MEREDUKSI RELIGIOUS CAPITALISM (Pelajaran Mengenal Travel Arofahmina)


Total kunjungan 99 , Kunjungan hari ini 2 

Oleh : Mohammad Ikhwanuddin, S.H.I., M.H.I (Pendidik dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya)

Dalam pembelajaran mengenai ilmu logika ( al-mantiq), terdapat salah satu tema yang sering kali digunakan periset dalam mensistemasi hasil risetnya. Tema tersebut adalah al-Taqsim.

Al-Taqsim diartikan sebagai cara berfikir tipologis yang mengandaikan objek riset sebagai sesuatu yang heterogen. Ada macam, warna, variasai, atau mengetengahkan ketaktunggalan. Di sinilah urgensi pola berfikir al-taqsim. Dengan latar berfikir inilah, varian religious capitalism hadir.

Sebenarnya, istilah Religious Capitalism baru saya dengar pertama kali di sebuah kelas Doktoral yang diampu oleh Kaprodi Dirosah Islamiyah ( Islamic Studies) Dr. Ahmad Nur Fuad, M.A. Sebuah varian tipologis, yang mengetengahkan tipe lain dalam dunia bisnis selain bisnis yang profit oriented (sangat kental nilai kapitalisme-nya) dan bisnis yang bernilai sosial/berlandaskan pada agama (bisnis lebih sosial yang lebih kental nuansa ukhrawinya).

Dalam dunia akademis, pola berfikir al-taqsim wajar terjadi, dan bisa dimaklumi. Pola sistemasinya, meski terkesan sederhana, namun argumentasi yang dibangun sangatlah bisa sangat kokoh, ilmiah, dan acceptable.

Dengan pola berfikir yang sama, yakni al-taqsim, Prof Baharun pernah menelaah tipologi (adaptasi) masyarakat Sunni dan Syiah (lalu memunculkan istilah Susyi, gabungan dari Sunni-Syiah). Prof Abdul Munir Mulkhan juga membuat tipologi warga Muhammadiyah, lalu menghasilkan 4 tipe, yaitu Al-Ikhlas, Ahmad Dahlan, Mu-Nu (Muhammadiyah-NU), dan Marmud (Marhaen-Muhammadiyah). Jauh sebelumnya, Sosilog Clifford Geertz membuat tipologi masyarakat agama Jawa dengan Santri, Abangan dan Priyayi.

Kembali ke Religious Capitalism. Bagaimana saya memahami tipe ini, adalah pengalaman subjektif dan kontekstual. Saya memahaminya dari 2 sudut pandang. Pertama, Produk, dan Kedua Pelayanan. Saya kemudian tidak bisa menghindari, bahwa salah satu bisnis yang dibutuhkan sepanjang masa oleh umat Islam, di antaranya agen Travel Haji-Umrah.

BACA JUGA  Tawaran Konsep Moderasi Islam Indonesia Untuk Peradaban Dunia

Produk bisnis ini mayoritas berupa jasa ibadah, selain jual beli aksesoris sarana prasarana untuk bepergian. Pelayanannya berkaitan dengan ibadah. Mulai pra-ibadah (misal manasik haji-umrah), pelayanan di bandara, Makkah-Madinah hingga sampai di rumah kembali.

Saya menduga, menjamurnya travel Haji-Umrah selain merespons kebutuhan pasar yang luas, juga kecenderungan bisnis ini masuk dalam tipe Religious Capitalism.

Pengerukan keuntungan yang sebesar-besarnya, dengan skema apa pun itu (termasuk MLM atau Ponzi), promo murah atau lainnya, jika tak diiringi kinerja reduksional yang profesional dan amanah,  sering justru terjebak dalam religious capitalism.

Agaknya, kasus gagal berangkat 63.310 jamaah umrah First Travel dan gagal berangkat 86.720 jamaah Travel Abu Tours, dengan kerugian masing-masing mencapai level trilliunan, menjadi bel warning yang cukup keras, akan kecenderungan bisnis ini masuk dalam Religious Capitalism (dalam update Kemenag, ada beberapa Travel yang telah dicabut izinnya.)

BACA JUGA  Sosok Yang Terlupakan

Pengalaman dari Arofahmina, sebuah Pelajaran Berharga Saya

Sebagai catatan, saya belum pernah menjalani umrah atau haji. Jadi, jika saya pernah tercatat ikut mendaftar sebagai Tour Leader Arofahmina (sekitar, September 2017) dan gagal, adalah pengalaman ironis yang saya anggap sebagai hiburan eksperimental semata.

Awal Maret 2018 silam, akhirnya saya melabuhkan hati untuk mendaftar jadi (calon) Jamaah di Arofahmina. Saat itu DP umrah 5.000.000. Istri mendukung pilihan itu, hingga akhirnya ada situasi di mana saya harus membatalkan DP tersebut.

Menurut aturan, jika pembatalan telah 7 hari sejak pendaftaran, maka ada biaya sanksi sebesar 1,3 juta. Karena saya butuh cash, saya terima kemungkinan potongan itu. Pihak Arofahmina yang membantu dengan baik saat itu, bernama Asri. Kata Asri, “Saya usahakan berkas (pembatalan) Bapak masuk hari ini, dan tidak terkena sanksi administrasi“. Saya teringat, itu bertepatan hari ketujuh sejak pendaftaran.

Saat itulah, saya melihat ada nilai humanity yang sedang dibangun oleh Arofahmina. Mbak Asri sampai merelakan datang ke kampus tempat saya sedang belajar (saya sedang mengambil kelas doktoral di UIN Sunan Ampel Surabaya), dan akhirnya uang pun dikembalikan utuh. Tanpa terkena sanksi potongan.

Mungkin itu pengalaman pribadi, tapi saya berkeyakinan, pola mendasar dari bisnis jasa -termasuk travel- harus diperkuat nilai kemanusiaannya. Ngewongke uwong, memanusiakan manusia, dan itu bagian dari prinsip melayani jamaah. Di situlah, nilai Insani (kemanusiaan) menjadi urgen untuk keberlangsungan usaha.

BACA JUGA  Perluas Jaringan, Dosen FAI UMSurabaya ikuti Konsorsium Hukum Keluarga Islam Indonesia

Selain itu, saya melihat ada jargon 5 Pasti yang menjadi ruh hampir semua travel yang memiliki komitmen baik. Yakni, Pasti Travelnya Berizin, Pasti Jadwalnya, Pasti Terbangnya, Pasti Hotelnya, Pasti Visanya. Komitmen inilah yang membentuk relasi berkelanjutan dan sikap profesionalisme yang amanah. Saya membahasakan dengan Irtibat, sebuah relasi yang terbangun atas komitmen bersama.

Terakhir, dan ini yang membuat saya terkagum. Pernah saya datang untuk kedua kalinya di kantor Arofahmina di Jl Kartini Surabaya. Saat itu, adzan Dzuhur baru berkumandang. Seorang karyawan lalu memberi tawaran, “Bapak ingin menunggu sebentar, atau ikut berjamaah Dzuhur di ruang tengah“.

Pembiasaan shalat, di ruang kantor, bersama karyawan, saya yakin -sedikit banyak- bisa menumbuhkan nuansa religuisitas yang lebih kental di tempat kerja.

Idealnya, nuansa ini secara periodik mampu menciptakan kesadaran diri akan keberadaan Allah. Di sinilah, Ihsan terbentuk. Sikap yang penuh sadar, bahwa Allah sedang mengawasi kita. Sebagaimana Sabda Nabi saat ditanya tentang Ihsan, kannaka tara, fa in lam takun tarahu fainnahu yarak, engkau seakan melihat-Nya. Jika engkau tak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.

Sikap yang dilandasi kesadaran akan keterpantauan diri oleh Allah, bisa melabuhkan prilaku ora neko-neko, terlebih menyangkut uang orang lain dan niatan jamaah untuk beribadah. Pada akhirnya, kesadaran ini turut andil mereduksi Religious Capitalism.

In the last, saya melihat cara Arofahmina dalam mereduksi Religious Capitalism cukup menarik, yakni dengan memadukan Insany (nilai humanisme, kemanusiaan), Irtibati (relasi yang dibangun atas dasar komitmen) dan Ihsani (kesadaran atas Allah yang selalu Memantau).

Logo Arofahmina yang ditampilkan dalam booklet yang dikeluarkan oleh Arofahmina

Semoga bermanfaat.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)

Leave a comment