Resolusi 2017


Total kunjungan 46 , Kunjungan hari ini 1 


Masa berlalu, dan denting waktu terus berjalan. Tahun silih berganti, begitu pun keadaan, tantangan dan harapan. Beberapa hal tetap, dan perlu diteguhkan kemapanannya. Namun justru akan lebih banyak hal yang berubah. Tahun 2017 ini, butuh sebuah resolusi.

Sejujurnya, tidak banyak yang saya fahami mengenai diksi “resolusi” itu sendiri melainkan sebagai keputusan berupa permintaan atau tuntutan yang telah ditetapkan oleh rapat atau musyawarah. Begitu kalimat yang tertera dalam Kamus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2008; 1300).

BACA JUGA  Guru dan Politik Praktisan di Ruang Kelas

Jadi, resolusi tak lain berupa sebuah keputusan rapat. Semacam Raker (rapat kerja) yang dijalani oleh sebuah lembaga, instansi, organisasi dalam “menentukan” (baca: merancang, mengagendakan) arah sebuah perkumpulan.

Organisasi mana pun, setidaknya yang berkeinginan untuk terus berkembang, minimal akan membuat road map (peta jalan) dalam setahun sekali. Itu akan dilakukan tiap awal tahun. Bisa tahun mengikuti tahun baru (Masehi/Hijriyah) maupun Tahun Ajaran baru.

Saat ini, seringkali kalimat resolusi disematkan untuk sebuah keputusan individu. Maksudnya, sebuah road map yang berupa harapan, cita, impian, yang ingin dilakukan/diwujudkan oleh seseorang pada tahun ini.

BACA JUGA  Dinamika Penegakan Hukum Islam di Pengadilan Agama dari Masa ke Masa

Meski saya cenderung sependapat dengan penggunaan diksi “resolusi” untuk individu, namun tidak setiap tahun baru saya membuat daftar resolusi. Biasanya, saya hanya berefleksi dengan 2 hal mengenai resolusi, yaitu relasi dan finansial.

Berada di penghujung tahun, atau saat memasuki awal tahun, relasi adalah hal yang saya coba renungkan. Mulai relasi dengan tuhan, keluarga, serta teman dalam organisasi. Refleksi ini biasanya memendarkan rasa “penyesalan atas waktu” dan “harapan” untuk berbuat lebih.

BACA JUGA  27 Mei, Mari Meluruskan Arah Kiblat Shalat

Sementara tentang financial, come on, tiap orang tentu membutuhkan uang. Kemapanan ekonomi. Mengalkulasi (kembali) yang didapat, sembari mencoba berhemat, mencari “muara ekonomi” yang baru adalah salah satu resolusi yang bisa dikembangkan.

Baik relasi maupun finansial, keduanya bermuara menuju kondisi yang lebih baik. Maka tiap resolusi, paling tidak , akan memuat semangat dalam proses memperbaiki diri. Status yang lebih baik, relasi yang lebih istimewa, serta kemapanan yang lebih menentramkan. Semoga.

Komentar

komentar


Mohammad Ikhwanuddin

About Mohammad Ikhwanuddin

Mohammad Ikhwanuddin SHI MHI, Dosen dan Sekprodi Hukum Keluarga Islam ( Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam UMSurabaya, dan menjadi salah satu Anggota ADHKI (Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam ). Kini sedang menjalani pendidikan doktoral (S3) Prodi Studi Islam ( Islamic Studies) UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Beasiswa Mora Scholarship Program 5000 Doktor Kemenag RI Tahun 2017. (Telepon/WA 083849992503)