Sembilan Mahasiswa FAI Berangkat Berdakwah ke Daerah Terpencil


Total kunjungan 81 , Kunjungan hari ini 4 

Pada hari Ahad, 31 Juli 2016, bertempat di masjid Namira, Jl.Raya Mantup-Lamongan Km 5 Jotosanur Tikung Lamongan, dilaksanakan Halal bi Halal Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur. Agenda tersebut dihadiri KH Syuhada Bahri, Lc, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pusat.

Dalam agenda tersebut, sebanyak 9 orang mahasiswa program kerjasama Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam UMSurabaya dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur diberangkatkan untuk berdakwah kepada masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur. Mereka adalah Ahmad Mutathohirin, Achmad Choironi, M Rijalul Haq, M Rifai Saputra, Marzuki Bengkari, Yusuf Alatas, Muzayin Mahmud, If Soejalma, dan Hirmansyah. Sembilan mahasiswa tersebut diwajibkan untuk berdakwah selama minimal 1 tahun, kemudian kembali untuk mengambil sertifikat dan ijasah pendidikan sarjana yang telah ditempuh.

BACA JUGA  Ujian dan Pendakian Level Kehidupan

IMG-20160730-WA0002

H Tamat Anshori Ismail, ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur dalam sambutannya mengharapkan agar kerjasama ini dapat menjadi kerjasama yang berkelanjutan. Menurutnya, tidak mustahil suatu saat nanti mahasiswa peserta program kerjasama ini akan dikirim ke berbagai wilayah, khususnya di wilayah perbatasan NKRI yang mana sampai saat ini masih sangat dibutuhkan peran mubaligh yang siap berdakwah di daerah tersebut.

BACA JUGA  Galakkan Kewirausahaan, FAI UMSurabaya buka Stand Bazaar di Kampung Ramadhan

KH Syuhada Bahri dalam pidatonya menjabarkan tentang perkembangan Dakwah Islam di Indonesia. Guna membekali mahasiswa yang akan berdakwah di daerah tersebut, beliau menjelaskan tentang hal apa saja yang harus disiapkan, antara lain;  memahami visi dan misi hidup, mampu menjaga niat (nawaitu), mampu menahan ambisi. Ketiga hal tersebut sangat berkaitan erat, karena banyak contoh kegagalan dakwah di Indonesia dikarenakan penda’i yang menyatakan melaksanakan visi dan misi, padahal sejatinya mereka mendahulukan ambisinya. Apabila penda’i tersebut mendahulukan ambisinya, maka kerusakan bangsa ini akan tetap terjadi.

Komentar

komentar