Namaku Meyra Agustin. Panggil saja aku Dara. Aku lebih suka dengan nama Dara, dibanding Meyra yang selalu mengingatkanku pada masa lalu. Penuh luka. Di usiaku yang baru 20 tahun, aku telah melahirkan seorang putri berwajah pualam, dan telah kutitipkan pada seorang kawan di daerah Depok. Aku ingin menjalani hidup yang baru.

 

Siang ini, panas matahari terasa lebih menyengat. Suhu mulai naik di Bulan September. Hembus angin yang menepis wajah pun masih seperti kepul air yang dilepaskan air mendidih. Hangat. Aku mulai menyeka cucuran keringat ini, bersama ratusan mahasiswa baru yang tengah mengikuti masa orientasi kampus.

BACA JUGA  Template Kinerja Dosen Tetap FAI 2018

“ Meyra, kamu kelompok mana?”

Seseorang perempuan kecil dengan kerudung terikat memanggilku. Membuyarkan lamunanku sambil bersimpuh di bawah bayang-bayang gedung G Inspire, beralaskan koran bekas. Kami baru berkenalan di toilet pagi tadi. Namanya Ririn.

“Aku kelompok Mas Mansur. Kamu?”

“ Entahlah, aku gak yakin. Kelompok Dahlan, atau Buya Syafii. Soalnya tadi namaku disebut dua kali, hehe”

BACA JUGA  Partisipasi Kelas Astronomi UM Surabaya di IOMN 2020

Saya dan Ririn mulai kembali ke kerumunan mahasiswa baru. Membaur, menyatu bau dan letih bersama. Mengikuti segala instruksi. Membebek laksana boneka. Tanpa ruh, tanpa interupsi. Pasrah. Namun saya menikmatinya. Setidaknya untuk saat ini, torehan luka masa lalu teralihkan dengan orientasi mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya.

 

Catatan :

Cerita “Memoar Meyra” adalah fiksi, meski beberapa hal terinspirasi dari kisah nyata salah seorang sahabat. Memoar Meyra akan hadir berkala setiap Kamis, 1 atau 2 minggu sekali.

Total kunjungan 702 , Kunjungan hari ini 2