Pintar & Tangkas Saja Tidak Cukup !


Total kunjungan 175 , Kunjungan hari ini 4 


Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

Berbagai macam karakter manusia, selalu diselimuti ‘Daya Keinginan’ untuk menjadikan diri lebih baik. Menjadi lebih tertata dari berbagai sisi kehidupannya. Mempunyai nilai bijak dimata banyak orang. Dapat memunculkan kewibawaan yang besar. Bahkan setiap nafas, langkah, dan argumentasi yang diutarakan, dijadikan referensi pergerakan utama dengan kemudian bisa menghasilkan dampak yang manfaat bagi banyak orang.

Bukan hanya itu saja, dalam konteks untuk mencapai itu semua, ada pengorbanan yang begitu besar, tetesan air keringat harus rela bercucuran setiap waktu. Rela mengorbankan waktu bersama keluarga, dan lain sebagainya. Dan hal tersebut menjadi semacam bukti konkret dan contoh kepada seluruh manusia, bahwa manusia untuk mendapatkan tempat yang lebih baik itu harus usaha keras serta bijak. Ingat!

Pada kondisi sekarang, yang secara sektoral banyak perubahan cepat dan tentu lebih baik, malah kebanyakan orang sudah tidak menggunakan cara itu lagi untuk mendapatkan kenyamanan hidup. Adanya saat ini ialah menginjak-injak saudaranya dengan cara yang begitu tidak santun. Ada pula yang dengan tangkas berbicara “ayo saling membantu”, “ayo bersinergi bersama-sama demi kemajuan” tapi makna implementasinya tidak sempurna, dan seterusnya. Memang begitulah adanya, ketika berbicara mengenai kedudukan. Ambisinya sangat besar dan tidak bisa diubah-ubah lagi.

BACA JUGA  Belajar Menyikapi Getir Kehidupan pada Nur Cholis Huda

Lebih membuat sedih lagi, orang-orang yang demikian itu termasuk orang dalam kategori pintar dari berbagai sisi akedemiknya. Orang yang mempunyai pandangan jauh ke depan melalui teori-teorinya. Lama berbicara, sosial bisa dikatakan mumpuni. Man of idea, manusia yang punya banyak ide, strategi dan metode jitu secara sistematis untuk mendapatkan tujuan yang diharapkan. The best.

Mereka semua juga termasuk orang yang tangkas dalam action atau bergerak. Cara berfikirnya implementatif. Mempunyai banyak skill di lapangan. Terobosan-terobosannya luar biasa. Sedikit berbicara banyak bertindak. Pantang mundur ketika dihadapkan dengan berbagai problematika di lapangan. Dan cara berfikirnya teliti terhadap lubang-lubang membahayakan di lapangan. Lebih-lebih sangat kreatif di lapangan. Dan memang itu salah-satu syaratnya kalau ingin berhasil.

BACA JUGA  Senjata Disiplin

Tetapi, dalam waktu yang terus berjalan, khususnya pada saat waktu yang serba ada seperti sekarang ini. Kekacauan sering melanda di berbagai tempat. Penipuan yang terus menggerogoti dengan tema-tema agama yang ada. Korupsi tanpa ampun menginjak-injak hati masyarakat kecil. Pembunuhan menjadi makanan sehari-hari. Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang benar-benar perlu diperhatikan, lebih-lebih harus dilenyapkan. Semua itu semata-mata dilakukan untuk tujuan kesejahteraan hidupnya.

Dan usut punya usut, orang-orang intelektual dan tangkas bergeraklah yang telah terperangkap dalam lingkaran kekejaman kehidupan tersebut. Disitulah muncul ‘paradigma’ saya bahwa sebenarnya kejujuran harus berbicara dan ditegakkan sekokoh-kokohnya. Karena syarat-syarat menjadi orang besar dan manfaat itu tidak cukup dengan kecerdasan, kepintaran, ketangkasan, apalagi banyak bicara. Melainkan harus diseimbangkan dengan kejujuran.

BACA JUGA  HUKUM ISLAM DAN BUDAYA LOKAL: TELAAH UNSUR LOKALITAS DALAM PEMBENTUKAN HUKUM ISLAM

Lalu, bagaimana kejujuran bisa selalu diperhatikan?

Contoh, hemat saya begini, kebanyakan di indonesia sepankang yang saya ketahui khususnya, jika ingin masuk ke berbagai instansi-instansi pendidikan, sosial, pekerjaan, dan sebagainya, pasti terlebih dulu ada tes intelektual, tes kesehatan, tes pengalaman lapangan, dan banyak lagi tes-tes lainnya yang melibatkan kognitif dan psikomotornya. Iya pasti. Saya berharap ranah afektif juga disentuh. Langkahnya, tes kejujuran harus diikut sertakan dalam proses seleksi masuk ke instansi-instansi publik tersebut. Karena kebobrokan negara dalam pertumbuhan dan perkembanganya hampir disebabkan karena personal yang tidak mempunyai sifat jujur yang kuat.

Oleh sebab itulah, jika kejujuran menjadi perhatian besar bagi setiap bangsa dan negara, maka kesejahteraan akan menjadi hasil utama. Menjadi pusaka abadi nan jaya negara tercinta kita.

Wallahu’alam.

Komentar

komentar

Leave a comment