Mahasiswa Masa Depan Bangsa


Total kunjungan 89 , Kunjungan hari ini 2 

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

Genius is one percent inspiration, ninety-nine percent perspiration” (Genius adalah satu persen inspirasi, sembilan puluh sembilan keringat). Thomas Alva Edison, penemu bola lampu.

Kita semua masih ingat dengan pergantian pemerintahan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, setelah memimpin Indonesia selama 21 tahun? Masih ingatkah? Iya, pada tahun 1965-1966 transisi masa orde baru. Dimana mahasiswa dan pemuda Indonesia tergabung dalam kesatuan aksi untuk mengganti pemerintahan yang dinilai sudah tidak pro dengan rakyat, waktu itu.

Dilanjutkan lagi, peristiwa tidak kalah pentingnya, tahun 1998 lalu. Mahasiswa dan pemuda Indonesia optimis tergabung dalam aksi nyata lagi untuk mengakhiri pemerintahan Soeharto selama 32 tahun karena dinilai sudah tidak pro dengan rakyat. Dan masih banyak peristiwa-peristiwa penting lain yang salah satunya mahasiswa ikut bersumbangsih di dalamnya.

Dari situ, maka sangat pantas jika mahasiswa disebut sebagai agen perubahan (Agent Of Change) dan agen kontrol sosial (Agent Of Social Control). Lalu, sampai saat ini masih sangat aktif dalam gerakan mahasiswa. Itulah mahasiswa.

BACA JUGA  HADIS HUKUM KELUARGA

Indah dan mengagumkan. Tidak bisa dipungkiri, mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Ia penyambung lidah rakyat jelata yang tertindas. Ia ujung tombak peradaban intelektual, entrepreneur, dan sosial. Ia management pergerakan nyata. Ketangkasannya berorasi, keuletan berenterpreneur, dan kelembutan sosialnya, adalah bukti konkret seorang mahasiswa.

Kamajuan negara dan bangsa berada di tangan mahasiswa. Kemampuannya adalah aset penting yang harus terus dikembangkan dan dibudidayakan. Dan semua itu mutlak akan dimiliki mahasiswa yang berani kritis dengan kebijakan-kebijakan destruktif. Berani menggunakan waktu di sela-sela luang kuliahnya untuk kumpul bersama di sebuah organisasi kemahasiswaan. Dan tidak pernah pesimis dengan apapun problematika yang akan menimpanya.

Dialah mahasiswa, dialah mahasiswa.

Di universitas atau institut perguruan tinggi, kita semua memutuskan untuk belajar mencari kedewasaan pengetahuan. Setelah beberapa tahun duduk menjadi siswa di SD,SMP,SMA. Dan saat ini, waktu mengantarkan menjadi mahasiswa. Kita berasal dari tempat yang berbeda-beda. Dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Kampung pelosok dengan tradisi kental, sampai kota dengan kemegahan pernak-pernik lampunya.

Perjuangan orang tua adalah bekal renungan untuk kita semua menjadi mahasiswa sejati serta dapat dipercaya. Membuat bangga orang tua adalah tujuan mulia. Sekarang kita sudah berada dalam ranah belajar yang lebih dewasa lagi. Kacerdasan, kelembutan, dan kedisiplinan akan kita kembangkan sendiri dalam dunia baru demikian (kampus). Dan teteplah optimis mencari kesibukan yang melibatkan intelektual dan ketrampilan.

BACA JUGA  Menselaraskan antara Kuliah, Kerja dan Organisasi

Di tempat luas dan megah dengan berbagai wajah itu, kita banyak sekali menemukan perubahan-perubahan. Baik itu dari sisi strategi pembelajaran, subyek pendidikan, pergaulan, pergerakan dan seterusnya. Kita harus mengerti mana putih dan hitam. Bahkan persiapkan diri jika dibuat kagum dengan warna-warni karakter pengajar kita. Ibarat, putih kehitam-hitaman dan hitam keputih-putihan. Itu wajar, tinggal bagaimana kita lebih giat lagi mengasah pola analisis tajam dan sistematis.

Di lingkungan kampus, kita harus peka dalam berbagai keadaan. Rasionalitas kita harus selalu mempertimbangkan segala bentuk kebijakan. Jangan terlalu gampang meng’iya’kan keputusan. Sekali lagi kita sudah bukan siswa lagi. Mahasiswa sejati itulah status akademik kita sekarang. Dan jangan takut untuk bertanya, jika takut untuk itu, maka kita akan ditenggelamkan oleh keputusan-keputusan, sebagaimana Widji Tukul berkata. Teruslah tersenyum dan teruslah bertindak. Apa yang menurut kita baik dari inisiatif yang muncul, maka lakukan. Jangan takut.

BACA JUGA  Ujian dan Pendakian Level Kehidupan

Jadilah mahasiswa yang kaya dengan inovasi, dan haus akan hal-hal positif yang manfaat.

Mahasiswa ialah driver pergerakan. Menjadi penyejuk suasa lingkungan yang panas dengan berbagai ketidak-sesuaian. Kita adalah orator, negosiator, dan pendobrak kemaksiatan. Kita itu mengkritik, kritik yang membangun itulah yang kita miliki. Kita mampu menjadi mahasiswa yang tidak hanya pandai ngomong, tapi pandai bertindak. Cara berfikir seimbang akan selalu kita dapatkan. Untuk itu, belajar terus dengan tekun, ikutlah berorganisasi. Masyarakat membutuhkan taring mahasiswa. Masyarakat berharap besar kepada kita. Agent of change and Agent of social control.

Semangat berjuang mahasiswa organisator (genius). Senyum kita semua akan selalu indah di lingkungan perkuliahan. Ibarat bola lampu, kita akan menjadi penerang kegelapan di malam hari. Saran saya, lakukan sesuatu, awali dengan “berdo’a” berproseslah dengan keras serta gagah berani, dan akhiri dengan “berdo’a”.

Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku guncangkan dunia. Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno..

Wallahua’alam..

Komentar

komentar

Leave a comment