kritik terbalik agar kita mau -dan berusaha- mencarikan pasangan untuknya.

Kendati demikian, nuansa dakwah atau, paling tidak motivasi yang sering terungkap, seringkali justru terdengar “seakan” hanya bernilai bulliying semata. Saya belum melakukan sensus terkait motivasi gojlokan dan respons jomblo atas sikap itu, namun seringkali candaan seperti ini sangat sensitif.

Sementara dalam sisi urgensi utilitas peran, sudut pandang jomblo memiliki kritik konstruktif internal pada peran atau aktivitas yang dijalani oleh kaum Jomblo. Mengenai hal ini, Nabi pun pernah bersabda:

BACA JUGA  Ujian dan Pendakian Level Kehidupan

 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَاب مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai golongan pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka menikahlah. Jika tidak mampu, maka hendaklah dia berpuasa. Karena puasa menjadi tameng baginya”. (HR Bukhari)

Hadis tersebut terdokumentasikan dalam beberapa kitab hadis, di antaranya Muslim, Abu Daud, al-Turmudhi, al-Nasai dengan varian sedikit perbedaan redaksi. Jika merujuk pada pemilahan Nabi, maka opsi tatkala belum menikah di atas adalah dengan berpuasa.

Berpuasa, menurut penulis, mengindikasikan atas artikulasi peran yang semestinya dilakukan oleh jomblo. Bahwa ketidakmampuan diri untuk menikah, semestinya diarahkan untuk beraktivitas yang lebih positif, di antaranya untuk beribadah.

Dalam beberapa litearatur lain, al-Mudzaffar Said bin Muhammad al-Sinnari pernah menginventaris beberapa peran positif perempuan terkenal yang memilih tidak menikah dalam karyanya, Mashahir al-Nisa al-Uzzab atau Shahirat lam Yatazawwajna (Perempuan Terpandang yang tidak Menikah).

Senada dengan itu, Abdul Fattah Abu Ghuddah pernah juga menguraikan biografi para intelektual yang memilih jalur membujang hingga akhir hayat dalam karyanya Al-Ulama al-Uzzab alladzina Atharu al-Ilma ‘ala al-Zawaj (Para ulama Jomblo yang lebih Mementingkan Ilmu dibanding Menikah).

Beberapa tokoh dengan berbagai bidang disiplin keilmuan yang dipaparkan dalam kitab tersebut mulai para ahli tafsir, ahli qiraah, ahli hadis, ahli fikih, para hakim dan para mufti, para sastrawan, para sejarawan, para pakar tata bahasa dan ahli bahasa serta ahli zuhud dan para hamba, menjadi biografi unik mengenai kaum jomblo.

BACA JUGA  10 Alasan Memilih Kuliah di Surabaya

Bahkan, melihat urgensi literatur di atas, Husein Muhammad pun menyarikan beberapa tokoh dalam 2 kitab tersebut dan melengkapinya dengan argumentasi dan kelengkapan biografi, lalu mengumpulkannya dalam buku Memilih Jomblo, Kisah Para Intelektual Muslim yang Berkarya sampai Akhir Hayat (Yogyakarta: Zora Book, 2015).

Secara ringkas, hal ini menandaskan sekaligus membetot kesadaran orang jomblo untuk memberikan utilitas peran yang dijalaninya saat label “jomblo” masih tersematkan. Melakukan taqarrub pada Allah dengan lebih baik, serta memberikan arti penting aktivitas sehari-harinya.

“ Mereka mempersembahkan kehidupan mereka untuk ilmu pengetahuan. Mereka hidup tidak menikah (baca: Jomblo) dan menyendiri, mereka mengendalikan dirinya dari kenikmatan paling tinggi yang disyariatkan Islam, yaitu kenikmatan menikah, memiliki keturunan, anak, (mereka) berharap pada perkembangan ilmu, pengabdian pada agama, serta pemberian manfaat pada kaum muslimin “, Begitu kesan Abu Ghuddah Abdul Fattah dalam mukaddimah Al-Ulama al-Uzzab alladzina Atharu al-Ilma ‘ala al-Zawaj mengenai jomblo.

Semoga peran apa pun yang sedang dijalani oleh Jomblo, serta orang lain di sekitarnya, selalu berlandaskan pada nilai kebaikan,untuk diri sendiri dan yang lebih penting, untuk orang lain.

Selamat Malam Jumat, Blo

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment