Kun “Follower” Wa Laa Takun “The Other”


Total kunjungan 1,587 , Kunjungan hari ini 24 

Bukan, judul di atas tentu bukanlah sebuah ayat, hadits, maupun maqolah dari seorang ulama dengan bidang keahlian tertentu. Tentu membacanya-pun tak perlu dengan makharijul huruf yang sempurna lengkap dengan qolqolah yang membuat tenggorokan bergetar membahana. Potongan kalimat tersebut di atas adalah upaya memahami salah satu hadits kependidikan (Hadits Tarbawi) tentang stratifikasi pembelajaran Islam jika dielaborasikan dengan perilaku anggota sebuah lembaga terhadap rumah dunia maya yang dimiliki, termasuk perilaku kita, dalam hal ini saya dan anda sekalian, sebagai bagian dari FAI UMSurabaya, terhadap laman web yang katanya milik kita bersama.

Dalam hadits, Rasulullah bersabda :

: كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبٌا وَلاَ تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلَكَ.

“jadilah kamu orang pandai, pelajar, pendengar atau pencinta. Dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima sebab kamu akan binasa”. (HR: Al-Baihaqi)

Sesuai hadits tersebut, maka tingkatan subyek pembelajaran dalam Islam setidaknya dibagi menjadi lima, yakni (1) ‘Aliman, orang yang berilmu dan bersedia mengajarkan ilmunya, (2) muta’alliman, pembelajar yang menuntut ilmu dari sang mu’allim, (3) Mustami’an, orang yang senantiasa mendengarkan majelis ilmu, (4) Muhibban, orang yang gemar terhadap ilmu, dan (5) Khomisan, orang ke lima, orang lain, yakni orang yang sama sekali tidak memenuhi keempat kriteria tersebut di atas.

BACA JUGA  Keluarga Teroris, Bukti Kongkrit Pentingnya Pendidikan Kekeluargaan.

Bagaimana mengelaborasi hadits tarbawi tersebut di atas dengan pengelolaan rumah dunia maya ini? Menurut saya, terjemah bebas dari kelima stratifikasi tersebut adalah (1) ‘Aliman = Author, orang yang selalu membagikan postingan untuk berbagi dengan orang lain, (2) Muta’alliman = contributor, orang yang banyak belajar dari rumah tersebut, kadang kala membagikan suatu postingan kepada rekannya sesama pengunjung web, meski tentu saja tidak sesering author, (3) Mustami’an = Follower, orang yang selalu update info dan berita terkini, (4) Muhibban = subscriber, orang yang memiliki rasa suka terhadap keberadaan web tersebut, (5) Khomisan = the other, orang yang sama sekali tidak menganggap keberadaan website.

Bagaimana implementasi kelimanya? Sebagai ‘Author, tentu harus rajin buka website, serta rajin mengisi laman web dengan konten yang bermanfaat untuk dibaca para pengunjung. Bahkan, baginya mengisi laman web laksana sebuah kebutuhan, yang jika tidak dilakukan maka akan terasa ada yang kurang dalam kesehariannya. Tentu ini menjadi sebuah maqom tertinggi dalam pengelolaan sebuah web, seperti ‘Aliman sebagai sebuah stratifikasi tertinggi dalam sebuah pembelajaran.

BACA JUGA  HIDUP TAK SELAMANYA BERJALAN MULUS

Jika belum mampu menjadi author dikarenakan kurangnya kemampuan atau minimnya kesempatan, maka dapat menduduki posisi sebagai contributor, yakni orang yang secara berkala maupun insidentil memberikan kontribusi konten di web tersebut, meski itu bukan menjadi kewajiban ataupun kebutuhan baginya, dan ia selalu aktif membuka laman web tersebut. Ini seperti seorang murid yang selalu menimba ilmu dari gurunya, dan secara insidentil mengeluarkan idenya sendiri untuk dibaca baik oleh sang guru maupun sesama murid. Misal, kebetulan ia memiliki sedikit oleh-oleh berupa catatan usai mengikuti suatu pelatihan, maka oleh-oleh tersebut dinarasikan dan disumbangkan sebagai bentuk kontribusi pengembangan website.

Belum mampu juga untuk duduk sebagai Contributor? Jadilah Follower. Yakni, orang yang senantiasa update perkembangan berita di laman web. Ia akan menjadikan laman web menjadi sebuah laman yang wajib dikunjungi setiap terkoneksi pada jaringan internet. Sebagai penikmat laman web, ia-pun tidak jarang membagikan konten yang ditulis oleh para author. Ia menunjukkan diri sebagai seorang mustami’an yang baik.

Bila masih merasa belum mampu, maka setidaknya jadilah subscribber, orang yang secara insidentil membuka laman web jika memang ada info yang dirasa menarik, dan sebagai muhibban, bentuk kebanggaannya diwujudkan dengan secara insidentil membagikan konten dari laman web tersebut yang kebetulan sejalan dengan idenya.

BACA JUGA  "Malem Songo", Tradisi Pernikahan Unik Khas Bojonegoro

Lantas, siapakah “The Other?” Tentu ia adalah orang yang sama sekali tidak pernah melakukan apa yang seharusnya dilakukan keempat stratifikasi tersebut di atas. Berbagi postingan tak pernah, berkontribusi di kolom komentar pun entah, disuruh membuka tautan web sendiri malah marah, membagikan artikel maupun tautan (link) website sendiri ke jejaring sosialnya pun ogah, padahal di media sosial ia sangat aktif berbagi kisah, berdakwah, hingga berkhutbah. Ancaman besar bagi orang kelima adalah, ia akan binasa. Tepatnya, ia akan tersudut di ujung gang sempit dari sebuah jalan peradaban.

Lalu bagaimana jika sang “The Other” tiba-tiba bilang “Ayo galakkan literasi”, atau mendadak ia berkata “Mari bangga dengan karya kita sendiri”? Tenang, jangan panik dan jangan emosi. Baiknya hadapi dengan tenang hati, lalu gunakan solusi yang pernah kita sepakati kapan hari. Ajak ia bangun, mandi dan gosok gigi, jangan lupa siapkan secangkir kopi. Mengapa? Masih dengan alasan yang sama, karena sejatinya ia sedang bermimpi.

Komentar

komentar

Leave a comment