Keberuntungan Berperilaku Jujur


Total kunjungan 3,740 , Kunjungan hari ini 1 

Jujur seharusnya menjadi “wahana” (kendaraan) bukan sekedar “wacana” (ide). Ucapan yg baik dan niat tulus akan menjadi semakin indah jika ada wujud amal dalam kenyataan.

Oleh : Anggrayu Kurnia Saputri

“Kejujuran adalah kunci utama dari kesuksesan. Jika sikap jujur tertanam, maka kesuksesan akan semakin dekat. Kejujuran juga menjadi dasar utama dari kepercayaan. Dan membangun sebuah kepercayaan, dimulai dari membangun sikap kejujuran”

Ketika kita mendengar kata Jujur, apakah yang ada di benak kita? Dan pastinya apa itu jujur? Sudahkah kita jujur terhadap diri sendiri ? sudahkah kita jujur terhadap orang lain? Sudahkah kita menanamkan sikap jujur dalam diri kita? Kebanyakan orang hanya tau apa itu jujur tapi mereka belum bisa menanamkan pada diri sendiri tentang kejujuran.

Jujur adalah kesesuaian antara lisan dengan kenyataan. Kejujuran adalah Kelurusan hati, tidak berbohong, tidak curang dan bersikap apa adanya (Pengertian Jujur 2010) Atau dengan kata lain sifat yang tertanam pada diri manusia untuk menyatakan apa yang dilihat atau dilakukan tanpa ada tambahan atau kekurangan dalam satu patah kata pun. Sikap jujur ini wajib ditanamkan dalam diri kita masing-masing agar menjadi kebiasaan. Lawan kata dari jujur yaitu bohong atau dusta. Seseorang akan dikatakan bohong atau dusta jika seseorang menyampaikan kenyataan tetapi tidak sesuai dengan kenyataannya, mereka akan menambahkan atau mengurangi kenyataan tersebut dalam penyampaiannya sehingga seseorang yang mendengar akan bereaksi antara senang dan tersakiti. Sifat ini sangat tidak baik untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah Mahfudzat berbunyi “Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji” (Mahfudzat, KMI, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri). Dari sini bisa diketahui bahwa kita sangat dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang jujur dan menepati janji. Karena orang yang jujur akan mempunyai banyak teman. “Siapa sedikit kejujurannya, akan sedikit kawannya”. (Mahfudzat, KMI, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri). Jadi sudah sangat jelas sekali kalau berbohong atau tidak jujur dalam bersikap apapun, maka akan sedikit teman yang ingin dekat dengan kita bahkan tidak akan ada teman yang ingin mendekati kita.

Dari 2 penjelasan Mahfudzat diatas dapat difahami bahwa sikap jujur harus tertanam dalam diri, karena itu sudah menjadi kewajiban dan harus menjadi kebiasaan agar kita selalu dilindungi Allah SWT. Perbanyaklah bergaul dengan orang yang jujur karena pergaulan akan membentuk karakter kita. Jika kita bergaul dengan teman-teman yang baik dan jujur maka kita akan terbentuk menjadi orang yang baik dan jujur. Begitupun juga sebaliknya, jika kita bergaul dengan orang yang sedikit kejujurannya, maka akan menjadi buruklah kita, karena terbentuk dari lingkungan dan teman yang tidak baik dan jujur.

Sikap jujur sangat dibutuhkan sekali dalam kegiatan apapun, misalnya dalam berbisnis, jika dalam berbisnis saja kita bisa membiasakan dan menanamkan kejujuran, Insya Allah akan mendapatkan keuntungan atau rezeki yang tidak dapat diduga-duga.

Kapan kita memulai sikap jujur? Sikap jujur seharusnya dimulai dari sendiri, sebelum mengajak orang lain, dengan niat karena Allah SWT. Jika jujur sudah tertanam dalam diri sendiri maka kita akan bisa menjadi lebih baik. Sikap jujur harus dimulai sejak kita anak-anak atau mulai dini. Karena jika dari kecil saja sudah terbiasa dengan sikap jujur maka kelak akan tumbuh menjadi orang yang jujur pula. Tetapi jika sejak kecil saja kita tidak dapat membiasakan diri dengan sikap jujur maka hancurlah kita, karena kita tumbuh menjadi orang yang sangat buruk.

Jujur adalah akhlak utama yang paling penting dalam kehidupan. Karena kejujuran mempunyai ikatan kuat dengan iman. Dasar daripada lisan adalah menjaga dan memelihara. Kebanyakan orang tergelincir dalam perkataannya sendiri karena mereka banyak bicara, mereka menceritakan sesuatu yang tidak pernah mereka lihat, mereka juga mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi sebelumnya. Jadi janganlah sekali-kali banyak berbicara apalagi penuh dengan kebohongan karena keselamatan manusia itu ada dalam menjaga lisannya (perkataannya).

BACA JUGA  Perluas Jaringan, Dosen FAI UMSurabaya ikuti Konsorsium Hukum Keluarga Islam Indonesia

Kejujuran adalah kunci utama dari kesuksesan. Dimana kita berbuat dan menanamkan rasa jujur, kesuksesan akan dekat dengan kita. Kejujuran juga dasar utama dari kepercayaan. Selama kita bisa berbuat jujur maka kita akan mendapatkan kepercayaan terbesar dari orang-orang sekitar kita. Kepercayaan sangat mahal harganya.

Jujur bakal mujur

Ada sedikit cerita tentang kejujuran dalam Kisah Umar bin Khattab dan Gadis Penjual Susu yang jujur. Khalifah Umar bin Khattab memiliki kegemaran melakukan ronda malam sendirian untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya secara langsung dari dekat.

Ketika melewati sebuah gubuk, khalifah merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik. Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini” kata anak perempuan itu. “Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”
“Benar anakku,” kata ibunya.
“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.
“Hmm, sejak ayahmu meninggal, penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya. Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu. “Nak, bisik ibunya seraya mendekat. Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah iu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya. “Tidak, Bu!” katanya cepat. “Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.
“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”
“Tapi tidak akan ada yang tahu kita mencampur dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa. “Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”
“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apapun kita menyembunyikannya,” tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang. Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
“Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin, Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,” kata anak itu. Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres. Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam Khalifah Umar. Dia beranjak meninggalkan gubuk itu kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
Keesokan paginya, Khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
“Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.
“Tuan saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami,” sahut ibu tua ketakutan.
Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya. “Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya ibu dengan perasaan ragu.
“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.
“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khlaifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian,” jelas Khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana dengan menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya. Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia dan membahagiakan kedua orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz”.
Dari cerita singkat di atas, ada pesan yang bisa diambil, yaitu buanglah jauh-jauh sikap berbohong dan menyembunyikan sesuatu, karena semakin kita menyembunyikan sesuatu dan tidak berkata jujur, semakin banyak kebohongan dan kehancuran yang akan menghantui kita, tanamkan kejujuran dalam diri kita karena sudah pasti orang jujur akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT dan selalu beruntung dalam hal apapun.

BACA JUGA  Mahasiswa HKI UMSurabaya Terlibat Penyuluhan Terhadap Lansia & Orang Jalanan

Kita tidak asing jika mendengar kata “Berbohong demi kebaikan” , apa kalian setuju dengan kalimat ini? Yah, kalo saya kurang setuju meskipun tujuannya baik tetapi tetap saja berbohong adalah hal yang tidak baik. Niat yang baik pasti akan mencapai tujuan yang baik, tapi jika niat itu buruk meskipun tujuannya baik tetap saja hasilnya akan buruk. Karena suatu perbuatan yang dikatakan baik apabila tujuannya baik dan cara yang ditempuh juga baik maka akan mencapai tujuan yang baik pula. Dan bila tindakan jahat tidak akan pernah menjadi baik karena tujuan dari tindakan itu jahat. Jadi misalnya berbohong tetap saja jahat, walaupun demi menolong dengan tujuan yang baik.

Jadi mari kita mencoba jujur karena usia masih sangat muda untuk menggunakan kejujuran dalam hal apapun, baik dalam kehidupan keluarga, percintaan, persahabatan, pergaulan dan lain-lain. Banyak keuntungan dan manfaat yang kita dapat jika kita menanamkan sikap jujur dalam diri kita diantaranya : 1). Timbul rasa percaya diri dalam diri. 2). Hati akan terasa damai. 3). Akan dapat mempermudah dalam mendapatkan pekerjaan. 4). Tidak mudah tersinggung. 5). Sukses dan selalu dilindungi Allah SWT.
Dan sebaliknya jika tidak menanamkan sikap jujur, maka kita akan menerima keadaan : 1). Cepat marah dan mudah tersinggung. 2). Gelisah dan tidak tenang. 3). Tidak dapat dipercaya. 4). Suka dendam dan berprasangka buruk. 5). Tidak punya teman. 6). Hancur dalam segala hal.

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Al-Ahzab : 70 – 71].

Jujur merupakan sikap yang sangat langka dan jarang ditemukan di kehidupan saat ini. Tidak semua orang dapat menerapkan kejujuran, karena jujur merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, tetapi walaupun pahit, kejujuran tetap harus dilakukan. Kejujuran kelak akan mendapat imbalan yang manis. Sedangkan kebohongan, seakan terasa manis, tapi berakhir dengan kepahitan yang berkepanjangan.

BACA JUGA  Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Gelar Talkshow Pranikah

Kejujuran seharusnya menjadi barisan terdepan dari sikap, perilaku dan tindakan. Sikap jujur merupakan salah satu kepribadian seseorang yang menentukan semua keadaan terhadap suatu lingkungan terutama lingkungan masyarakat. Jujur merupakan pondasi utama untuk melakukan perbuatan baik. Ketika memiliki kejujuran berarti diri seseorang tersebut mempunyai akhlaq yang mulia dan pastinya akan dipercaya teman, keluarga dan masyarakat. Ketika seseorang sudah berada di puncak maqom kejujuran, maka yang dirasakan adalah kepuasan batin dibarengi perasaan enak, hati tenang dan kemudahan dalam hidup.

Jujur dalam perbuatan dengan cara memperlihatkan sesuatu apa adanya tidak berbuat basa basi tidak dibuat-buat, tidak menambah atau mengurangi. Apa yang diyakini sebagai kejujuran dan kebenaran ia jalani dengan keyakinan kuat maka Allah selalu membalas perbuatan dengan ganjaran yang sesuai.

Secara emosi, anak yang jujur biasanya bersikap tenang, karena memang tidak ada yang dicemaskan, lain halnya dengan anak yang tidak jujur pasti ia akan gelisah dan takut jika ketahuan. Berikut ini adalah ciri-ciri yang kasat mata bila seorang anak berbohong, antara lain: 1). Kesulitan menceritakan kronologis kejadian. 2). Perubahan Ekspresi Wajah. 3). Adanya gerakan tubuh yang tidak biasanya. 4). Tanggapan yang tidak spontan. 5). Merasa tegang atau cemas. 6). Kontak mata menjadi kurang.
Sebenarnya mengajarkan kejujuran itu tidak susah, ada beberapa penyebab ketika anak tidak jujur alias bohong. Misalnya kurangnya perhatian dari orang tua, takut dihukum, berbohong karena khayalan, perhatian negatif dari orang tua, asumsi jujur itu hancur, tekanan dari orang tua, mendapat penghargaan dari orang lain.

Jujur seharusnya menjadi “wahana” (kendaraan) bukan sekedar “wacana” (ide). Ucapan yg baik dan niat tulus akan menjadi semakin indah jika ada wujud amal dalam kenyataan. Kejujuran merupakan kebaikan dan kebaikan akan menjadi jalan ke surga. Sebaliknya, berdusta merupakan kejahatan dan kejahatan akan menjadi jalan ke neraka. Allah SWT akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang di kehendaki-Nya.

Daftar Rujukan
Suryana,Kewirausahaan; Pedoman praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Salemba Empat, Bandung:2003
Rusman Hakim,  Kiat sukses berwiraswasta; mengatasi krisis etika dan krisis motivasi, Gramedia, Jakarta, 1998
Fuad Abdurrahman, Dahsyatnya Jujur dan Kisah-kisah Teladan Lainnya, Bandung: 2011
Mahfudzat, Kulliyatul Mu’alliamat Al-Islamiyah, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri
Sherina Salsabila, dkk, Hadiah Kejujuran, Indiva Media Kreasi Group: 2015
Derry Iswidharmanjaya, Mengajarkan Kejujuran Itu Tidak Susah, Jakarta: 2015.

Biodata Penulis
Saya adalah seorang gadis yang dilahirkan di kota Surabaya tanggal 9 Mei 1995, dengan nama lengkap Anggrayu Kurnia Saputri. Biasa dipanggil Ayu. Saya adalah anak Pertama dari 2 bersaudata. Saya bertempat tinggal di Jl. Kampung Malang Tengah I no 39 Surabaya. Dan saat ini saya tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya di Fakultas Agama Islam jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2014.
Saya sangat gemar sekali membaca apalagi membaca novel-novel. Membaca dan menulis adalah 2 hal yang tentu sangat jauh berbeda. Saya lebih gemar membaca daripada menulis. Sebenarnya belum ada terlintas di benak saya keinginan untuk menulis. Tetapi setelah mengikuti Pelatihan Kepenulisan Dasar banyak hal yang saya pelajari dan saya mulai tertarik untuk mencoba menulis dan mwngikuti seleksi Karya Tulis Pelatihan Kepenulisan Dasar 2017 ini. Saya harap dari Karya Tulis ini bisa menjadi langkah awal untuk mengasah kemampuan saya dan bisa menjadi lebih mahir dalam hal menulis dan semoga bisa menjadi penulis- penulis yang sukses seperti lainnya. Kritik, bimbingan, dan saran, saya perlukan dalam meningkatkan kepuasan pembaca dalam karya tulis ini dan selanjutnya. Terimakasih.

Komentar

komentar

Leave a comment